oleh

BPJS Kesehatan Ajak Puskesmas Untuk Aktif Kontrol Kesehatan Pasien

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer (PMP) BPJS Kesehatan Cabang Banda Aceh, Zahlina mengajak kepada Puskesmas di Kota Banda Aceh untuk lebih aktif dalam mengawasi atau mengontrol kesehatan pasiennya terutama pasien Program Rujuk Balik (PRB).

Baca Juga: INFOGRAFIS: 10 Perguruan Tinggi Terbaik di Aceh, Kampus Kamu Urutan Berapa?

PRB ini sendiri merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama atas rekomendasi/rujukan dari dokter spesialis /subspesialis yang merawat.

Baca Juga: INFOGRAFIS: Aceh Belum Bebas HIV-Aids, Ini Sejarahnya

“Saat ini pasien atau peserta JKN-KIS masih enggan untuk mendaftar menjadi peserta PRB salah satunya karena ketidakpahaman dari peserta mengenai program ini.

Untuk itu kami berharap agar Puskesmas lebih aktif untuk memantau kesehatan pasien sehingga dapat diseleksi pasien mana yang dapat diikutkan dalam PRB karena salah satu manfaatnya adalah si pasien tidak perlu kembali ke rumah sakit hanya untuk pengambilan obat,” ungkap Zahlina.

Baca Juga: Mapesa Desak DPRK Banda Aceh Bentuk Pansus Gampong Pande

Dihadapan perwakilan Puskesmas dan Apotek mitra BPJS Kesehatan di Kota Banda Aceh pada Kegiatan Validasi Peserta PRB, Senin (28/7/2020).

Ia menambahkan, dari data yang dihimpunnya dari 6 Puskesmas di Kota Banda Aceh yaitu Kuta Alam, Lampulo, Kopelma Darussalam, Ulee Kareng, Jeulingke, dan Meuraxa terdapat 43% peserta PRB yang pasif baik yang tidak melakukan pelayanan di Puskesmas maupun tidak rutin mengambil obat di Apotek yang ditunjuk.

“Selain itu kami juga memohon agar bagi pasien yang telah terdaftar sebagai peserta PRB untuk dapat diingatkan dalam pengambilan obatnya setiap bulan dan melakukan konfirmasi langsung kepada pasien yang tidak aktif melakukan pelayanan di Puskesmas maupun tidak rutin mengambil obat di Apotek yang ditunjuk,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan dari Puskemas Meuraxa, Norma Yunita mengatakan ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pengambilan obat oleh pasien salah satunya karena pihak Apotek tidak mengizinkan untuk pengambilan obat lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.

Menanggapi keluhan tersebut, Penanggung Jawab dan Apoteker Apotek Kimia Farma Ulee Kareng Banda Aceh, Asrul Amri menyampaikan bahwa kepada pasien diberikan kelonggaran untuk pengambilan obat paling cepat 3 hari sebelum jatuh tempo jadwal pengambilan obat.

“Tujuan kami memberikan batas waktu paling cepat pengambilan obat adalah 3 hari sebelum jatuh tempo jadwal pengambilan obat adalah agar pasien tidak double dosis dalam mengkonsumsi obat karena persediaan obat sebelumnya dan agar pasien tertib serta disiplin dalam pengambilan obat sesuai jadwal sebab kami telah memperhitungkan kecukupan obat bagi si pasien setiap pengambilan obat,” ucapnya. (*)

Indeks Berita