BPBD Tamiang Selesai Perbaiki Tiga Tanggul Jebol Penyebab Banjir

banjir
BPBD Aceh tamiang memperbaiki non permanen tanggul jebol di pinggir sungai Kampung Rantua Pakam, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang pada Mei lalu. acehsatu.com/ist

ACEHSATU.COM [ ACEH TAMIANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang  telah menyelesaikan perbaikan non permanen tiga tanggul jebol penyebab banjir sejumlah kemukiman di Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

Kepala BPBD Aceh Tamiang, Syahri SP didampingi Kasie BPBD, Doni Indrawan kepada acehsatu.com, Senin (5/7/2021) mengatakan, ketiga tanggul yang sudah diperbaiki itu, tanggul pinggir Sungai Tamiang di Kampung Rantau Pakam, tanggul pinggir sungai Kampung Teluk Halban dan tanggul pinggir sungai Kampung Marlempang pada Januari 2021 lalu akibat tingginya debit Sungai Tamiang.

Ketiga tanggul ini semuanya berada ditikungan tajam Sungai Tamiang yang rawan tergerus erosi  karena tekanan kuat arus sungai tamiang saat sungai tersebut banjir besar.

BPBD Aceh tamiang memperbaiki non permanen tanggul jebol di pinggir sungai Kampung Teluk Halban, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang pada Mei lalu. acehsatu.com/ist

 “Hampir setiap tahun ketiga kampung ini banjir akibat jebolnya tanggul tersebut,” ujar  Kepala BPBD Tamiang ini.

Dampak dari banjir tersebut, merusak tanaman padi seluas 900 hektare dan sarana parasaran lainnya seperti jalan rusak, sekolah terendam, Puskesmas, sarana ibadan dan saran pemerintah bahkan sebagian petani mengalami gagal panen.

“Alhamdulillah ketiga tanggul ini sudah selesai kita perbaiki pada Mei lalu,” tambah Syahri.

Karena kewenangan sungai bukan berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Syahri berharap pemerintah pusat dan provinsi perlu kiranya melakukan langkah-langkah lebih lanjut untuk mengurangi bencana alam saat air Sungai Tamiang banjir.

banjir
Banjir disalah satu pemukiman di Aceh Tamiang. acehsatu.com/ist

Berdasarkan penelusuran Acehsatu.com, banjir bandang  yang berasal dari luapan air sungai Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang, tercatat sudah dua kali terjadi,  pada awal tahun 1996 dan akhir tahun 2006 menyebabkan 80 persen pemukiman warga tenggelam dengan ketinggian banjir 1-3 meter.

Sementara banjir tahunan hampir setiap tahun terjadi. Namun sampai saat ini, penanganan terhadap sungai Tamiang agar tidak terjadi musibah banjir bandang dari pemerintah provinsi dan pusat sangat minim, bahkan terkesan Sungai Tamiang ini tidak menjadi prioritas meski pemerintah pusat pernah mengeluarkan kebijakan darurat nasional saat banjir bandang tahun 2006 di kabupaten ini (*)