oleh

Bolehkah “Meuupat” (Ghibah) Dalam Politik?

-Religi-55 views

ACEHSATU.COM – Salah satu perbuatan yang sangat ringan dilakukan tetapi berat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak adalah ghibah, termasuk ghibah politik. Padahal, ghibah tergolong akhlak tercela yang sering kali membuat peghibah terlena dalam “keasyikan” melakukan ghibah, terutama melalui media sosial seperti WA, FB, IG, atau Twitter.

Diriwayatkan Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bertanya: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nyalah yang paling tahu.” Nabi SAW lalu men jelaskan: “Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak disukainya.” Seorang bertanya: “Bagaimana jika yang ku bicarakan itu ada pada dia?” Beliau menyatakan: “Jika apa yang engkau bicarakan itu memang ada padanya, maka engkau telah mengghibahnya. Dan jika yang kau bicarakan itu tidak ada padanya, berarti engkau telah melontarkan suatu tuduhan dusta kepadanya.” (HR Muslim).

Kampanye hitam, menebar ujaran kebencian, menjelek-jelekkan, dan menggunjingkan aib pihak lain termasuk ghibah politik yang dilarang. Para ulama membagi ghibah menjadi dua: ghibah yang dilarang dan termasuk akhlak tercela dan ghibah yang diperbolehkan (dalam situasi dan kondisi tertentu). Ghibah yang dilarang adalah ghibah yang sengaja dilakukan untuk membicarakan, menyebarluas kan, dan mem-bumbui keburu kan atau kejelekan orang lain (meskipun faktanya benar).

Menurut Imam Nawawi, “Ketahuilah bahwa ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar sesuai dengan syariat dan hal ini tidak mungkin ditempuh kecuali dengan ghibah.” Ghibah yang diperbolehkan dapat berupa: pertama, al-tazhalum, melaporkan terjadinya kezaliman. Kedua, al-isti’anah ala taghyir almunkar, meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran. Ketiga, alistifta’, meminta fatwa mengenai suatu permasalahan yang sangat bermaslahat bagi umat dan bangsa.

Keempat, tahdzir al-muslim ala al-syarr, memperingatkan Muslim agar tidak berbuat kejahatan. Kelima, al-ta’rif bi al-syakhsy, mengenalkan orang lain. Keenam, dzikru man jahara bi al-fisq wa al-bid’ah wa alkhiyanah, menyebutkan orang yang nyata-nyata berbuat kefasikan, bid’ah dan khianat. Karena ghibah politik itu dapat merusak integritas diri sendiri dan orang lain, maka kita semua perlu belajar puasa ghibah. Pertama, menyadari sepenuh hati bahwa ghibah dapat menyebabkan kemurkaan Allah SWT. Kedua, memperbanyak istighfar dan zikrullah.

Ketiga, menjauh dari majelis yang potensial menjurus kepada ghibah. Keempat, berusaha tak melibatkan diri dalam perbincangan dengan orang yang biasa berghibah.

Komentar