Bocoran Skenario Pertandingan dan Taktik Serta Susunan Pemain Itali vs Swiss Malam Ini

Bocoran Skenario Pertandingan dan Taktik Serta Susunan Pemain Itali vs Swiss Malam Ini

ACEHSATU.COM | OLAHRAGA – Italia berusaha menjadi tim pertama yang memastikan diri melangkah ke 16 Besar Euro 2020 dengan mengalahkan Swiss pada pertandingan keduanya dalam Grup A, Kamis pukul 02.00 WIB nanti di Stadio Olimpico, Roma.

Meski begitu, Italia menyadari Swiss yang memasuki putaran final dengan bekal juara grup kualifikasi seperti halnya Azzurri, bisa lebih berat ketimbang Turki, apalagi pelatihnya hafal tipikal permainan Italia sehingga bisa lebih tahu cara menyiasati juara Eropa 1968 itu.

Pelatih Swiss Vladimir Petkovic memang pernah satu setengah musim menangani Lazio yang bermarkas di Roma, kota yang menyelenggarakan pertandingan Kamis dini hari WIB nanti, sebelum menangani timnas Swiss pada 2014.

Mancini yang didukung statistik hebat yang berpihak kepada Italia, yakin bisa memetik lagi poin penuh. Dia mempercayai sekali solidnya pertahanan dan tajamnya serangan skuadnya.

Sudah sembilan pertandingan terakhir Italia tak pernah kebobolan. Performa ini bersanding akur dengan ketajaman lini serangnya. Hanya Belgia yang menyamai Italia menang 3-0 dalam laga pembuka Euro 2020 ini.

Lalu, 28 pertandingan tak terkalahkan sejak Mancini menangani Italia, membuat wajar jika pelatih ini sampai yakin Italia terus melangkah sampai final.

“Memang penting mengawali dengan baik di sini di Roma dan saya kira kami sudah memuaskan semua orang, semua pendukung dan semua orang Italia yang menonton. Tapi masih ada enam pertandingan lagi untuk dijalani dan ada banyak tim hebat,” kata Mancini setelah mengalahkan Turki pekan lalu.

Fakta dia berbicara enam pertandingan yang harus dijalani, yang berarti dua lagi pertandingan fase grup, satu 16 besar, satu perempat final, satu semifinal, dan satu final, menunjukkan optimisme Mancini yang merefleksikan optimisme Italia, bahwa mereka akan masuk final.

Tetapi sedikit yang membantah ekspektasi Mancini karena Italia memang lagi bagus-bagusnya yang tampil nyaris sempurna saat melawan Turki, sampai sejumlah kalangan menyebut Azzurri calon juara Euro 2020.

Meskipun demikian, Vladimir Petkovic meminta pemain-pemain Swiss tidak terpukau oleh performa hebat tim Italia. Dia menekankan bahwa skuadnya bisa menang melawan Italia.

“Kami menaruh respek kepada Italia, tapi tak terlalu banyak. Mereka memang sangat difavoritkan, bukan hanya dalam grup kami, tetapi secara umum dalam turnamen ini,” kata Petkovic seperti dikutip Reuters.

Petkovic berjanji menciptakan kejutan. “Kami juga memiliki kualitas dan bisa mengejutkan mereka. Kami akan berusaha membalikkan laga ini menjadi menguntungkan kami dan menjadi yang lebih cepat saat menyerang dan menciptakan peluang,” janji Petkovic.

Prediksi sebelas pemain pertama

Italia: Gianluigi Donnarumma; Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, Alessandro Florenzi, Leonardo Spinazzola; Nicolo Barella, Jorginho, Manuel Locatelli; Domenico Berardi, Ciro Immobile, Lorenzo Insigne

Swiss: Yann Sommer; Nico Elvedi, Fabian Schar, Manuel Akanji; Kevin Mbabu, Denis Zakaria, Granit Xhaka, Remo Freuler, Ricardo Rodríguez; Xherdan Shaqiri, Breel Embolo

Skenario pertandingan

Roberto Mancini sangat mungkin mempertahankan susunan pemain yang mendominasi Turki pekan lalu. Itu artinya duo berpengalaman Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini tetap dipasang sebagai palang pintu di depan kiper Gianluigi Donnarumma.

Demikian pula dengan bek sayap. Duet Alessandro Florenzi dan Leonardo Spinazzola yang cemerlang dalam laga pembuka, akan mendampingi duo bek tengah itu dari kedua sayap pertahanan Azzurri.

Tak hanya menutup gerakan maju Swiss dari sayap, Florenzi – Spinazzola akan berusaha menggoyahkan benteng pertahanan Swiss lewat tusukkan jauhnya ke sepertiga terakhir lapangan untuk sekaligus merajalela di sana.

Untuk mengisi kemungkinan posisi lowong saat duet bek sayap ini terlalu jauh ke depan sehingga terlambat turun, Jorginho yang menjadi gelandang bertahan siap bertransformasi menjadi bek guna melapis dua bek tengah di jantung pertahanan Italia. Jika Jorginho seorang tak cukup, maka gelandang Manuel Locatelli yang piawai mencuri bola, sudah siap mendampingi Jorginho bertugas.

Sementara gelandang Inter Milan Nicolo Barella akan melengkapi trio gelandang, namun yang ini lebih ditugaskan membantu serangan karena kelihaiannya dalam memainkan bola. Dia akan berkomunikasi terus dengan Spinazzola di sektor kiri permainan Italia untuk memudahkan proses transisi bola dan serangan dari tengah ke depan.

Di barisan serang, ada duo sayap Domenico Berardi dan Lorenzo Insigne. Kedua sayap ini senang menerobos tengah pertahanan lawan dari sektor sayap. Berardi memang sangat berbahaya saat melalukan terobosan seperti ini sebelum melepaskan umpan kepada striker Ciro Immobile.

Seandainya rencana ini kurang berhasil terhadap Swiss yang sepertinya bakal berbeda dari Turki, maka Federico Chiesa menjadi opsi untuk Berardi. Tapi jika masalahnya ada pada Immobile, maka Andrea Belloti yang bakal menjadi alternatifnya.

Swiss sudah pasti mempelajari bagaimana Italia menaklukkan Turki, sebaliknya mengevaluasi permainan mereka saat ditahan seri oleh Wales. Evaluasi itu salah satunya mengenai tumpulnya serangan mereka.

Menghadapi Italia yang terbukti bisa menciptakan tiga gol, Swiss bisa berubah dari 3-4-1-2 menjadi 3-5-2. Dalam formasi ini, Haris Seferovic mungkin dipaksa bertukar jadwal dari biasanya starter untuk memberi tempat kepada Breel Embolo yang mencetak gol ke gawang Waels, berganti mitra dengan Xherdan Shaqiri.

Sementara untuk mengisi posisi Shaqiri yang didorong maju, pelatih Vladimir Petkovic memasang gelandang Atalanta Remo Freuler.

Petkovic merasa Shaqiri lebih cocok menjadi mitra Embolo di depan serangan Swiss.

Remo Freuler sendiri bakal sejajar dengan gelandang Borussia Monchengladbach Denis Zakaria dan Granit Xhaka di sektor tengah. Zakaria dan Freuler adalah tipikal ngotot dalam memperebutkan bola, sedangkan Xhaka diorientasikan aktif membantu serangan.

Manuver mereka tak lepas dari dukungan dua bek sayap Kevin Mbabu dan Ricardo Rodriguez, yang di satu sisi membendung gempuran Italia dari sayap, dan di sisi lain menyokong para pemain sayap dan striker.

Untuk trio pertahanan, Petkovic sulit mengotak-atik tiga bek Fabian Schar, Nico Elvedi dan Manuel Akanji, apalagi ketiga bek ini piawai dalam menuntaskan situasi set-piece.

Statistik kunci kedua tim

Italia menang 3-0 melawan Turki dalam laga pertama, sedangkan Swiss seri 1-1 melawan Wales dalam laga perdana mereka.

Italia memiliki catatan mengesankan ketika melawan Swiss. Dari 58 pertandingan di antara kedua negara, 28 laga di antaranya dimenangkan Italia. Azzurri juga hanya kalah enam kali.

Sejak ditangani Roberto Mancini, Italia yang tragis tidak lolos ke putaran final Piala Dunia 2018, berubah menjadi kekuatan mengerikan. Dalam 33 pertandingan selama Mancini menjadi pelatih, Italia hanya dua kali kalah, dengan persentase kemenangan 72 persen atau 24 kali menang

Seri melawan Wales dalam laga pembuka fase grup Euro 2020 menghentikan laju kemenangan Swiss dalam enam pertandingan terakhir sejak November 2020. Swiss juga tak terkalahkan dalam 14 dari 15 pertandingan terakhirnya.

Italia selalu menciptakan paling sedikit dua gol dalam 11 pertandingan terakhirnya. Italia juga memenangkan 11 pertandingan putaran final Euro terakhirnya.

Meski begitu, Italia menyadari Swiss yang memasuki putaran final dengan bekal juara grup kualifikasi seperti halnya Azzurri, bisa lebih berat ketimbang Turki, apalagi pelatihnya hafal tipikal permainan Italia sehingga bisa lebih tahu cara menyiasati juara Eropa 1968 itu.

Pelatih Swiss Vladimir Petkovic memang pernah satu setengah musim menangani Lazio yang bermarkas di Roma, kota yang menyelenggarakan pertandingan Kamis dini hari WIB nanti, sebelum menangani timnas Swiss pada 2014.

Mancini yang didukung statistik hebat yang berpihak kepada Italia, yakin bisa memetik lagi poin penuh. Dia mempercayai sekali solidnya pertahanan dan tajamnya serangan skuadnya.

Sudah sembilan pertandingan terakhir Italia tak pernah kebobolan. Performa ini bersanding akur dengan ketajaman lini serangnya. Hanya Belgia yang menyamai Italia menang 3-0 dalam laga pembuka Euro 2020 ini.

Lalu, 28 pertandingan tak terkalahkan sejak Mancini menangani Italia, membuat wajar jika pelatih ini sampai yakin Italia terus melangkah sampai final.

“Memang penting mengawali dengan baik di sini di Roma dan saya kira kami sudah memuaskan semua orang, semua pendukung dan semua orang Italia yang menonton. Tapi masih ada enam pertandingan lagi untuk dijalani dan ada banyak tim hebat,” kata Mancini setelah mengalahkan Turki pekan lalu.

Fakta dia berbicara enam pertandingan yang harus dijalani, yang berarti dua lagi pertandingan fase grup, satu 16 besar, satu perempat final, satu semifinal, dan satu final, menunjukkan optimisme Mancini yang merefleksikan optimisme Italia, bahwa mereka akan masuk final.

Tetapi sedikit yang membantah ekspektasi Mancini karena Italia memang lagi bagus-bagusnya yang tampil nyaris sempurna saat melawan Turki, sampai sejumlah kalangan menyebut Azzurri calon juara Euro 2020.

Meskipun demikian, Vladimir Petkovic meminta pemain-pemain Swiss tidak terpukau oleh performa hebat tim Italia. Dia menekankan bahwa skuadnya bisa menang melawan Italia.

“Kami menaruh respek kepada Italia, tapi tak terlalu banyak. Mereka memang sangat difavoritkan, bukan hanya dalam grup kami, tetapi secara umum dalam turnamen ini,” kata Petkovic seperti dikutip Reuters.

Petkovic berjanji menciptakan kejutan. “Kami juga memiliki kualitas dan bisa mengejutkan mereka. Kami akan berusaha membalikkan laga ini menjadi menguntungkan kami dan menjadi yang lebih cepat saat menyerang dan menciptakan peluang,” janji Petkovic.

Prediksi sebelas pemain pertama

Italia: Gianluigi Donnarumma; Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, Alessandro Florenzi, Leonardo Spinazzola; Nicolo Barella, Jorginho, Manuel Locatelli; Domenico Berardi, Ciro Immobile, Lorenzo Insigne

Swiss: Yann Sommer; Nico Elvedi, Fabian Schar, Manuel Akanji; Kevin Mbabu, Denis Zakaria, Granit Xhaka, Remo Freuler, Ricardo Rodríguez; Xherdan Shaqiri, Breel Embolo

Skenario pertandingan

Roberto Mancini sangat mungkin mempertahankan susunan pemain yang mendominasi Turki pekan lalu. Itu artinya duo berpengalaman Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini tetap dipasang sebagai palang pintu di depan kiper Gianluigi Donnarumma.

Demikian pula dengan bek sayap. Duet Alessandro Florenzi dan Leonardo Spinazzola yang cemerlang dalam laga pembuka, akan mendampingi duo bek tengah itu dari kedua sayap pertahanan Azzurri.

Tak hanya menutup gerakan maju Swiss dari sayap, Florenzi – Spinazzola akan berusaha menggoyahkan benteng pertahanan Swiss lewat tusukkan jauhnya ke sepertiga terakhir lapangan untuk sekaligus merajalela di sana.

Untuk mengisi kemungkinan posisi lowong saat duet bek sayap ini terlalu jauh ke depan sehingga terlambat turun, Jorginho yang menjadi gelandang bertahan siap bertransformasi menjadi bek guna melapis dua bek tengah di jantung pertahanan Italia. Jika Jorginho seorang tak cukup, maka gelandang Manuel Locatelli yang piawai mencuri bola, sudah siap mendampingi Jorginho bertugas.

Sementara gelandang Inter Milan Nicolo Barella akan melengkapi trio gelandang, namun yang ini lebih ditugaskan membantu serangan karena kelihaiannya dalam memainkan bola. Dia akan berkomunikasi terus dengan Spinazzola di sektor kiri permainan Italia untuk memudahkan proses transisi bola dan serangan dari tengah ke depan.

Di barisan serang, ada duo sayap Domenico Berardi dan Lorenzo Insigne. Kedua sayap ini senang menerobos tengah pertahanan lawan dari sektor sayap. Berardi memang sangat berbahaya saat melalukan terobosan seperti ini sebelum melepaskan umpan kepada striker Ciro Immobile.

Seandainya rencana ini kurang berhasil terhadap Swiss yang sepertinya bakal berbeda dari Turki, maka Federico Chiesa menjadi opsi untuk Berardi. Tapi jika masalahnya ada pada Immobile, maka Andrea Belloti yang bakal menjadi alternatifnya.

Swiss sudah pasti mempelajari bagaimana Italia menaklukkan Turki, sebaliknya mengevaluasi permainan mereka saat ditahan seri oleh Wales. Evaluasi itu salah satunya mengenai tumpulnya serangan mereka.

Menghadapi Italia yang terbukti bisa menciptakan tiga gol, Swiss bisa berubah dari 3-4-1-2 menjadi 3-5-2. Dalam formasi ini, Haris Seferovic mungkin dipaksa bertukar jadwal dari biasanya starter untuk memberi tempat kepada Breel Embolo yang mencetak gol ke gawang Waels, berganti mitra dengan Xherdan Shaqiri.

Sementara untuk mengisi posisi Shaqiri yang didorong maju, pelatih Vladimir Petkovic memasang gelandang Atalanta Remo Freuler.

Petkovic merasa Shaqiri lebih cocok menjadi mitra Embolo di depan serangan Swiss.

Remo Freuler sendiri bakal sejajar dengan gelandang Borussia Monchengladbach Denis Zakaria dan Granit Xhaka di sektor tengah. Zakaria dan Freuler adalah tipikal ngotot dalam memperebutkan bola, sedangkan Xhaka diorientasikan aktif membantu serangan.

Manuver mereka tak lepas dari dukungan dua bek sayap Kevin Mbabu dan Ricardo Rodriguez, yang di satu sisi membendung gempuran Italia dari sayap, dan di sisi lain menyokong para pemain sayap dan striker.

Untuk trio pertahanan, Petkovic sulit mengotak-atik tiga bek Fabian Schar, Nico Elvedi dan Manuel Akanji, apalagi ketiga bek ini piawai dalam menuntaskan situasi set-piece.

Statistik kunci kedua tim

Italia menang 3-0 melawan Turki dalam laga pertama, sedangkan Swiss seri 1-1 melawan Wales dalam laga perdana mereka.

Italia memiliki catatan mengesankan ketika melawan Swiss. Dari 58 pertandingan di antara kedua negara, 28 laga di antaranya dimenangkan Italia. Azzurri juga hanya kalah enam kali.

Sejak ditangani Roberto Mancini, Italia yang tragis tidak lolos ke putaran final Piala Dunia 2018, berubah menjadi kekuatan mengerikan. Dalam 33 pertandingan selama Mancini menjadi pelatih, Italia hanya dua kali kalah, dengan persentase kemenangan 72 persen atau 24 kali menang

Seri melawan Wales dalam laga pembuka fase grup Euro 2020 menghentikan laju kemenangan Swiss dalam enam pertandingan terakhir sejak November 2020. Swiss juga tak terkalahkan dalam 14 dari 15 pertandingan terakhirnya.

Italia selalu menciptakan paling sedikit dua gol dalam 11 pertandingan terakhirnya. Italia juga memenangkan 11 pertandingan putaran final Euro terakhirnya.