BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Terjadi di Aceh Pekan Depan

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh memprediksi, cuaca ekstrem masih terjadi hingga pekan depan akibatnya adanya daerah belokan angin di Provinsi Aceh.
Dok ANTARA

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh memprediksi, cuaca ekstrem masih terjadi hingga pekan depan akibatnya adanya daerah belokan angin di Provinsi Aceh.

“Hasil analisa kita, bahwa hingga awal pekan depan share line (belokan angin) masih akan terjadi di Aceh,” ucap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda, Zakaria Ahmad di Banda Aceh, Ahad (25/10/2020).

Ia menerangkan, akibat belokan angin tersebut menimbulkan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir, dan angin kencang pada sejumlah wilayah di provinsi paling utara Sumatera.

Cuaca ekstrem ini terjadi, jelas dia, dipicu oleh perlambatan massa udara berupa pembentukan awan-awan konvektif, maka mengakibatkan penumpukan massa udara di lapisan atmosfer.

Salah satu fenomena alam ini juga mendukung terjadinya pertumbuhan awan-awan hujan di sekitar wilayah Aceh, sehingga menimbulkan potensi hujan pada siang, sore hingga malam hari.

“Awal pekan depan Senin (26/10), hujan berpotensi turun di Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, dan Pidie Jaya,” terangnya.

“Sedangkan hari ini cuaca ekstrem berpeluang terjadi di wilayah Aceh Timur, Aceh Tamiang, Langsa, dan Aceh Jaya,” kata dia.

Ia juga menyebut, akibat adanya belokan angin di provinsi paling barat Indonesia tidak menyebabkan potensi gelombang tinggi laut, terutama di wilayah perairan dalam beberapa hari ke depan.

Meski dampaknya tidak menimbulkan gelombang tinggi, lanjutnya, tapi pihaknya meminta pengguna tranportasi laut dan nelayan setempat agar tetap mewaspada gelombang setinggi 3 meter lebih.

“Berkisar 2,5 hingga 3 meter di wilayah perairan Banda Aceh-Sabang, perairan utara Sabang, perairan barat-selatan, Selat Malaka bagian utara, Samudera Hindia barat Aceh, dan sekitarnya,” tutur Zakaria. (*)