oleh

BJ Habibie di Mata Rakyat Aceh

ACEHSATU.COM – Innalillahi wainnailaihi rajiun. Hari ini, Rabu, 11/09/2019, tepatnya pukul 18.05 waktu Indonesia bagian barat. Rakyat Indonesia kembali kehilangan sosok Negarawan, mantan presiden yang telah meletakkan pondasi demokrasi paska tumbangnya rezim orde baru pada 1999 kini telah tiada.

Kepulangan BJ Habibie kehadirat Allah Swt setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Kabar soal meninggalnya BJ Habibie disampaikan oleh Kepala RSPAD Dr Terawan, Rabu (11/9/2019).

Beliau wafat pada usia 83 tahun setelah sebelumnya hidup seorang diri sejak ditinggal mendiang istri tercinta Ainun. Dari informasi yang beredar beliau di rawat karena kondisi kesehatan yang menurun. Diduga karena kelelahan sehingga berdampak pada jantungnya.

Putra mantan Presiden RI Ke-3, Thareq Kemal Habibie, mengonfirmasi meninggalnya sang ayah dan sekaligus mengapresiasi tim dokter yang selama ini menangani sang ayah selama dalam perawatan.

Bagi Rakyat Aceh kepergian Habibie yang mendadak telah menyisakan kesedihan dan kehilangan.

Maklum, Habibie merupakan tokoh yang tidak bisa dilupakan begitu saja kontribusinya bagi Aceh termasuk keterlibatan beliau pada masa-masa kelam Aceh dulu saat konflik sedang berkecamuk.

Pada 26 Maret 1999, Presiden BJ Habibie saat itu berpidato di hadapan ribuan masyarakat Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Ia meminta maaf kepada seluruh rakyat Aceh atas berbagai kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi selama penerapan daerah operasi militer (DOM) sejak 1989-1998.

Permintaan maaf Habibie secara terbuka kepada masyarakat Aceh yang saat itu sangat kecewa terhadap Pemerintah Indonesia tergolong langkah gentleman seorang pemimpin negara. Ucapan itu juga dia ucapkan di Masjid Raya Baiturrahman. Begitu sakral dan terasa tulus.

Juga pada masa Presiden BJ Habibie Aceh seolah mendapatkan angin segar. Kebijakan Habibie yang memberikan status referendum kepada Timor Leste (dulu: Timor-Timur) membuat Aceh bertambah semangat menggaungkan referendum. Namun, Habibie tak punya “taring” untuk Aceh seperti ia menandatangani referendum Timor Leste.

Habibie bersedia memenuhi apapun permintaan rakyat Aceh untuk menyelesaikan masalah Aceh asal tidak dilakukan referendum.

Presiden Habibie bersikukuh akan mengupayakan untuk tidak ada referendum, baik 10 atau 20 tahun mendatang. ‘Karena kalau ada bayang-bayang referendum itu, nanti rasa kerukunan bangsa, persatuan, dan kesatuan bangsa bisa rusak. Begitu ia berpandangan.

Sehingga untuk mewujudkan strateginya menyelesaikan masalah Aceh dengan pemerintah tanpa Aceh lepas seperti Timor Timur maka Habibie pun memberikan sejumlah janji untuk membangun Aceh kembali yang sudah terpuruk.

Kebijaksanaan seorang Habibie mengedepankan dialogis dalam mengurai masalah pelik Aceh patut diancungi jempol.

Meskipun membutuhkan waktu panjang dan berliku namun Habibie sangat konsisten dan koperatif dalam membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh Aceh kala itu. Umumnya, masyarakat menilai, sikap Habibie dipandang cukup kompromis dan aspiratif.

Kini atas jasa besar Habibie, Rakyat Aceh telah menikmati hidup damai dan sejahtera. Walaupun masih menyisakan banyak janji yang belum ditunaikan. Namun Habibie tetaplah sosok yang telah mewarnai kedamaian di bumi Aceh tercinta.

Segenap warga Aceh dan anak-anak bangsa mengucapkan selamat jalan Prof. Dr. H. BJ Habibie. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa-dosamu dan menempatkan engkau ditaman surgaNya. Teriring seluruh kebaikan dan doa, kami panjatkan hanya untuk bapak bangsa BJ Habibie. (*)

Komentar

Indeks Berita