Budaya dan Seni

Bertemu Kembali Sejak 20 Tahun Silam Din Saja dan Rusli Juned Dua Seniman Aceh

Dialog antara keduanya melibatkan berbagai gagasan dan ulang kaji sejarah perjalanan berkesenian selama ini di Aceh.

Foto | Muhrain

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Berbeda bidang, Rusli Juned adalah pelukis sedangkan Din Saja adalah penyair, dua seniman Aceh ini berkesempatan bertemu kembali sejak lama tak berkesempatan silaturrahmi, sekitar 20 tahun yang lalu di era 1998 keduanya terlibat rutinitas di Taman Budaya Aceh, Rabu (12/9/2018).

Pertemuan tersebut dimediasi oleh Muhrain, Rusli dan Din bertemu di Warung Kande, Jalan AMD, Batoh. Din Saja didampingi anaknya, Aulia (mahasiswa jurusan Karawitan di ISBI Aceh), serta turut rekan Zaky, mahasiswa semester 7 Jurusan Seni Rupa Murni, ISBI Aceh.

Dialog antara keduanya melibatkan berbagai gagasan dan ulang kaji sejarah perjalanan berkesenian selama ini di Aceh.

BACA: Kesenian dalam Pemerintahan Baru Aceh [Seniman Din Saja Menulis]

“Iya, kami sudah pernah kenal, sering bertemu di Taman Budaya di era tahun 1990-an, bedanya Rusli Juned sedang kuliah masa itu, kesibukan saya juga menjadikan dunia kesusastraan masa itu begitu terlibat,” ungkap Din Saja.

Din Saja dalam kesempatan itu menyerahkan karya Antologi Puisi miliknya berjudul “Hanya Melihat Hanya Mengagumi” Cetakan I, September 2017, penerbit Imaji Indonesia.

Buku Antologi milik Din Saja tersebut meraih penghargaan pada sayembara Hari Puisi Indonesia 2017 silam, sebagai simbolik pertemuan ditandai tukar-menukar karya.

Pada Selasa, 11 September 2018 Zaky, pelukis muda menyerahkan pula lukisan sketsa yang bergambar wajah Rusli Juned, demikian juga sebaliknya, pelukis Rusli Juned, alumni ISI Jogyakarta 1994, Jurusan Seni Rupa dan Desain turut berbalas menyerahkan lukisan sketsa miliknya bergambar Zaki.

Agaknya saling berbalas karya menjadi keasyikan sendiri di kalangan seniman, perhelatan karya menjadi nilai silaturrahmi tersendiri dalam kalangan seniman di Aceh.

BACA: Seniman dan Kehausan Lembaga, Apa Guna?

Era masa kini dalam berkesenian memang berbeda, Din Saja menyebutkan pola berkarya seniman-seniman muda masa sekarang jauh lebih praktis bahkan prakmatis meski tidak semuanya, beda halnya jika dibandingkan masa mereka berkiprah 1990-an yang lalu.

“Ibaratnya berkiprah di masa muda adalah naik gunung, namun jika di masa kini sebagaimana saya dan Pak Rusli Juned adalah masanya turun gunung,” ungkap Din Saja.

Lanjut Din, masa dulu suasana berkesenian jauh lebih kondisional, mungkin akibat tantangan masa itu mengharuskan kreatifitas seniman lebih dituntut, apalagi situasi keamanan Aceh tak seperti masa kini, jauh lebih bebas dan demokratis.

Nilai berbanding dengan makna dalam kehidupan manusia termasuk manusia seniman memberikan pengaruh yang terkemuka jika di masa dulu, beda dengan masa sekarang manusia cenderung lepas pandang antara kaitan nilai dengan maknanya.

“Contohnya di masa dulu bisa merokok sebatang dan ada kopi pancung di gelas, itu sudah suatu nikmat dan bermakna, beda di masa sekarang, berlebihan pun tetap beda nikmatnya, saya kira memang proses berkesenian dituntun dengan keberhasilan menghadapi tantangan, tidak manja,” papar Din Saja.

“Ya, kami sepakat bahwa nilai-nilai berkesenian lain masa lain nilai tantangannya, kami bersyukur terus memiliki kesempatan untuk berkarya hingga masa sekarang, lebih bahagia bila kehadiran seniman di Aceh mampu mengukuhkan kebudayaan Aceh yang tinggi,” tutup Rusli Juned mengakhiri perbincangan refleksi berkesenian masa ke masa. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top