Bendera Boleh Warna Apa Saja, Namun Hati Tetap Aceh

Tidak hanya menurunkan tingkat kepercayaan kepada pemerintah, rakyat Aceh juga menilai Pemerintah Aceh sendiri tidak berbuat banyak untuk mengimplementasikan kewenangan yang ada seperti tercantum dalam UU PA (Undang-undang Pemerintah Aceh) termasuk MoU Helsinki.
Hamdani.

ACEHSATU.COM Tujuh puluh lima tahun sudah “Kerajaan Aceh Darussalam” meleburkan diri ke pangkuan ibu pertiwi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahkan Aceh lah yang memerdekakan negeri tersebut.

Itulah sebabnya mengapa Aceh digelar sebagai daerah modal meskipun saat ini mereka kerap melupakan jasa Aceh. Justru Aceh tak jarang disakiti dan dikhianati.

Kesediaan tokoh-tokoh Aceh, Ulama, dan para pejuang yang saat itu sedang mempertahankan harkat dan martabat bangsa Aceh yang ingin dikotori oleh kaum kafir Belanda untuk bergabung membantu memerdekakan Indonesia, tidak terlepas karena siasat yang dimainkan oleh Soekarno kala itu.

Setelah Indonesia merdeka maka Presiden Soekarno pun satu demi satu janji yang pernah diikrarkan mulai dikhianati.

Mulai dari peleburan Aceh sebagai bagian dari provinsi Sumatera Utara hingga tidak adanya kebebasan menjalankan syariat Islam sesuai janjinya dengan para ulama.

Akibatnya, Aceh merasa telah ditipu oleh Indonesia dan mulai melakukan perlawanan.

Sehingga terjadilah berbagai peperangan dan konflik berkecamuk di bumi Aceh.

Termasuk konflik antara GAM dan Indonesia memakan waktu paling lama.

Bukan hanya makan waktu namun juga memakan korban warga sipil yang tidak sedikit.

Kini setelah 15 tahun MoU Helsinki yang ditandatangani kedua pihak (RI dan GAM) sebagai tonggak baru perdamaian di Aceh.

Namun semangat Aceh untuk berdiri sendiri sebagai negara berdaulat tidak pernah padam.