Belajar Dari Andalusia

Oleh: Muhammad Meuraksa

ACEHSATU.COM – Dalam beberapa hari yang lalu, jagat maya sempat dihebohkan dengan pemberitaan mengenai salah satu warga Aceh yang ‘berganti’ keyakinan. Dan ini bukan kasus pertama, jauh sebelumnya juga ada beberapa warga Aceh yang bernasib demikian.

Walaupun beberapa di antaranya berhasil disyahadat ulang.

Berdasarkan keterangan, sebagian besar mengaku terpengaruh karena faktor kesempitan ekonomi dan biaya kebutuhan hidup.

Lantas benarkah demikian?

Perspektif undang-undang memang menjamin kebebasan beragama, dan itu mutlak ranah privat. Namun sebuah ironi ketika faktor kemiskinan justru terkadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menjalankan misi pemurtadan dalam masyarakat, dan sebuah pilu apabila itu terjadi di tanah Aceh, tanah di mana pelaksanaan syariat Islam dijalankan dengan perjuangan yang sangat mahal.

Sebelum mengulas lebih jauh, kita harus sadar bahwasanya konsekuensi murtad dalan Islam sangatlah besar.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi laa ilaaha illallah dan bahwa aku utusan Allah, kecuali karena tiga hal: nyawa dibalas nyawa, orang yang berzina setelah menikah, dan orang yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.” (HR. Bukhari 6878, Muslim 1676, Nasai 4016, dan yang lainnya).

Dalam Islam, ‘Uqubah bagi pelaku Riddah adalah hukuman mati, kecuali bertaubat dengan sebenarnya taubat dan kembali ke pangkuan Islam.

Problem ekonomi dan kebutuhan hidup sejatinya bukanlah alasan mutlak seseorang berpindah keyakinan, karena sepahit apapun hidup Islam selalu memberikan solusi.

Kendala utamanya adalah bicara keimanan dan sejauh mana ia menguasai kedalaman wawasan agama.

Jauh sebelum kejayaan Islam, para sahabat lebih dahulu menghadapi berbagai macam kenyataan ketika mereka harus diultimatum antara hidup dan mati, memilih Islam atau berada di luar Islam. Dan demi mempertahankan keimanan yang benar, mereka rela mati dan disiksa dengan siksaan yang pedih demi mempertahankan keimanan yang benar.

Kondisi ekonomi dengan resiko nyawa tentunya berbeda, dimana nyawa adalah pilihan terakhir antara hidup dan mati. Dan dari perihal tersebut, para sahabat teguh pada keimanan dan mereka kukuh pada keislaman.

Islam tidak hanya berbicara tentang agama dan ketuhanan saja, tetapi lebih dari itu semua. Aspek sosial, politik dan ekonomi adalah salah satu acuan utama yang sangat diperhatikan, dan Rasulullah Saw sebagai praktisi pertama telah mengajarkan itu semua kepada kaum muslimin.

Bicara kesempitan ekonomi dan kemiskinan, Rasulullah Saw dan beberapa para sahabat dahulu juga hidup dalam kehidupan yang berkecukupan/kesederhanaan.

Dari sikap ini mestinya kita belajar, seburuk apapun kondisi ekonomi bukanlah alasan kita untuk “menjual agama”.

Peradaban Islam Di Andalusia

Andalusia (Spanyol) adalah titik awal penyebaran Islam di Eropa. Dan kekuasaan Islam di sana pernah mencapai puncak keemasan di bidang ilmu pengetahuan dan budaya.

Peradaban Andalusia yang kosmopolitan, menghargai perbedaan, dan mendorong ilmu pengetahuan yang berkemajuan, hingga Andalusia menjadi menara ilmu dan agama di jantung eropa.

Andalusia mencapai puncak keemasan pada abad ke-10 dan 11, berkuasa selama lebih kurang 800 tahun.

Pada periode 912-1013 M, Abdurrahman An-Nashir salah seorang penguasa Andalusia mendirikan Universitas Cordova sehingga Andalusia mengalami kejayaan. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku, masyarakat pada masa ini dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi.

Dan yang seperti kita ketahui, di zaman keemasan Andalusia juga terlahir beberapa ilmuan, salah satunya ilmuan besar ekonomi yaitu Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai bapak ekonomi Islam.

Selain itu juga ahli-ahli di bidang lain, seperti Ibnu Rusyd. Ia memiliki gelar “sang komentator besar” karena kontribusinya terhadap pemikiran dan peradaban di timur dan barat, adalah sosok penerjemah terbaik pemikiran Aristoteles.

Ibnu Rusyd juga dikenal sebagai “bapak akal sehat” yang menguasai banyak bidang ilmu, seperti al-Qur’an, fisika, matematika, kedokteran, filsafat, biologi, dan astronomi.

Dari beragam momen-momen indah di tanah Andalusia, namun harus memiliki akhir kisah yang pilu. Persatuan Islam yang mulai lemah hingga konflik internal karena kekuasaan di kalangan bangsawan menjadi titik kelemahan.

Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengoboknya dari dalam dan luar.

Konflik internal ini berujung perebutan kekuasaan terjadi di antara para pemimpin muslim. Umat Islam menjadi semakin lemah. Sampai pada akhirnya Raja Ferdinand dan Ratu Isabella berhasil menaklukkan kekuasaan Islam, setelah Granada benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia jatuh ke tangan bangsa eropa.

Seiring jatuhnya pemerintahan Islam, peninggalan Islam dibakar. Ribuan koleksi perpustakaan dihanyutkan ke sungai. Masjid-masjid dialihfungsikan menjadi gereja. Pemurtadan terjadi di mana-mana. Eksekusi massal, pengusiran, serta berbagai tindak kesewenang-wenangan harus pula dialami umat Islam.

Padahal, ketika pemerintahan Islam berkuasa, warga non-muslim yang tunduk pada pemerintah, diperlakukan secara baik. Mereka juga diberi kebebasan memilih agama. Meskipun demikian, bukti kemajuan peradaban Islam di Andalusia masih terlihat dengan jelas.

Dengan berakhirnya pemerintahan Islam ini, berarti saat itu lenyaplah peradaban besar yang pernah dikembangkan oleh Islam di eropa selama abad pertengahan. Kaum muslimin dilarang menganut Islam, dan dipaksa untuk murtad.

Maka untuk membedakan mana orang yang sudah murtad dan mana yang belum adalah dengan cara melihat seorang Muslim menggunakan baju seragam dan topi berbentuk kerucut dengan nama sanbenito.

Itulah Andalusia, sepotong surga yang hilang.

Walaupun pada akhirnya terusir secara kejam, akan tetapi Islam telah berjasa terhadap Spanyol dan Eropa.

Andalusia (Spanyol) harus menjadi pelajaran bagi kita hari ini, betapa kejayaan Islam di sana yang pada akhirnya harus hilang.

Satu sisi, mungkin kita juga belajar dari sejarah endatu Aceh dulu ketika upaya kristenisasi kolonial Belanda yang tidak pernah berhasil.

“Tegakkan Islam dalam dirimu, niscaya Islam akan tertegak di atas bumimu.” ujar Hasan al-Banna. (*)

Wassalam

(Penulis Adalah Pemerhati Sosial dan Penikmat Sanger Berdomisili di Kembang Tanjong, Pidie).