Editorial

‘Bek Bak Ceupueup Boh Puuk Rhoe Breuh Lam Eumpang’

Dan tidak ada salahnya, pepatah lama ini menjadi nasehat atau intropeksi atas rasa ‘ketamakan’ kita yang berlebihan.

Foto | ilustrasi

Ada satu pepatah lama yang sangat populer di kalangan masyarakat Aceh, ‘Bek Bak Ceupueup Boh Puuk Rhoe Breuh Lam Eumpang.

Maksudnya, jangan sampai karena mengejar sesuatu yang belum ada (pasti), maka sesuatu yang sudah ada itu akan hilang.”

Begitulah diantara maksud dari pepatah ini yang mengisyaratkan nasehat agar kita tidak bersikap tamak dan bersyukur atas apa yang sudah diperoleh.

Tamak dalam keilmuan ekonomi tentu berbeda dengan pandangan sosioreligi.

Karena kita tahu, dalam teori ekonomi modern, tamak menjadi satu kata kunci sukses dalam berwirausaha. Meski pandangan dogmatis sendiri menyebut tamak itu adalah prilaku setan.

Namun, dalam maksud postif, sikap ‘tamak’ juga kadang bisa dibenarkan jika melihat tempat dan situasinya.

Misalnya saja, soal perkembangan perekonomian Aceh saat ini, ‘tamak’ akan investasi memang seakan dibenarkan karena sangat dibutuhkan.

Secara ekonomi, Aceh sekarang memang harus berlaku ‘tamak.’ Karena dengan itu melahirkan motivasi memajukan perekonomian yang belum bergeliat lagi sejak konflik tiga dasawarsa ini berakhir.

Adalah sikap Gubernur kita saat ini yang bergerilya ke penjuru dunia untuk menarik kerjasama berwirausaha. Karena kita tahu, usaha yang tidak mudah itu mendapat dukungan nyata dari para pengusaha dunia. Misalnya dari Turki dan Rusia.

Apa yang sudah dilakukan Gubernur di depan pengusaha di Moskow, dan juga pada acara Istanbul Coffee Festival (ICF) dan Istanbul-Aceh Business Investment  Forum di Istanbul, Turki, pada 21- 24 September, sekali lagi harus kita apresiasikan.

Bahkan, ‘pelesir’ sang Gubernur ke Qatar untuk menarik pengusaha kaya padang pasir itu untuk berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun-Lhokseumawe.

Irwandi menawarkan sektor infrastruktur, transportation, dan bidang pertanian serta perkebunan.

Kita tentu sangat setuju dengan apa yang dilakukan Kepala Pemerintah Aceh dalam menwujudkan tatanan pemerintahan sendiri (self goverment), khususnya kemandirian dalam membangun perekonomian.

Tapi, ada satu hal yang masih membingungkan kita sebagai mayarakat Aceh saat ini. Ternyata banyak juga investasi yang sudah menapak di Aceh, tapi cenderung statis. Tidak bergerak ke arah berkembang, dan malah terkesan berjalan dengaan penuh ‘kerumitan.’ Ditaambah lagi tidak adanya penyelesaian dari pemerintah.

Sebut saja Pabrik Semen Laweung dan PT Medco E&P Malaka, dan PT Perta Arun Gas (PAG). Persoalan pembebasan lahan masih menjadi penghalang besar investasi di kawasan Laweung, Pidie ini.

PT Medco juga sudah mulai memproduksi gas awal tahun 2018 dengan target awal 5 juta kaki kubik gas hingga mencapai 63 juta kaki kubik gas pada Juli-Agustus.

Investasi besar ini juga saat ini masih berjalan bak siput. Faktor terbesarnya adalah proses aktivitas pengerjaan di lapangan yang bermasalah dengan isu prioritas tenaga kerja lokal.

“Dan, kita sangat paham, setiap kali akan berioperasinya perusahaan besar di daerah ini, persoalan yang selalu muncul adalah soal tenaga kerja. Kami sendiri pernah merasakan bagaimana sulitnya menyelesaikan masalah ini,” cerita General Manager PT.Medco, Herman baru-baru ini kepada media lokal di Aceh.

Ia menyiratkan ‘kerumitan’ yang harus dilalui dengan segudang masalah yang tidak mudah diselesaikan, terutamaa soal proses rekrutmen tenaga kerja.

Saat ini, Medco memperkerjakan 3.738 orang, dengan komposisi 59 persen warga Aceh, dan 41 persen profesional luar Aceh.

PAG juga akan fasilitas pengolah sulfur dan kondensat di Lhokseumawe. Dan dikuti Medco EP Malaka yang juga akan memproduksi kondensat di Blok A.

Tidak salah juga jika akhirnya kita bertanya atas kebingungan ini, kenapa pemerintah tidak bisa menjamin investasi yang sudah ada bisa segera menjadi nyata.

Dan tidak salahnya kita kembali bertanya atas apa yang sudah kita sebagai rakyat dan pemerintah lakukan.

Dan tidak ada salahnya, pepatah lama ini menjadi nasehat atau intropeksi atas rasa ‘ketamakan’ kita yang berlebihan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top