oleh

Begini Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Aidh Al-Qarni

ACEHSATU.COM – Tulisan ini kita awali dengan sebuah senyuman. Senyum di awal yang menentukan. Adalah sebuah awal yang indah ketika seorang istri bertemu dengan suaminya, atau seorang suami dengan istrinya.

Senyuman itu adalah sebuah pernyataan awal untuk sebuah kesepakatan dan harmoni. Rasullullah berkata, “senyummu di depan saudaramu adalah sedeqah.” Beliau sendiri seorang yang banyak tertawa dan tersenyum.

Kemudian sebagai orang Islam yang beriman. Setiap pertemuan selalu dibuka dengan ucapan salam. Ucapan yang baik akan membawa pada hubungan suami istri penuh keberkahan.

Allah Subhanahu Wata’aala berfirman dalam Al-Quran Surat An-Nur yang artinya, “Hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik). QS. An-Nur:61.

Salam dapat dikatakan sebagai salah satu cara berbicara yang lembut. Cara berbicara yang lembut baik dari istri maupun dari suami adalah alasan terciptanya kebahagiaan rumah tangga.

Seorang suami dan istri itu hendaknya masing-masing menarik semua ucapan yang jelek dan melukai perasaan serta penuh caci maki.

Suami dan istri hendaknya mengungkapkan sisi yang indah penuh pesona dan menutup mata pada sisi lemah yang muncul pada sisi masing-masing suami istri.

Seorang suami yang selalu menghitung kebaikan istrinya dan tidak memperhatikan kekurangannya, akan bahagia dan tenang hatinya.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika dia tidak senang pada satu perilaku, maka masih banyak perilaku lainnya yang dia senangi.”

Kebanyakan permasalahan rumah tangga terjadi dan muncul dari masalah-masalah sepele. Berpuluh puluh masalah yang berujung pada perpisahan suami istri, semuanya muncul dan berawal dari masalah masalah yang sangat kecil.

Salah satunya adalah keadaan rumah yang tidak rapi dan makanan yang tidak dihidangkan tepat pada waktunya.

Atau sebab lain, karena istri kecapekan sehingga tidak ingin suaminya teralu banyak menerima tamu di rumah. Bahkan bisa karena istri yang memperhatikan kebersihan dirinya atau dalam hal berpakaian.

Kita perlu memperhatikan berbagai persoalan yang muncul dalam hubungan rumah tangga dan menginventarisir berbagai resolusi alternatif penyelesaian, maka tindakan ini akan menghentikan kehancuran rumah tangga dan resiko anak anak yang harus kehilangan salah satu orang tuanya.

Bagaimanapun kita harus menyadari kenyataan, keadaan, dan kekurangan kita sendiri. Kita harus keluar dari dunia imajinasi dan idealisme semu, yang tidak mungkin dicapai.

Kehidupan seperti itu hanya bisa menjadi kenyataan bagi orang-orang yang tidak banyak jumlahnya.

Kita adalah manusia yang bisa marah, bisa bersikap keras, bisa lemah, dan bisa salah. Yang harus kita lakukan adalah menanamkan konsep relativitas di dalam mencari keseimbangan hubungan suami istri, agar bisa menjalani kehidupan yang singkat ini dengan damai.

Bila istri sedang marah, maka suami harus diam. Demikian sebaliknya, sehingga api yang bergolak itu padam dengan sendirinya, emosi itu dingin dengan sendirinya, dan gejolak di dalam hati akan mereda.

Dalam bukunya Syaidul Kahtir, Ibnul Jawzi sebagaimana ditulis dalam buku La Tahzan karya Aidh Al-Qarni mengatakan, “jika kamu melihat sahabatmu marah dan mulai bicara tidak jelas, maka apa yang dikatakannya jangan pernah diambil hati, dan jangan memberi sanksi. Saat itu, dia sedang tidak waras, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bersabarlah sejenak, dan jangan terpancing.

Saat itu ia sedang dikalahkan oleh syaitan, emosinya sedang tidak terkendalikan, dan pikirannya sedang terkungkung.

Jika Anda mengambil hati itu atau membalasnya dengan cara yang sama, maka Anda akan seperti menghadapi orang yang tidak waras, atau seperti orang yang sadar menghardik orang yang sedang mabuk, karena itu Anda yang berdosa.

Namun Anda tetaplah dengan pandangan yang penuh kasih, pahamilah sebagai qadarnya bahwa saat itu ia harus marah, dan berusahalah untuk “bersandiwara” dengannya.”

Perlu kita ketahui bahwa jika dia nanti sadar, maka ia akan menyesali apa yang telah terjadi dan mengakui betapa faedah bersabar itu. Paling tidak, Anda bisa menyelamatkan orang itu dari tindakan marahnya dan membawa kepada ketenangan.

Kesadaran seperti ini harus benar-benar dipahami oleh seorang anak ketika orang tuanya sedang marah, atau seorang istri ketika suaminya sedang marah. Biarkanlah dia marah sampai berhenti dengan sendirinya, dan jangan meresponnya.

Setelah itu dia akan menyesal dan minta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Sebaliknya, jika ucapan dan perbuatannya itu dilawan dengan cara yang sama, maka akan muncul permusuhan berlarut.

Tapi balaslah dengan kebaikan atas apa yang telah dilakukannya pada waktu tidak waras itu.

Sayangnya, kesadaran semacam ini jarang dilakukan. Umumnya, ketika seseorang melihat orang lain marah-marah, dia akan melayaninya.

Padahal, tindakan seperti itu sama sekali tidak dibutuhkan dan sama sekali bukan tindakan yang bijaksana. Tapi hal ini hanya bisa dicerna oleh orang-orang yang tahu.

Hanya dengan cara itu pula, keharmonisan rumah tangga dapat dipertahankan. Tentu saja dengan komitmen bersama antara suami istri, maka perpisahan yang dapat merugikan anak anak bisa dihindari. (*)

Komentar