Bawang Merah Jadi Komoditas Unggulan, Pemerintah Gayo Lues Diminta Atur Tata Niaga

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues (Galus) layak menjadikan komoditas bawang merah sebagai komoditas unggulan hasil budidaya petani didaerahnya.
bawang merah
Petani bawang merah Gayo Lues sedang membersihkan hasil panen sebelum dijual ke pengepul. Foto: Kontributor ACEHSATU.COM

Pemerintah Gayo Lues Diminta Atur Tata Niaga Bawang Merah

ACEHSATU.COM | BLANGKEJEREN – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues (Galus) layak menjadikan komoditas bawang merah sebagai komoditas unggulan hasil budidaya petani didaerahnya.

Kabupaten hasil pemekaran Aceh Tenggara tersebut memiliki 11 kecamatan yang kini semuanya menjadi daerah produksi/penghasil bawang merah di Aceh.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kontributor ACEHSATU.COM, Minggu, (20/6) setiap kecamatan di Gayo Lues, umumnya petani palawija menanami bawang merah pada lahan mereka, terutama di Kecamatan Blang Pegayon, di kecamatan ini konon hampir setiap kampung, petani menanam komoditi bawang merah dengan luas areal mencapai 100 hektar.

Kendati petani di Kampung Pegayon juga menanam cabe dari berbagai jenis baik cabe merah maupun cabe rawit, cabe Madun, dan cabe bencong namun bawang merah merupakan andalan utamanya.

Kampung lainnya yang tercatat sebagai penghasil komoditas bawang merah dan cabe paling banyak yaitu; Kampung Blangbengkik, Kampung Akangsiwah, Kampung Porang Ayu, dan Kampung Kutebukit.

Rata-rata produksi bawang merah atau hasil panen per siklus tanam mencapai 700 ton atau berkisar 7 ton/hektar.

“Produktivitas bawang merah di Gayo Lues saat ini bisa dibilang belum maksimal setiap hektarnya, artinya masih bisa ditingkatkan lagi” kata seorang petani.

Petani bawang merah Gayo Lues sedang membersihkan hasil panen sebelum dijual ke pengepul. Foto: Kontributor ACEHSATU.COM

Walaupun sekarang Gayo Lues dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas bawang merah di Provinsi Aceh, namun kesejahteraan petani bawang belum begitu baik.

Bahkan dalam seminggu terakhir harga bawang anjlok di pasar pengepul. Harga Bawang Merah saat ini di kabupaten tersebut sedang mengalami penurunan drastis, sehingga banyak petani yang memasuki musim panen itu mengeluhkannya.

Petani terancam rugi puluhan juta akibat jatuhnya harga bawang di pasaran. Sedangkan modal yang dikeluarkan lebih tinggi dari hasil penjualan.

Harga yang diterima petani saat ini hanya Rp18.000 per kilogram, sebelumnya yang harga bawang merah sempat bertahan pada angka Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram.

“Petani sedang rugi, untuk modal beli bibit saja mencapai Rp60.000 per kilogram, belum lagi biaya mulsa, ongkos kerja, pupuk, dan insektisida untuk mengusir hama.” katanya.

Dengan kondisi pasar seperti itu petani sangat berharap agar pemerintah bisa turun tangan membantu mengatasinya.

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues perlu memikirkan bagaimana cara melindungi petani bawang merah dari ancaman pasar, terutama tengkulak atau pedagang besar.

Barangkali pemerintah bisa membangun gudang dan tata kelola distribusi bawang merah dapat diatur sedemikian sesuai dengan kebutuhan pasar. Supply Chain nya perlu diperbaiki dan dijaga.

Apabila jalur distribusi dapat dikontrol, maka tata niaga bawang merah dengan sendirinya akan baik, terutama bila pemerintah mampu menetapkan harga seperti adanya harga jual eceran tertinggi (HET).

Ini akan memberikan kepastian harga baik bagi petani maupun konsumen atau industri yang menggunakan bawang merah. (*)