Banjir Aceh Timur Meluas, Empat Ibu Hamil Terjebak, Jembatan Hubung ke Kabupaten Tetangga Ambruk

Selain infrastruktur jembatan hancur akibat terjangan banjir, empat orang ibu hamil juga harus dievakuasi menggunakan perahu karet.
Jembatan ambruk di Aceh Timur akibat terjangan banjir
Banjir di Kabupaten Aceh Timur mengisolasi sejumlah kawasan. Warga dan personil kepolisian terpaksa menaiki perahu getek melintasi jembatan ambruk di Kecamatan Ranto Peureulak akibat terjangan banjir. | Foto: Antara

ACEHSATU.COM | IDI – Banjir menerjang sejumlah kecamatan di Aceh Timur yang kian meluas turut berdampak pada aktifitas warga sekitar. Selain infrastruktur jembatan hancur akibat terjangan banjir, empat orang ibu hamil juga harus dievakuasi menggunakan perahu karet.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur, Ashadi, Selasa (4/1/2020) menyatakan jembatan lintas provinsi ambruk terjangan banjir.

Jembatan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Timur dengan Kabupaten Gayo Lues itu berada di Kecamatan Ranto Peureulak.

“Jembatan di antara Desa Kliet dan Desa Beurandang, Kecamatan Ranto Pereulak tersebut putus setelah diterjang banjir,” kata Ashadi seperti dilansir dari Antara.

Ashadi menjelaskan ketinggian air saat banjir di wilayah tersebut mencapai ketinggian satu meter dari badan jalan. Akibatnya warga di tiga kecamatan terisolasi.

“Warga tiga kecamatan yang terisolasi tersebut yakni Kecamatan Peunarun, Kecamatan Serbajadi dan sebagian besar wilayah Kecamatan Ranto Peureulak,” katanya.

Ashadi mengatakan masyarakat menyiapkan rakit atau perahu getek untuk mengangkut kendaraan dan warga yang melintas. Namun, untuk kendaraan roda empat belum bisa melintas.

Selain jembatan penghubung antarkabupaten tersebut, jembatan antardesa di Kecamatan Indra Makmur dan di Kecamatan Idi Tunong juga ambruk dihantam banjir.

Sementara, di Desa Buket Seulemak, Kecamatan Bireum Bayeun, badan jalan tertimbun longsor setinggi tujuh meter. Begitu juga di Desa Alue Sentang, badan jalan tertimbun longsor setinggi empat meter. 

“Banjir tidak hanya merusak jalan dan jembatan, tetapi juga fasilitas umum lainnya. Banjir juga menelan dua korban jiwa yaitu bocah diseret arus banjir berusia delapan tahun dan 13 tahun,” kata Ashadi. 

Ibu hamil dievakuasi

Sementara itu, empat orang ibu hamil yang tinggal menghitung hari melahirkan juga dilaporkan terjebak banjir dan terpaksa dievakuasi oleh aparat setemat. Keempatnya merupakan warga di Gampong Cek Mbon, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.

“Empat ibu hamil terpaksa dievakuasi lantaran hendak melahirkan karena desa tersebut terisolasi akibat,” kata Bupati Aceh Timur Hasballah di Aceh Timur kepada wartawan dikutip Selasa (4/1/2020). 

Bupati menyebut selain mengevakuasi pihaknya juga mengantar bantuan logistik ke wilayah banjir menggunakan perahu karet. 

Selama dua jam di Gampong Cek Mbon, Bupati juga meninjau berbagai titik lokasi terparah dampak banjir.

“Hari ini kami melihat langsung warga yang terisolasi. Menjadi perhatian kami di sini, di mana ada ibu-ibu hamil yang harus dievakuasi. Dan Alhamdulillah semua mereka telah berhasil dibawa,” kata Hasballah yang akrab disapa Rocky. 

Bupati mengaku ibu hamil yang telah dievakuasi itu ditempatkan di Diklat milik Pemkab Aceh Timur. Sebab di antara mereka ada yang sudah tiba jadwal melahirkan, sehingga lokasi ini sangat tepat dan tidak jauh dengan Rumah Sakit Umum Zubir Mahmud di Idi.

“Alhamdulilah, mereka telah dibantu fasilitasi dengan layak. Mereka juga dipantau langsung tenaga medis, sehingga jika tiba saat melahirkan langsung bisa segera ditangani dengan cepat,” kata Rocky. (*)