oleh

Bangga Tak Dapat BLT  

-Editorial-746 views

Bangga Tak Dapat BLT 

Seminggu terakhir persoalan bantuan langsung tunai (BLT) di beberapa desa (Gampong) di permasalahkan warga. Mereka mengklem berhak mendapatkan BLT dengan alasan juga terkena dampak pandemi Covid-19 atau virus Corona.

Sementara pemerintah desa juga mengaku sudah melakukan prosedur penetapan nama-nama penerima BLT ini sesuai kriteria yang di sarankan pemerintah pusat yang kemudian dibahas melalui musyawarah khusus desa.

Beberapa warga desa yang melakukan protes penyaluran BLT ini seperti warga Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka di Aceh Tamiang, Gampong Alu Dua, Bangkaran Bate di Kota Langsa, Desa Lae Motong, Kota Subulussalam dan mungkin banyak desa lain,  juga mengalami hal yang sama tidak hanya di Aceh juga di luar Aceh yang tidak terekspos media

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar seperti diberitakan media menegaskan sasaran BLT desa adalah warga miskin yang kehilangan pekerjaan karena virus Corona. Kemudian, yang paling penting adalah warga tersebut belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, belum masuk PKH belum masuk BNPT, dan segala bentuk bantuan lain.

Keinginan pemerintah ini tentu baik karena tidak ingin penerima bantuan tumpang tindih, sehingga ada warga menerima beberapa bantuan, sementara ada warga lain yang sama sekali tidak menerima bantuan.

Terkadang maksud pemerintah ini tidak semua tersampaikan kepada warga sehingga wajar mereka protes namun disisi lain kita pamahami juga keterbatasan pemerintah dalam melakukan sosialisasi program tersebut.

Untuk itu, kita sarankan pemerintah harus mensosialisasikan sasaran penerima dan tujuan program bantuan jenis apa saja buka hanya BLT harus lebih ekstra dengan memanfaatkan semua potensi stakeholder agar tujuan sasaran bantuan tersebut di “kampanyekan” dari berbagai sudut pandang.

Dari sudut pandang agama, mereka yang memberi, membantu orang lain lebih mulia dibandingkan orang yang menerima, anjuran rasulullah SAW ini, tentunya harus terpatri di dada rakyat Aceh sebagai daerah yang dipersepsikan lebih dalam menerapkan nilai-nilai islam.

Anjuran nabi itu juga menjadi energi setiap orang agar berusaha menjadi orang yang mampu inilah mungkin yang dimaksud di zaman modern ini dengan etos kerja.

Sehingga tumbuh rasa malu di tengah komunitas rakyat, jika menerima bantuan program atas nama tidak mampu, terlebih lagi jika tidak menuhi kriteria sebagai penerima bantuan. Namun disisi lain menjadi kabanggaan dan rasa syukur jika tidak menerima bantuan atas nama tidak mampu walaupun memenuhui kriteria sebagai penerima, karena secara tidak langsung sudah di doakan kemuliaan menjadi orang mampu.

Begitu juga dengan aparat pemerintah kampong, bangga menjadi penyampai amanah yang benar-benar amanah sesuai harapan warga sehingga BLT tersalurkan tanpa kisruh.(*)

Indeks Berita