Bahas RUU Kontroversi Banyak Energi Bangsa yang Terbuang

Oleh: Dr. Zainuddin,  SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Dalam masa pandemik ini Indonesia disibukkan dengan adanya ide atau gagasan dari sebagian anggota legislatif terhormat tentang Rancangan Undang-Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP) yang menjadi viral ditengah-tengah masyarakat.

Elemen masyarakat menolak tegas gagasan tersebut dengan berbagai argumentasi, dan masyarakat menilai bahwa tentang ideologi Negara Pancasila sudah selesai tidak perlu lagi diusik.

Menurut saya argumentasi yang menolak tersebut suatu pernyataan cerdas dan sangat bermartabat.

Dari itu jelas terlihat bahwa dalam masalah RUU HIP tersebut rakyat memiliki kemampuan lebih cerdas dari yang perwakilannya di lembaga legislatif. Maknanya bahwa ada pesan yang amat tajam sebenarnya dari rakyat kepada anggota perwakilannya agar menggunakan energi yang efesien  untuk memikirkan hal-hal yang belum jelas dan sangat dibutuhkan rakyat terutama masalah perekonomian bangsa.

Akibat dari gagasan RUU HIP tersebut muncul lagi berbagai tanggapan, ada yang menyatakan bahwa ini suatu tindakan pengalihan isu tentang kemelaratan ekonomi rakyat yang sudah kritis agar kritikan terjadap penyelenggara negara mereda dan berbagai dugaan lainnya.

Hal ini wajar dalam kehidupan berdemokrasi, dimana setiap kejadiaan pasti akan dihubung-hubungkan dengan variabel-variabel yang lain, dan akan viral ditengah-tengah masyarakat.

Sehingga, banyak energi akan dicurahkan kepada perdebatan untuk menolak di satu sisi dan bahkan ada yang menerima di sisi yang lain.

Tetapi dari semua perdebatan tersebut yang berkaitan dengan RUU HIP sebenanya kebenaran ada pada pernyataan sebelumnya, yaitu idiologi Negara Pancasila sudah selesai dan tidak pelu lagi diusik.

Namun sayangnya perdebatan silang pendapat tentang RUU HIP sudah terjadi pula di lembaga legislatif itu sendiri, dimana ada fraksi yang menuduh yang lain buang badan, dan ada fraksi yang kena tuduhan buang badan bereaksi dengan mempersilakan membuka dokumen usulan RUU HIP, sehingga jadi tontonan gratis yang sebenarnya tidak bermanfaat buat negeri ini.

Belum lagi viral tentang RUU HIP datang lagi ide atau gagasan ingin menggabungkan mata pelajaran pendidikan agama Islam dengan mata pelajaran PPKN.

Sepertinya selalu saja mengkoreksi yang sudah jelas dan baik untuk dunia pendidikan, dan sebenarnya hampir semua masyarakat akan menolak hal-hal yang diduga ada usaha melemahkan keberadaan agama kecuali masyarakat yang memang arah kehidupannya sekuler.

Terhadap ide seperti ini masyarakat harus menghadangnya, karena dua mata pelajaran tersebut harus ada keberdaannya di sekolah demi tercipta generasi yang memiliki wawasan keagamaan  yang kuat dan wawasan tentang ideologi negara mumpuni.

Bila dua mata pelajaran ini digabungkan akan menjadi permasalahan dikemudian hari, yaitu akan tidak jelas lagi yang mana perintah agama dan yang mana kewajiban sebagai warga negara (itu contoh kecil saja).

Rakyat Indonesia harus menolak dengan tegas agar jangan diusik hal-hal yang sudah jelas dan baik untuk dunia pendidikan kita, dan sangat diperlukan sekarang malah dilupakan seperti permasalahan tidak terdistribusinya fasilitas-fasilitas pendidikan secara merata diseluruh wilayah negeri, dan belum lagi menyangkut tenaga pendidik itu sendiri serta lainya.

Berdasarkan dua kejadian (gagasan) tersebut diatas, maka dapat dinyatakan bahwa banyak energi dihabiskan hanya mempermaslahkan hal-hal yang sudah jelas dan sudah diterima umum.

Padahal masih banyak hal (permasalahan) negeri ini yang masih harus dicari penyelesaiannya, sebagai contoh menyangkut penggarauran yang membludak, daya beli masyarakat yang turun drastis, fasilitas pendidikan yang merata, permasalah tenaga guru kontrak atau honorer yang belum terselesaikan dan lain sebagainya.

Semua hal tesebut semestinya yang perlu dilakukan bukan dengan mengkoreksi apa-apa yang sudah jelas dan tidak bermasalah atau dengan kata lain sudah mantep untuk dilaksankan.

Sebagai rakyat Indonesia yang dilindungi undang-udang dalam berpendapat, saya menyarankan kepada para elit setelah dilantik sebagai elit negara jangan berhenti belajar dan harus lebih giat lagi belajar agar ide dan gagasan itu inonvatif. Bukan mengobok-obok yang sudah ada dan hanya mampu menyalahkan yang sebelumnya.

Pada saat seperti ini dimasa pandemik sebenarnya ide yang ditunggu-tunggu oleh rakyat adalah bagaimana cara masyarakat bisa hidup aman secara ekonomi dengan batasan-batasan aktivitas yang bisa dilakukan, atau  dengan kata lain instrumen apa yang bagus buat rakyat dalam rangka aktivitas ekonominya.

Ada ide beraktivitas di rumah tapi rakyat tidak punya modal kerja, nah seperti ini harus direspon berikan modal kerja dengan akat kredit yang super lunak (bila perlu nol persen bunga) dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, kita dapat memberi kesimpulan bahwa selama elit negeri sibuk mengoreksi hal-hal yang sudah selesai dan dapat diterima umum, serta menghabiskan energy hanya untuk menyalahkan keadaan sebelumnya bukan mencari model penyelesaian atas permasalahan tersebut

Bila perilaku itu uterus dipelihara maka selama  itu pula yang namanya kemajuan dan kemakmuran ibarat mimpi memeluk gunung.

Maknanya kemakmuran dan kemajuan itu muncul ketika energy negara benar-benar diarahkan pada penciptaan barang-barang publik atau instrumen berupa peraturan yang tepat untuk aktivitas ekonomi bangsa.

Bukan untuk dapat memunculkan kegaduhan ditengah-tengah masyarakat.

Maaf jika tak berkenan, dan inilah keadaan kehidupan yang merdeka saling mengingatkan, saling mengkritik, dan saling berdebat.

Tidak ada yang salah bila kita semua dapat menghayati makna merdeka. Amiin. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi, Sosial, Politik, dan Penikmat Kopi Pancung. Bekerja Sebagai Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekah Aceh)