Opini

Awal Rusaknya Pendidikan Agama di Aceh

Dengan status keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan itu, Aceh berhak mempertahankan kurikulum mata ajar agama di sekolah-sekolah agama agar tetap 70% dan mata ajar umum 30%.

Foto | Istimewa

Oleh: Nab Bahany

ACEHSATU.COM – Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri — Menteri P&K, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri — tahun 1975 adalah awal dari rusaknya pendidikan agama di Aceh, atau bahkan di daerah lainnya.

Dengan dikeluarkannya SKB itu, kurikulum mata ajar agama di sekolah-sekolah agama yang sebelumnya 70% berbalik menjadi 30% mata ajar agama dan 70% mata ajar biasa/umum di sekolah agama.

Sejak itu, pelajaran agama di sekolah-sekolah agama di Aceh, seperti Tafsir-Hadist, Imsyak-Imlak, Tauhid, Budi Pekerti, Bahasa Arab dan Nah’u Saraf, tidak lagi diajarkan di sekolah agama, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, sampai Madrasah Aliyah, pelajaran-pelajaran agama itu tidak lagi diajarkan pada anak didik.

Beriringan dengan itu, pemerintah pun menghadirkan SD-SD Inpres dan SMP-SMP unit hingga ke polosok-pelosok desa, dengan mengopinikan ketika itu, jenjang pendidikan umum akan lebih menjanjikan masa depan anak didik, dalam mengisi peluang di dunia pekerjaan.

Akibat dari itu, masyarakat pun berbondong-bondong menyekolahkan anak-anaknya pada SD-SD Inpres, dan yang kemudian dilanjutkan pada SMP-SMP Unit yang telah disediakan pemerintah dengan fasilitas yang lengkap.

Lewat kondisi itu, sekolah-sekolah agama pun satu persatu mulai berguguran, bahkan banyak yang gulung tikar.

Begitulah sebuah proses awal dari rusaknya pendidikan agama yang dialami dan terjadi di dalam masyarakat Aceh.

Seharusnya, saat itu Aceh tidak ikut dalam proses perubahan kurikulum sekolah-sekolah agama di Aceh.

Karena Aceh saat itu sudah berstatus Daerah Istimewa termasuk keisitimewaan di dalam pengelolaan bidang pendidikan, bidang agama dan budaya.

Dengan status keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan itu, Aceh berhak mempertahankan kurikulum mata ajar agama di sekolah-sekolah agama agar tetap 70% dan mata ajar umum 30%.

Jadi, kita di Aceh tak usah cari kambing hitam ini itulah, dalam soal rusaknya pendidikan agama di kalangan anak didik di Aceh hari ini. Karena awal proses rusaknya pendidikan agama itu, ya karena yang telah tersebut di atas tadi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top