oleh

Awaknyoe Dimita Breuh Bu Ngoen UUPA dan Laba Ngoen MoU Helsinky

-Kolom-158 views

ACEHSATU.COM|BIREUEN – “Pue selama nyoe natrok bantuan atau perhatian dari pemerintah melalui petinggi wilayah keu drouneuh dan keluarga ?” Na chit watee uroe-uroe meugang peng 150.000, laen hana lom na padahai awaknyoe jimita brueh bu ngoen UUPAnyan dan laba ngoen MoU Helsinky padahai, jisuoet hana beungeh tap dan geuyu saba geupeugah, uenteuk mandum merumpok watee kabeereeh UU PA.

Hal tersebut diungkapkan Koordinator Harian Lembaga Aceh Marginal Institute (AMI), Muhammad Idris kepada ACEHSATU.COM saat dihubungi di Jakarta ketia yang bersangkutan bersama Tim Vormen University Amerika sebagai pemantau perdamaian untuk Aceh di Jakarta, mengutip pernyataan seorang janda korban konflik, Senin (2/12/2019).

Pemerintah Aceh, sepertinya masih belum sepenuhnya untuk mengangkat harkat martabat istri-istri pejuang mantan kombatan GAM, yang sekarang menjanda. Pemerintah seakan masih membiarkan janda pahlawan menjadi korban ketidakadilan.

Menurutnya, setiap bulan Desember menjadi bulan yang bersejarah bagi para mantan pejuang GAM, waktu itu menjadi momentum yang penuh makna namun lima belas  tahun yang silam yang lalu sejarah itu tidak begitu lagi membahana dengan lahirnya perundingan Helsinky. Tapi tidak bagi nurani-nurani pejuang ikhlas serta generasi Nanggroe yang polos yang sangat mengidam-idamkan Nanggroe yang berdaulat, makmur dan sejahtera.

Pengalaman Azimar (71) janda dr. Muchtar Hasbi DTMH, mantan Perdana Menteri Aceh Merdeka, kisah hidupnya yang dibukukan dalam buku berjudul “Perjuangan Janda Mantan PM Aceh Merdeka” begitu menguras air mata. Tangis Azimar sebenarnya tangis kita semua ketika kita mau berhayal sejenak apa lagi setelah membaca seluruh isi buku tersebut yang begitu sarat makna.

Momentum 4 Desember 2014 kemarin, masih banyak tangisan janda-janda lain serta anak yatim korban pejuang sia-sia. Maka perlu kita ketahui, kemarin tanggal 4 Desember masih tersisa bendera dan harapan pejuang ikhlas yang mengharapkan kesejahteraan rakyat Aceh sepenuhnya dapat dirasakan dengan tidak lagi meneteskan air mata.

Senasib dengan janda mantan Perdana Menteri Aceh Merdeka, Mak Rabumah juga harus bersusah payah untuk menghidupi anak dan menantunya karena suaminya telah direnggut oleh konflik masa eksistensinya Aceh Merdeka. Kemudian hati kembali merintih, jika kita mau berbagi cerita dengan Nek Ainsyah yang selalu setia membesarkan anak-anaknya sampai berumah tangga sedangkan suaminya saat itu harus masuk hutan mengangkat senjata, dua janda  itu masih menjadi saksi hidup di kawasan Peureulak Raya.

Sedikit kita buka ingatan, tentang sebuah kampung di daerah Pidie Jaya. Disana terasa sangat lumrah jika ada penduduk yang menyebutnya Kampung Janda, desa tersebut tepatnya di Gampong Cot Keng, Kecamatan Badar Dua. Pada tahun 1998 dulu pernah dikunjungi tim pencari fakta DPR RI, kemudian banyak rentetan kisah penuh air mata membuat desa itu populer saat DOM era Presiden Megawati.

Namun, yang patut kita perbincangkan saat ini adalah para janda dan anak yatim korban konflik tersebut bagaimana terberdaya secara ekonomi ?

Mak Rabumah sebulan yang lalu di kediaman sederhananya, kepada Idris menceritakan tentang kehidupannya selama ini. “Pue selama nyoe natrok bantuan atau perhatian dari pemerintah melalui petinggi wilayah keu drouneuh dan keluarga ?” na chit watee uroe-uroe meugang peng 150.000, laen hana lom na dan geuyu saba geupeugah, uenteuk mandum merumpok watee kabeereeh UU PA (Apa selama ini ada perhatian dan bantuan dari pemerintah melalui wilayah ? Ada juga waktu musim meugang uang sebesar 150.000, lain menyuruh untuk bersabar, nanti semua akan diberikan setelah selesai turunan UU PA).

“Nah, itu merupakan sebagian dari cerita miris yang kita rasakan, belum lagi anak yatim yang sekarang sudah beranjak dewasa. Mereka merupakan generasi pejuang yang tak akan pernah bisa melupakan kejadian-kejadian yang menusuk dada, jangankan diakui sebagai tokoh pejuang oleh negara, dihargai saja dalam kelompok Aceh Merdeka dulu pun tiada,” kata M. Idris.

Pembaca mungkin lebih peka terhadap realita saat ini, bangkitnya generasi baru unjuk diri menenteng senjata untuk menentang pemerintahan merupakan menu kritik yang efesien terhadap Pemerintah Aceh yang larut dalam event tahunan kabupaten/kota tanpa peduli terhadap mereka.

Miris memang, belum lagi generasi penjaja narkoba, yang itu merupakan jalan pintas bagi mereka yang kurang terberdaya secara ekonomi, pendidikan agama dan kesehatan jiwa.

“Semoga momentum tahunan sejarah perjuangan dapat menjadi renungan bersama yang kemudian lahirnya perencanaan hingga pelaksanaan yang langsung dapat dirasakan oleh mereka para janda dan korban konflik lainnya,” demikian ucap pria yang akrap disapa Fadel seorang Penggiat LSM dan Media Komunitas Aceh.(**)

Komentar

Indeks Berita