Aura Krisis Ekonomi Akibat Covid-19

Aura Krisis Ekonomi Akibat Covid-19

Oleh : Dr. Zainuddin, SE, M. Si.

 ACEHSATU.COM – Tak terbantahkan bahwa pandemi Covid-19 sudah membawa sengsara bagi segenap umat manusia di bumi, namun pada tingkat yang berbeda setiap elemen masyarakat itu sendiri.

Sebelum kita mengulas lebih lanjut tentang aura krisis pada tingkatan umat, mari kita sepakati terlebih dahulu tingkatan status sosial rakyat itu sendiri.

Dalam pandangan penulis ada empat kelompok besar masyarakat, yaitu kelompok orang-orang kaya atau masyarakat pebisnis, kelompok orang-orang pekerja atau masyarakat eksekutif, dan kelompok orang-orang pekerja harian lepas atau kelompok masyarakat marginal, serta kelompok masyarakat sama sekali tidak berkerja.

Berdasarkan tiga kelompok masyarakat tersebut masing-masing memiliki aura krisis ekonomi yang berbeda.

Bagi kelompok orang-orang kaya aura krisis ekonomi yang dirasakan akibat Covid-19 adalah banyak usaha atau bisnisnya mengalami kemunduran, tidak bisa lagi melakukan spekulasi bisnis dalam waktu dekat, kehilangan beberapa item pendapatan.

Namun, mereka memiliki banyak tabungan untuk merecaveri kebutuhannya, tidak sampai mengakibatkan menurunnya kadar konsumsi dan hidangan di meja makan tetap terjaga lauk pauk hingga apapun jenis makanan yang diinginkan dapat tersedia.

Begitu juga dengan gayanya yang hanya sedikit terkoreksi karena tidak bisa lagi berpesta, mereka tidak gundah dalam pemenuhan kebutuhannya, baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan sandang lainnya atau dengan kata lain mereka memiliki aura krisis sebatas tidak ada pendapatan dari beberapa unit bisnisnya.

Aura krisis ekonomi bagi kelompok pekerja terlihat semakin meningkat dari pada kelompok pertama, apalagi bagi pekerja yang berdampak pada PHK atau dirumahkan dan tidak digaji lagi. Kepiluan pada kelompok ini akan menjadi-jadi apabila pada saat normal dulu sangat konsumtif dan lupa untuk meningkatkan tabungannya.

Pada kelompok ini hampir setengahnya down atau menderita stres akut memikirkan nasib yang dulu dimanjakan dengan pendapatan gaji yang tinggi dan fasilitas yang mumpuni namun sekarang itu tidak ada lagi semua.

Tetapi ada yang masih bisa bertahan dengan cekatan beralih profesi dengan mempergunakan stok tabungan yang tersisa memulai usaha kecil-kecilan seperti mencoba berdagang apa saja dengan modal apa saja dan itu terlihat di mana-mana ada yang berdagang dengan modal mobil pribadi berupa pakaian, jual minuman dan makanan serta ada juga yang tadinya merasa ogah berjualan nasi uduk atau pecal sekarang terlihat di jalan-jalan mantan eksekutif melakukannya demi bertahan hidupa dan lain sebagainya lain sebagainya.

Pada kelompok pekerja juga masih terlihat biasa-biasa saja auranya adalah pekerja yang digaji oleh negara, walaupun ada penurunan tingkat konsumsinya itu akibat banyak proyek yang dibatalkan sehingga penerimaan fee yang dulunya lazim diterima sekarang tidak ada lagi, walapun sesungguhnya fee tersebut tidak ada dalam aturan main dan mereka sesungguhnya Covid-19 menjadi baik karena terhindar memperoleh pendapatan yang bukan haknya.

Akibat banyak proyek pemerintah yang dibatalkan dan sangat berdapak aura kemelaratan adalah para pekerja pada proyek-proyek pemerintah melalui pemborong-pemborong yang harus closed terhadap pekerjaan dan pemborong itu sendiri, apalagi pemborong yang sangat konsumtif diwaktu normal dan sekarang mungkin ada yang stres akibat aliran dananya terputus akibat tender proyek pemerintah tertunda.

Semakin miris dan menyedihkan aura krisis ekonomi terlihat pada kelompok pekerja harian, banyak ditemukan para pekerja yang mengandalkan tenaga setiap hari untuk menerima upah sekarang harus duduk termenung dipersimpangan jalan tidak bisa bergerak lagi karena tidak ada yang memakai tenaga mereka seiring banyak bisnis yang harus tutup sehingga pergerakan arus barang dan arus manusia yang mempergunakan jasa para pekerja lepas terhenti, maka dapat dipastikan bahwa terhenti pula ekonomi para pekerja lepas ini.

Sungguh, tak terbayangkan betapa banyak kelompok masyarakat yang menjadi buruh lepas di segmen usaha harus terhenti aktivitasnya dan sekaligus ekonominya harus terhenti pula, aura pilu dan kecemasan bergelora didadanya dan kesedihan sudah menjadi konsumsi hari-hari serta belum lagi yang memiliki tanggungan, terasa tak sanggup untuk kita tulis betapa sedih dan pilu aura krisis yang dirasakan.

Ada sebuah kisah yang amat memilukan ini nyata terjadi, sebelum seminggu mau lebaran Idul Adha kali ini saya mendapat penggilan dari beberapa kenalan menanyakan kabar, dan mereka bercerita bahwa hari raya kali ini tak sanggup membeli walau sepasang baju baru buat anak-anaknya dan anak-anak mereka sudah menangis meminta karena sudah lama tidak memiliki pendapatan disebabkan tempat mereka mencari rejeki sudah tidak beraktivitas lagi, yaitu mereka sebagai tenaga lepas dibidang pariwisata (turis), itu baru secuil kisah pilu dan tidak perlu lagi untuk banyak diceritakan.

Dan sekarang mereka hanya berharap pada dana bansos dari pemerintah, dan bahagian daging kurban apabila ada.

Begitu pasrah  dan berharap ada dewa penolong untuk segera ada stimuli ekonomi yang bisa membuat normal kembali, dan ini nyata terlihat juga banyak orang tua yang meminta menunda pembayaran SPP bagi anaknya yang kuliah akibat tidak ada dana.

Bagi kelompok masyarakat yang tidak berkerja memang sudah biasa hidup dengan dana sosial dan belas kasihan, pada kelompok ini tidak banyak yang berpengaruh dari covid-19, malah ada diantara mereka sekarang mendapat dana bantuan yang dari dulu belum pernah dapat, dan bahkan mereka ada yang memanjat doa agar covid-19 dipanjangkan umur dan barakah, karena dengan covid-19 lah mereka tertata untuk mendapat bantuan.

Rupanya aura krisis ekonomi berbeda yang dirasakan pada tiap level masyarakat, namun secara umum karena rakyat banyak berada pada tataran level dua dan level tiga, maka dapat dipastikan aura krisis ekonomi akibat covid-19 terasa seyum di wajah rakyat terbebani oleh pilunya keadaan ekonomi yang dirasakan, bahkan anak-anak di lebaran Idul Adha kali ini harus ikut sangat berhemat dalam berjajan karena orang tua mereka lagi berdompet kosong.

Dibalik itu semua, ada cerita yang harus diurut dada ketika sang orang nomor satu di Republik ini menyatakan tidak semua kementerian dan lembaga belum menghayati aura krisis ekonomi akaibat covid-19, mereka masih berkerja biasa-biasa saja seperti belum ada wabah yang mengancam ekonomi.

Bila itu benar maka dapat dipastikan akan semakin dalam kejatuhan ekonomi negeri Indonesia akibat covid-19 karena para elit tidak tau memulai dimana cara me-recovery ekonomi yang carut marut menjadi normal kembali.

Namun sebagai warga Negara yang mencintai negeri ini sepenuh hati tetap yakin kepada penyelenggara Negara dan daerah otonomi bisa memberikan yang terbaik buat rakyat dan bangsa dalam menghadapi pandemic covid-19. Yakin berikhtiar seraya berdoa Insya Allah akan baik kembali. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik USM Aceh)