oleh

Atasi Coronavirus, Butuh Kesadaran Bersama dan Kepatuhan Massal

-Kolumnis-394 views

ACEHSATU.COM — Seperti shock melihat situasi yang belum pernah dialami oleh masyarakat Indonesia.

Kini jutaan rakyat mulai membuka mata dan merespon permintaan pemerintah untuk ikut menerapkan apa yang disebut dengan istilah Social Distancing dan siap-siap Lockdown.

Kejutan luar biasa dirasakan oleh masyarakat terutama yang selama ini tidak aware bahkan tidak mau peduli tentang mengganasnya coronavirus yang telah menyerang jutaan manusia di beberapa negara.

Pada awalnya masyarakat beranggapan peristiwa ini hanyalah sebuah fenomena biasa. Apalagi bila berbicara tentang penyakit. Rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan isu buruknya kesehatan dan layanan publik terkait kesehatan.

Akibatnya mereka tidak mau ambil pusing dengan bermacam intruksi pemerintah yang selama ini terbukti hanyalah wacana saja atau sekedar imbauan tanpa makna.

Dalam konteks ini sebetulnya pemerintah memang tidak dipercayai oleh rakyat. Jika hal itu mau dilihat akar penyebabnya sehingga banyak himbauan yang tidak diindahkan oleh masyarakat. Tapi itu dulu.

Akan tetapi kondisi sekarang tampak berubah, gejala baru kesadaran masyarakat dalam mengatasi pandemi coronavirus secara bersama-sama mulai muncul. Indikasinya dapat dilihat pada kesadaran mereka dalam mematuhi kebijakan social distancing (menjaga jarak sosial).

Social distancing adalah sebuah praktik dalam kesehatan masyarakat untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang sehat guna mengurangi peluang penularan penyakit.

Atau sebuah tindakan yang bertujuan mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Implimentasi kebijkan social distance dilapangan yaitu masyarakat berdiam diri di rumah atau membatasi diri dalam interaksi sosial.

Dan hari-hari ini seluruh pemerintah daerah telah mengeluarkan maklumat agar setiap orang mulai mengurangi aktivitas di luar rumah.

Bahkan sekolah-sekolah diliburkan, pegawai negeri sipil diminta bekerja di rumah (working from home) untuk menjalankan fungsinya sebagai pelayan masyarakat.

Gerakan bersama “memutus” hubungan silaturrahim secara tatap muka memang sangat berlawanan dengan budaya orang timur terlebih umat Islam.

Indonesia sebagai budaya timur yang sangat ramah terhadap sesama, saling menyapa, saling bersalaman saat bertemu, saling berpelukan satu sama lain.

Kini kebiasaan tersebut tiba-tiba harus ditiadakan. Meskipun itu hanya untuk beberapa minggu tapi bagi masyarakat kita sungguh sangat berat.

Kebiasaan hidup masyarakat Indonesia yang paternalistik dan sosialistik telah terbentuk sejak lama. Kebiasaan ini sudah turun temurun hingga menjadi sifat saling membantu dan gotong royong sebagaimana semboyan bangsa Indonesia.

Menggantikan kultur sosialis agamis ke individualis sekuleris tentu menjadi tantangan berat.

Kultur individualis yang saya maksud adalah akan terjadi bilamana social distancing berlaku. Di mana setiap orang harus hidup dengan dirinya sendiri tanpa perlu berinteraksi dengan orang lain.

Tetapi disisi yang lain, social distancing ini untuk menjaga kepentingan bersama dan mengutamakan kepentingan umat. Maknanya adalah terdapat nilai-nilai sosial yang sangat besar. Saya ingin mengatakan ini bukan misi budaya hidup individualis.

Oleh karena itu marilah seluruh komponen bangsa untuk bersatu padu dalam menghadapi ancaman coronavirus. Anggaplah ini sebagai bentuk panggilan perjuangan oleh negara. Bangsa kita harus kita bebaskan dari serangan pandemi corona.

Itulah kesadaran bersama yang harus dimiliki dan terus kita kumandangkan agar terbangun solidaritas yang kuat antar sesama untuk menghadapi situasi sulit ini.

Maka disinilah kepatuhan sosial politik yang diberikan oleh rakyat kepada sang pemimpin mereka dapat diukur.

Dan sejatinya sebagai rakyat mutlak memiliki rasa cinta tanah air dan rasa nasionalisme yang tinggi untuk menyelamatkan bangsa dan negaranya dari ancaman.

Kepatuhan publik untuk menjalankan apa yang menjadi keputusan pemerintah idealnya harus terpatri menjadi sebuah refleksi iman. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman.

Dengan memiliki cara pandang seperti itu maka kemudian kepentingan umatlah yang dikedepankan. Termasuk ketika dilarang keluar rumah untuk beberapa waktu itupun harus dimaknai sebagai bentuk jihad fisabilillah.

Akhirnya saya mengajak kita semua mari saling bergandeng tangan, bersatu padu, dan memiliki tekad yang sama kuatnya untuk maju bersama menghadapi ujian ini. Sebab bagaimanapun kebijakan social distancing apalagi lockdown akan berefek secara lebih luas terhadap berbagai aspek kehidupan kita.

Namun dengan semangat ingin agar bangsa dan negara kita tidak babak belur oleh virus impor asal Tiongkok ini. Maka kita yakin fase kritis melawan pandemi coronavirus akan sukses kita lewati. Insya Allah. (*)

Komentar

Indeks Berita