oleh

Antisipasi Isu Radikalisme dalam Pemilu 2019, Somada Abes Lakukan Seminar Publik Bersama Para Ahli

-Pemilu 2019-130 views

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Terkait isu keterlibatan kelompok radikal dalam Pemilu 2019, Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Aceh Besar (SOMADA ABES) melaksanakan seminar publik di 3 in 1 Coffe, Banda Aceh, Selasa 23/4/2019.

Isu ini patut dikaji dan didiskusikan karena ialah untuk mencari tau apakah isu ini benar adanya, dan seberapa besar dampak dari radikalisme terhadap kelancaran pesta demokrasi di indonesia yang baru saja digelar. Hal ini disampaikan oleh Ketua Somada Abes sendiri, Abdul Haris Pinyeung, pada sambutannya ketika acara dimulai.

Seminar ini sendiri menghadirkan tiga orang pemateri yang mewakili berbagai aliansi dan pemikiran, diantaranya ialah Dr. Fuad Mardhatillah, MA,  mewakili akademisi UIN Ar-Raniry, Kurniawan S, SH., LL.M, selaku Direktur Eksekutif P3K Aceh, dan Tgk. Muhazzir Budiman MA selaku akademisi STISNU Aceh.

Dr. Fuad Mardhatillah, MA,  dalam materinya menyampaikan bahwa kata radikal bisa diartikan dari dua sudut pandang.

Dr. Fuad Mardhatillah, MA, sedang menyampaikan materi | Foto: Azwar Salem

Pertama dari sudut pandang filsafat, dan kedua dari sudut pandang politik.

Dari sudut pandang filsafat radikal berarti upaya pencarian dalam berfikir dengan seluas-luasnya untuk mendapatkan kebenaran yang universal dan mendasar.

Radikal secara makna filsafat dianggap sebagai ha yang fositif dan bahkan menjadi fitrah dasar setiap manusia.

Sedangka radikal menurut definisi politik, radikal adalah upaya pemaksaan kehendak dan ideologi yang dianggapnya adalah sebuah kebenaran yang mutlak.

Dalam upaya memaksakan kehendaknya, radikalisme kerap melakukannya dengan cara yang instan sehingga akan menghalalkan segala cara, termasuk ekstrimisme.

Oleh karena itulah, radikalisme dalam politik dianggap sangat berbahaya dan menjadi ancaman keutuhan sebuah negara.

Lebih lanjut pemateri kedua, Kurniawan S, SH., LL.M, selaku Direktur Eksekutif P3K Aceh menyampaikan dalam materinya bahwa radikalisme sering kali berawal dari kelompok-kelompok masyarakat yang merasa kecewa terhadap negara atau penguasa, akan tetapi mereka tidak mempunyai ruang  untuk merubahnya.

Oleh karenanya mereka akan menjadi oposisi dan akan melakukan segala cara untuk melawan penguasa dan negara.

Kurniawan S, SH., LL.M juga menjelaskan ciri-ciri radikalisme, diantaralain ialah para kaum radikal tidak akan mengambil ruang di dalam politik, sebaliknya mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan mengambil kekuasaan.

Praktek-praktek kecurangan  pada pemilu juga termasuk ke dalam manifestasi dari radikalisme karena mereka telah melakukan segala cara untuk mencapa tujuan.

Kurniawan bahkan mengaku bahwa praktek kecurangan dalam pemilu seperti yang tersebar dalam video di media sosial itu benar adanya, karena beliau juga mengaku mengalaminya sendiri bahwa surat suara yang diterimanya sudah tercoblos.

Tapi, Kurniawan juga “menggaris bawahi” bahwa, bukan berarti berarti kemenagan pemilu ditentukan oleh kecurangan ini.

Lebih lanjut beliau jugamenjelaskan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang tidak akan masuk kedalam radikalisme.

Sedangkan pemateri yang terakhir, Tgk. Muhazzir Budiman MA selaku akademisi STISNU Aceh menjelaskan radikalisme dalam tubuh ummat islam.

Tgk. Muhazzir menjelaskan bahwa dalam tubuh ummat Islam sendiri ada juga radikalisme.

Setidaknya mereka muncul pada akhir abad ke 18 di tanah Hijaz, yang kemudian dikenal dengan sekte Wahabi, yang kemudian mereka menamakan diri dengan Salafi.

Tgk. Muhazzir mengatakan bahwa sekte wahabi dalam sepak terjangnya merupakan kelompok yang sangat radikal dan ekstrim.

Yang mana sekte ini telah melahirkan berbagai kelompok teroris seperti ISIS yang telah memperburuk citra Islam secara umum dan menjadi “batu dalam sepatu” dalam perjalanan ummat Islam.

Di akhir acara, dilakukan sesi diskusi dan tanya jawab dengan sangat cair dan terbuka.

Diantara salah satu peserta, Muhammad Alwin, seorang mahasiswa menanyakan kepada pemateri, apakah jika ia mendukung pemimpin yang mau membawa Aceh berpisah dengan Indonesia dan menjadi Negara Merdeka, apakah ia termasuk ke dalam kelompok radikal?

Pertanyaan yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah ini dijawab oleh pemateri kedua, Kurniawan S, SH., LL.M, bahwa selama itu masih ditempuh dengan jalur hukum dan dengan cara mengambil ruang dalam politik, itu tidak dikatakan radikal.(*)

Komentar

Indeks Berita