Anies Perpanjang PSBB DKI, Ini Respons Ahli Epidemiologi

ACEHSATU.COM – Ahli Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman menanggapi keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk memperpanjang penerapan Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB) fase ketiga yang seharusnya berakhir pada 4 Juni.

Anies kemudian memutuskan bulan Juni akan menjadi fase transisi menuju berakhirnya PSBB. Dicky mengatakan masa transisi memang dibutuhkan sebagai bentuk pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan

“Saya setuju dengan strategi yang dipilih DKI. Pelonggaran PSBB dilakukan bertahap dengan terus memantau dampak. Pelonggaran idealnya juga dilakukan secara bertahap,” kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (4/6).

Dicky lebih lanjut menjelaskan masa transisi adalah masa di mana operasional mal atau tempat kerja dibatasi menjadi misalnya setengah hari.

Secara fleksibel pada masa transisi, pemerintah juga bisa membuka atau menutup lagi apabila protokol kesehatan tidak diterapkan atau ditemukan kluster Covid-19 yang baru.

“Jadi ada fungsi monitoring evaluasi dengan cara pelonggaran secara bertahap,” kata Dicky.

Dicky mengatakan PSBB Jakarta yang dilakukan sejak 10 April lalu telah berjalan baik dan efektif menekan angka penyebaran Covid-19. Dicky mengatakan angka reproduksi efektif (Rt) menurun dari angka 4 di awal pandemi, menjadi angka 1.

Akan tetapi, patut diingat keberhasilan ini tidak bisa bertahan lama apabila masyarakat tidak memiliki kesadaran dalam upaya pencegahan Covid-19.

“Beberapa lokasi sudah di bawah 1 sedikit di 0,9 sekian. Jadi relatif berhasil. Tapi ini tidak bertahan lama kalau masyarakat tidak memiliki budaya baru new normal yang dukung pencegahan,” kata Dicky.

Dicky mengatakan angka Rt tersebut menurun karena cakupan tes Covid-19 DKI Jakarta yang luas. Di sisi lain, cakupan tes di DKI tetap harus ditingkatkan. Dicky juga berharap berharap agar Pemprov lain bisa menerapkan cakupan tes serupa dengan DKI Jakarta.

“Ini harus ditiru oleh daerah lain yang cakupan testingnya masih jauh lebih rendah dari Jakarta. Secara nasional juga Jakarta memiliki cakupan testing paling tinggi,” tutur Dicky.

Saran untuk Anies

Dicky menyarankan agar Anies tetap melakukan edukasi dan sosialisasi protokol kesehatan pada masyarakat. Edukasi dan sosialisasi bisa melibatkan semua pihak yang dapat membantu.

Kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penularan Covid-19 sangat penting untuk melandaikan kurva penyebaran Covid-19. Dicky mengatakan peningkatan edukasi dan sosialisasi bisa membuat masyarakat telah menyadari peran dalam pencegahan penularan saat PSBB semakin dilonggarkan.

Selain itu, Dicky mengatakan pemerintah juga harus terus mengencangkan cakupan tes, tracing dan isolasi sebagai strategis mengendalikan suatu pandemi.

“Edukasi dan sosialisasi harus ditingkatkan supaya masyarakat semakin sadar dan paham peran penting yang harus mereka lakukan dalam pencegahan. Kontribusi mereka sangat tinggi untuk melandaikan kurva, sekitar 80 persen,” ujar Dicky.

Dicky menyarankan agar pelonggaran PSBB bisa dilakukan dengan melihat tingkat keparahan Covid-19. Ia mengatakan lokasi yang masuk zona terkendali atau hijau bisa mendapatkan kelonggaran yang lebih besar.

“Tapi pada zona atau daerah pada kategori berbahaya atau memang data Epidemiolog belum mendukung, pelonggaran di masyarakat harus tidak selonggar di zona hijau,” tutur Dicky. (*)