oleh

Anak Walikota Lhokseumawe Terlibat Kasus Premanisme

Rahmad (17) pelajar SMK desa teumpok Teungoh menjadi korban penganiayaan oleh M Cs Senin (19/9) bersama 10 korban lainnya membuat laporan Ke Polsek Banda sakti Lhokseumawe

ACEHSATU.COM, LHOKSEUMAWE —Karena terlibat dalam insiden pengeroyokan dan penganiayaan terhadap belasan anak dibawah umur di Desa Teumpok Teungoh, akhirnya keluarga korban melaporkan M anak Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya bersama pengawalnya sebagai pelaku penyerangan ke Polsek Banda Sakti.

Pasca insiden penganiayaan tersebut, warga Desa Teumpok Teungoh yang tersulut emosi, merasa tidak bisa terima atas perlakuan buruk dan semena-mena dilakukan oleh anak orang nomor satu di Kota Lhokseumawe terhadap anak miskin.

Bahkan masyarakat juga mengancam akan melancarkan serangan demo ke rumah Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya di Jalan Angsana untuk menuntut tanggung jawab atas tindakan premanisme dan tidak manusiawi dialami masyarakat miskin.

Korban pengeroyokan ini rata-rata masih berusia belia antara 14 hingga 16 tahun, antara lain adalah Rahmad, Angga, Fahmi, Arif, Ihsan, Iqbal, Fadil, syahril, Fajar, Din dan Aris.

Ironisnya, meski sudah dilaporkan pada polisi atas kejahatannya, namun justru M bersama kelompoknya masih berani melakukan sejumlah manuver  seakan tidak takut dengan polisi dan mengancam akan menyerang anak – anak lagi.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman melalui Kapolsek Banda Sakti Iptu Ramli membenarkan pihaknya telah menerima laporan kasus penganiayaan sejumlah anak dibawah umur diduga dilakukan oleh M Cs, anak Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya.

Sampai saat ini, sejumlah korban yang dianiaya hingga luka-luka telah membuat laporkan resmi ke Polsek Banda Sakti, Minggu (18/9) lalu, dan telah mengambil hasil visumnya dari Rumah Sakit Kesrem 011/Lilawangsa.

“Kami baru menerima laporannya dan sedang melengkapi data kasus kejadiannya. Korban juga sudah melakukan visum di rumah sakit,” terangnya.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Waspada, Minggu (18/9) kemarin, menerangkan kronologis kejadian tersebut terjadi hanya karena dipicu oleh persoalan yang sepele yaitu berawal dari saling mengejek.

Salah seorang korban luka berat, Rahmad, 15 mengatakan awalnya pada Sabtu (17/9) malam lalu,  mereka sedang memperbaiki sepeda motor yang rusak ditengah perjalanan di Simpang Empat Kota Lhokseumawe.

Seketika itu, M bersama kelompoknya melintas dan melontarkan kata-kata ejekan untuk anak miskin dengan benda rusak hingga saling berbalas kalimat ejekan.

Selanjutnya, sekira pukul 15.34 Wib, Minggu (19/9) lalu, dirinya bersama sepuluh teman sebayanya hendak pergi ke pantai Selat Malaka Ujung Blang dengan berjalan kaki.

Begitu melintas di depan rumah Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya, tiba-tiba M muncul bersama puluhan pria dewasa dan tanpa aba-aba langsung melakukan penyerangan secara membabi buta.

“Saat saling mengejek, saya tidak ikut. Tapi saya malah jadi korban juga dipukuli rame-rame, diseret diatas aspal jalan dan ada yang dilempar ke dalam saluran air. Saya dan teman-teman dipukuli habis-habisan. Kami tak berani melawan, karena tukang pukulnya orang dewasa,” tuturnya.

Pasca  kejadian itu, Rahmad menderita luka-luka  berdarah disekujur tubuhnya dan luka memar yang membengkak dibagian wajah dan kepalanya. Hal serupa juga dialami teman-temannya yang lain dan ada pula yang mengalami luka ringan.

Sementara itu, salah satu orangtua korban, Edi Priyatno yang berprofesi sebagai tukang becak  mengatakan pihaknya meminta proses hukum berjalan dengan adil tanpa harus pilih kasih antara anak miskin dan anak pejabat.

“ Kalau anak-anak berantem dengan anak sebayanya tentu itu kejadian yang lumrah dan cuma kenakalan biasa. Tapi yang saya tidak bisa terima adalah, anak – anak dipukuli oleh orang dewasa suruhan anak wali kota,” tegasnya.

Edi mengaku pihaknya tidak akan menerima penyelesaian masalah dengan upaya perdamaian tapi tetap harus diproses secara hukum agar keadilan bisa ditegakkan.(Sumber: Koran waspada)

Komentar