Anak Penjual Ikan Asin di Abdya Ini Lulus Jadi Prajurit TNI

Khusnul Khatam (20) putra dari seorang pedagang ikan asin di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) lulus menjadi prajurit TNI AD setelah menjalani pendidikan gelombang pertama di Rindam Iskandar Muda di Banda Aceh beberapa waktu lalu.
Anak Penjual Ikan Asin di Abdya
Khusnul Khatam (Antara Aceh/HO-Pri)

ACEHSATU.COM | BLANGPIDIE  – Khusnul Khatam (20) putra dari seorang pedagang ikan asin di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) lulus menjadi prajurit TNI AD setelah menjalani pendidikan gelombang pertama di Rindam Iskandar Muda di Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Dandim 0110/Abdya Letkol Inf Arip Subagiyo di Blangpidie, Senin, membenarkan Khusnul Khatam bersama empat putra Abdya lainnya dinyatakan telah lulus menjadi prajurit TNI AD.

“Iya benar, yang bersangkutan bersama empat orang putra terbaik lain dari Kabupaten Abdya dinyatakan lulus dan mereka berhak mengikuti pendidikan Secata PK TNI AD gelombang I Tahun Anggaran 2021, termasuk Khusnul Khatam,” kata Arip Subagiyo.

Khusnul Khatam merupakan warga Desa Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Abdya. Ia anak dari pasangan Taufik (60) dan Cut Kasihan (52) yang sehari-hari berjualan ikan asin di desa itu.

"Kami tegaskan kembali, TNI AD membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk seluruh putra putri Indonesia di seluruh wilayah, dan kami pastikan penerimaan prajurit ini digelar secara transparan dan gratis tidak ada pungutan biaya," katanya.

Apalagi, tambah Arip, sepanjang tahun pihaknya membuka kesempatan sekaligus memfasilitasi seluruh putra/putri untuk bergabung menjadi prajurit TNI AD, mulai penerimaan Perwira, Bintara dan Tamtama.

Sehingga hal tersebut secara terus menerus disosialisasikan oleh jajaran Babinsa ke seluruh wilayah.

Anak Penjual Ikan Asin di Abdya
Khusnul Khatam (Antara Aceh/HO-Pri)

Keberhasilan Khusnul bersama empat rekannya itu diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Abdya. Lantaran keempatnya itu berlatar belakang dari keluarga sederhana.

“Sekarang mereka berhasil menepis paradigma bahwa untuk menjadi prajurit TNI itu membutuhkan banyak uang dan hanya bisa diikuti oleh kalangan keluarga mampu,” ujarya, menegaskan.

Sementara itu, Ayah Khusnul, Taufik mengatakan cita-cita dan impian anaknya untuk menjadi prajurit TNI mustahil bisa tercapai. Pasalnya dia selaku orangtua hanya seorang pedagang ikan asin teri yang jauh dari kemapanan.

“Macam mana kita bilang ya, rasanya tidak mungkin. Kita ini kan orang tepi laut, orang bodoh, orang tidak mampu, tidak mungkin jadi,” katanya.

Namun, rasa pesimisme Taufik itu kemudian terkikis setelah melihat keseriusan putranya yang sudah jauh hari terus gigih mempersiapkan diri, berlatih dan berdoa agar lulus menjadi prajurit TNI.

"Jujur, kecil hati saya itu hilang setelah melihat kemampuan fisik dan psikis anak saya yang begitu tinggi. Saya yakin cita-citanya itu akan terwujud, terlebih setelah adanya informasi dari Babinsa bahwa masuk TNI itu gratis tidak dipungut biaya," ujarnya.

Taufik menyampaikan rasa syukur karena putranya telah dinyatakan lulus menjadi anggota TNI. Ia berterimakasih kepada TNI AD dan khususnya Kodim 0110/Abdya yang telah mendorong dan memfasilitasi impian anaknya sehingga lulus menjadi prajurit TNI.

“Begitu juga dengan teman-teman Khusnul lainnya. Bila kita mengikuti kesesuian syarat yang telah ditentukan. Inshallah akan lulus. Karena masuk TNI itu gratis tidak pakai uang," ujarnya. (*)