Amalkan Pancasila Dengan Didasari Ketuhanan Yang Maha Esa

ACEHSATU.COM – Para pendiri bangsa (founding father) sudah sepakat secara bulat menetapkan Pancasila 17 Agustus 1945 sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan sumber dari segala bentuk hukum, kebijakan, dan etiket dalam berbangsa dan bernegara.

Artinya sebagai landasan operasional Pancasila menjadi rule of law bagi pemangku kepentingan dalam rangka mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

Cita-cita bangsa sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yaitu menjadi negara yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Selain landasan operasional, Pancasila juga sebagai ideologi (idil) bangsa. Sila demi sila dijadikan filosofi dalam mengembangkan konsep-konsep berpikir atau wawasan kebangsaan terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dengan demikian seluruh pokok pikiran pembangunan Indonesia harus berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan.

Nilai-nilai ketuhanan yang dimaksud adalah sebagaimana tercantum dalam Alquran dan alinea pembukaan UUD yakni karena nikmat dan rahmat Allah Swt.

Sehingga pembangunan yang tidak sejalan dengan nilai ketuhanan dan Alquran mesti ditolak. Misalnya melegalkan judi, minuman keras, prostitusi, dan berbagai aktivitas yang bersifat ekonomi namun haram dikerjakan, termasuk ekonomi riba.

Pemerintah sebagai pemegang kedaulatan rakyat juga sekali-sekali tidak boleh melecehkan nilai ketuhanan dalam menjalankan diskresinya. Apalagi sampai mendukung paham atheis yang bertentangan dengan Pancasila.

Perlu dicatat bahwa pembangkangan terhadap Pancasila berarti pula menolak nilai ketuhanan. Artinya mereka termasuk golongan anti tuhan.

Idealnya negara Indonesia wajib menjalankan syariat Islam karena hal itu sejalan dengan Pancasila. Tentu saja syariat Islam berlaku bagi pemeluknya. Sedangkan agama lain wajib pula menghormati.

Maka sangat aneh bila ada orang yang mengatakan bila musuh Pancasila adalah agama. Ini perkataan orang yang tidak paham Pancasila, mungkin pula ia tidak bertuhan, tidak beragama.

Kita perlu bertanya, dibagian mana agama menjadi musuh Pancasila? Terlebih agama Islam.

Jawabannya tidak ada nilai Islam yang bertentangan dengan Pancasila begitu pula sebaliknya.

Islam mengatur agar hak dan kewajiban setiap individu diakui dan dihormati. Islam juga menanamkan sikap toleransi, kebersamaan, keadilan, dan kejujuran.

Dalam konteks politik Islam juga memiliki konsep demokrasi (musyawarah), siyasah, dan mengatur pula tentang kepemimpinan negara.

Jadi alasan mempertentangkan ketuhanan pada Pancasila dengan kebebasan dan intoleransi, apalagi dikaitkan dengan Islam maka dengan sendirinya tertolak.

Justru sebaliknya Islam mendorong agar nilai-nilai Pancasila 17 Agustus 1945 benar-benar diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila bukan hanya lips services, omong kosong politik pencitraan yang dimanfaatkan sekelompok politisi jahat untuk mengelabui rakyat/umat.

Maka tindakan mengubah Pancasila untuk menjadi apapun yang lain pasti akan ditentang oleh umat Islam.

Konon lagi Ketuhanan Yang Maha Esa diubah menjadi ketuhanan berkebudayaan. Itu pelecehan terhadap Allah Swt. Sebab Tuhan Yang Esa adalah Allah SWT.

Simpulan bahwa pemerintah, rakyat, tokoh agama, dan seluruh komponen bangsa seyogyanya menjaga Pancasila dari ancaman dan rongrongan pihak manapun.

Karena Pancasila sudah sangat ideal bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Ditambah lagi dengan Kebhinekaan. Maka semakin memperkokoh persatuan dalam kesatuan pandangan, cita-cita, dan keberagamaan.

Penguasa/pemerintah harus bijak menempatkan diri dan kebijakannya, jangan sampai justru membelakangi nilai-nilai Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kepada para politisi dan partai politik kawal lah Pancasila sebagai aset nasional yang sangat berharga. Jangan kalian jual dan tukar dengan apapun. Sebab itu adalah kunci kekuatan bangsa dan negara NKRI. (*)