Liputan Khusus

Aksi Main Hakim Sendiri terhadap Pekerja Medco Sudah Harus Dihentikan

“Jika kita lihat duduk masalahnya, sebenarnya ini banyak yang bukan aspirasi warga secara umum, tapi ulah segelintir orang,”

Foto | Istimewa

ACEHSATU.COM | ACEH TIMUR – Aksi massa yang menyandera petugas Medco dari staf Humas dan sekuriti perusahaan itu oleh sejumlah warga Desa Julok Tunoeng, Kecamatan Julok, Aceh Timur benar-benar memprihatinkan.

Hanya karena persoalan jalan berdebu, kemudian petugas sekuriti dan staf humas akhirnya jadi bulan-bulanan sejumlah warga. Padahal, mereka hanya membuka jalan untuk bisa melewati jalan yang sudah blokade lebih dari 10 jam.

Informasi dihimpun ACEHSATU.COM, Senin (21/8/2017), aksi massa tersebut sangat memprihatinkan, apalagi hal itu terjadi di area investasi yang menjadi prospek ekonomi masa depan rakyat Aceh, bukan saja masyarakat Aceh Timur.

Kasus yang terjadi Minggu (20/8/2017), kemarin, setelah petugas Medco membuka blokade jalan agar bisa lewat, sejumlah warga kemudian marah dan mengarak petugas itu ke meunasah gampong tersebut.

Hal yang mencengangkan, petugas sekuriti dan humas perusahaan itu disandera sedikitnya 10 jam sejak diarak warga ke meunasah. Saat diarak, rombongan petugas Medco tidak diperbolehkan memakai mobil dan dipaksa jalan kaki yang berjarak sekitar 1,5 km dari lokasi blokade.

“Kami sebenarnya gak setuju dan sangat sedih mendengar ada aksi seperti itu, orang Medco diperlakukan seperti pencuri saja. Padahal mereka itu warga Aceh Timur juga,” kata seorang warga Julok.

Seorang kalangan pemerintahan di kecamatan itu menilai, kasus main hakim sendiri itu sudah sering terjadi di lapangan. Karena itu, semua pihak seharusnya lebih bisa bersikap bijak dalam menyikapi masalah yang terjadi.

“Semua masalah bisa kita selesaikan dengan cara baik-baik, seharusnya masyarakat kita harus melihat jauh ke depan, jangan mudah terpancing emosi,” katanya.

Senada disampaikan seorang kalangan aparatur gampong di Kecamatan Julok. Ia mengaku, sangat prihatin atas masalah tersebut.

“Jika kita lihat duduk masalahnya, sebenarnya ini banyak yang bukan aspirasi warga secara umum, tapi ulah segelintir orang,” kata pria yang enggan namanya disebutkan.

Menurutnya, jika memang persoalan yang meyangkut kepentingan masyarakat secara umum, pihak aparatur gampong yang harus dilibatkan dalam memecahkan masalah secara arif. “Bukan dengan cara-cara preman dan anarkis, ini yang sangat kita sesali,” katanya.

Selain itu, ada pihak juga yang berharap agar kasus seperti itu harus diselesaikan secara hukum. Karena jika dibiarkan maka akan terus terjadi hal yang sama ke depannya.

“Sepertinya harus ada tindakan tegas dari aparat terhadap ulah segelintir oknum ini, selain mengganggu proses investasi, juga berdampak buruk terhadap pelaksanaan pekerjaan ke depannya. Nanti setiap orang bisa protes seenaknya saja hanya karena urusan pribadi tidak tertampung, ini bahaya,” sebut Ismail, warga Julok.

Seperti diketahui, aksi massa terhadap pekerja Medco itu berawal dari aksi Anwar (40), warga Desa Julok Tunoeng, Kecamatan Julok, Aceh Timur yang menuntut Medco membayar Rp 150 ribu per hari atau Rp 4,5 juta per bulan atas masalah debu di jalan yang dibangun Medco.

To Top