Akhirnya Israel Ingin Berdamai dengan Warga Palestina, tapi Tidak dengan Hamas

ACEHSATU.COM Seorang penasihat utama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan konflik di Gaza yang berakhir dengan gencatan senjata, Jumat (21/5/2021), telah melemahkan kelompok Hamas dan membuka jalan bagi perjanjian damai.

Mark Regev, yang juga mantan duta besar Israel untuk Inggris, menuduh kelompok milisi terbesar di Palestina itu sebagai yang memulai gara-gara.

“Mereka memulai rangkaian tindak kekerasan ini tanpa alasan apa pun dan mereka sekarang sudah menanggung akibatnya,” kata Regev seperti dikutip BBC.

Ledakan menerangi langit malam di Gaza pada Selasa (18/5/2021). Jet tempur Israel terus membombardir Gaza dan menewaskan lebih dari 200 orang selama sepekan terakhir.(AFP PHOTO/MAHMUD HAMS)

Ia mengklaim bahwa Hamas telah dikalahkan dan menyampaikan harapan agar suara moderat dari Palestina bisa lebih mengemuka.

“Apa yang bisa Anda lakukan kalau Hamas menentang semua solusi politik?” ujarnya.

“Saya harap kami bisa berdamai dengan warga Palestina, tetapi hal itu tidak akan terjadi dengan Hamas,” pungkas Regev.

Di pihak lain, ketua bidang politik Hamas, Ismail Haniya, mengindikasikan bahwa Hamas menang dalam pertempuran yang berlangsung 11 hari.

Haniya menambahkan akhir konflik dengan Israel kali ini merupakan “lompatan besar dalam sejarah konflik kita melawan musuh.”

“Perang ini meruntuhkan ilusi untuk negosiasi,” kata Haniya, sembari menyebut bahwa perlawanan yang dilakukan Hamas adalah “pilihan strategi terbaik” untuk kemerdekaan .

“Kami sebagai sebuah gerakan dan pemimpin pergerakan, bersama orang-orang baik bangsa ini dan seluruh dunia, akan membangun Gaza kembali,” kata Haniya.

Israel, Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat lainnya memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris dan tidak bersedia berunding dengan mereka. Hamas menguasai Jalur Gaza, sementara Otoritas Palestina yang diakui dipegang oleh kelompok Fatah. (*)