Aceh Barat

Akademisi STAIN Meulaboh Bahas Upaya Deradikalisme

ACEHSATU.COM, Meulaboh – Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tengku Dirundeng (TD) Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh melakukan pengkajian paham-paham Islam dalam upaya mengantisipasi berkembangnya paham radikal di daerah itu.

Ketua I STAIN Meulaboh Dr H Syamsuar Basyariah,M.Ag memberi materi pada acara seminar ulama Aceh di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh dalam upaya Deradikalisme Terorisme, Rabu (27/1/2016) (ACEH.ANTARANEWS.COM)

Ketua I STAIN Meulaboh Dr H Syamsuar Basyariah,M.Ag memberi materi pada acara seminar ulama Aceh di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh dalam upaya Deradikalisme Terorisme, Rabu (27/1/2016) (ACEH.ANTARANEWS.COM)

Ketua I STAIN Meulaboh Dr H Syamsuar Basyariah, MAg di Meulaboh, Rabu (27/1/2016) mengatakan, deradikalisme dapat dilakukan untuk menetralisir paham-paham radikal melalui pendekatan interdisipliner seperti hukum, psikologi, agama dan sosial budaya bagi mereka yang dipengaruhi.

“Sudah selayaknya kita memikirkan model pendidikan multikultural. Sebagai bagian integral dari upaya untuk menanggulangi radikalisme dan terorisme di Tanah Air, aktifitas pendidikan semestinya diorientasikan pada upaya untuk melahirkan kesadaran kritis,” katanya.

Dengan upaya tersebut kata dia, sehingga mendorong anggota masyarakat untuk berpikir logis dan analitis, seraya tidak terjebak pola pikir dan perilaku radikal yang membahayakan diri dan bangsa Indonesia.

Dr Syamsuar yang juga Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh Barat ini menyampaikan, paham radikal sangat berbahaya karena itu upaya deradikalisasi terorisme harus diwujudkan dengan program reorientasi motivasi, re-edukasi, resosialisasi.

Kemudian mengupayakan kesejahteraan sosial dan kesetaraan dengan masyarakat lain bagi mereka yang pernah terlibat terorisme maupun bagi simpatisan, sehingga timbul rasa nasionalisme dan mau berpartisipasi dengan baik sebagai Warga Negara Indonesia.

“Landasan berpikir mereka berupa kalimat tauhid la ilaha illa Allah. Yang berarti tiada tuhan selain Allah, dan tiada otoritas dan syariat kecuali syariat dan otoritas Allah. Sehingga teologi yang tidak sepaham dengan mereka dianggap musyrik, kafir, fasik dan zalim,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan, ada empat faktor yang menyebabkan munculnya radikalisme, pertama faktor domestik seperti masalah kemiskinan, ketidak adilan dan kecewa pada pemerintah menjadi pemicu orang-orang itu bergabung ke kelompok teroris atau ISIS.

Kemudian faktor International seperti ketidak adilan global, politik luar negeri yang arogan serta imperialisme modern negara super power, ketiga faktor kultural seperti masalah pemahaman sempit tentang kitab suci, terutama Quran ditafsirkan secara bebas.

Terakhir faktor Epsitemologi, seperti minimnya pengetahuan agama dan pengetahuan umum, sehingga setiap apa yang dipikir dan dilakukan selalu mengatasnamankan agama, ini yang selama ini keliru.

“Kelompok ini memiliki persamaan dengan karakter kelompok fundamentalis, karena radikalis ini adalah menganggap kehidupan Islam dan sistem kenegaraan yang telah ada di dunia muslim sebagai penyimpangan, dan harus diubah dengan cara yang mendasar,” katanya menambahkan.(ACEH.ANTARANEWS.COM)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top