Ahmad Yulden Erwin Meninggal Dunia: Selamat Jalan Camerad!

Ahmad Yulden Erwin merupakan sosok sastrawan yang juga aktif di dunia antikorupsi.
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Yulden Erwin. | IST

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ahmad Yulden Erwin Meninggal Dunia, Selamat Jalan Camerad!

Komunitas sastrawan dan para pegiat antikorupsi kini berduka.

Ahmad Yulden Erwin, seorang sastrawan cerdas sekaligus tokoh gerakan antikorupsi Indonesia meninggal dunia, Minggu (13/2022), pukul 14.40 WIB.

Kabar duka itu diketahui dari postingan di beranda facebook milik Ahmad Yulden Erwin sendiri, yang dituliskan sang anak.

“Innalillahi wainnailaihirojiun telah berpulang ke rahmatullah ayahanda kami Ahmad Yulden Erwin bin Nurhudin pada hari ini jam 14.40, di kediamannya Jl. Sentot Ali Basya 43 Waydadi Sukarame Bandar Lampung. Kami sekeluarga memohon maaf (jika) selama ini ayah kami banyak melakukan kekhilafan, semoga ayahanda kami diterima di sisi Allah SWT. Amin,”

Ahmad Yulden Erwin merupakan sosok sastrawan yang juga aktif di dunia antikorupsi.

Pria kelahiran Tanjungkarang, pada tanggal 15 Juli 1972 ini menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

Selama hidupnya almarhum aktif menulis puisi dan prosa sastra sejak tahun 1987.

Sebelum meninggal, Ahmad Yulden Erwin memang diketahui terserang stroke beberapa tahun ke belakang.

Meski begitu, sosok yang oleh aktivis antikorupsi kerap disapa dengan sebutan Camerad Erwin ini masih tetap aktif dalam diskusi-diskusi dan mengisi pelatihan menulis puisi yang diasuhnya secara daring. 

Beberapa puisi karyanya pernah diterbitkan dalam antologi puisi bersama para penyair Lampung dan nasional, di antaranya: Memetik Puisi Dari Udara (1987), Gelang Semesta (1989), Belajar Mencintai Tuhan (1992), Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh (1995), Festival Januari (1996), Refleksi Setengah Abad Indonesia (1996), dan Mimbar Penyair Abad 21 (1997).

Setelah tahun 1999, Ahmad Yulden Erwin praktis berhenti memublikasikan puisi-puisinya dan lebih banyak aktif di gerakan sosial antikorupsi.

Lalu tahun 2012, Ahmad Yulden Erwin mulai aktif kembali menulis puisi. Pada tahun 2013 beberapa puisinya telah dipublikasikan di beberapa media massa seperti Lampung Post, Kompas Minggu, dan Koran Tempo.

Ia sempat diundang membacakan puisi-puisinya dan menjadi narasumber diskusi tentang kritik sastra pada acara Binale Sastra Internasional tahun 2013 di Salihara, Jakarta.

Tahun 2014 kumpulan puisinya “Perawi Tanpa Rumah” mendapat rekomendasi sebagai buku puisi terbaik tahun 2013 oleh majalah Tempo.

Kemudian pada tahun 2014 narasi puitiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, diterbitkan di Belanda, bersama dua puluh sastrawan dari berbagai negara di dalam buku “The Empty Place”.

Dalam dunia antikorupsi, Ahmad Yulden Erwin terlibat aktif di Komite Anti Korupsi (KoAK). Aktivitasnya sebagai koordinator KoAK, membuat ia sering turun ke pelosok-pelosok desa di Lampung, membangun basis dan membentuk Posko Masyarakat Pemantau Korupsi (PMPK) di desa-desa.

KoAK sendiri memiliki sekitar 3000 orang relawan dan partisipan yang aktif melakukan pemantauan dan investigasi korupsi di Lampung. Terakhir jaringan KoAK berkembang hingga ke 8 propinsi di Sumatera.

Pada medio 2002 hingga 2006, Ahmad Yulden Erwin sempat mengemban kepercayaan sebagai konsulat nasional Gerakan Anti-Korupsi (Gerak) Indonesia; koalisi LSM antikorupsi di Indonesia yang membawahi 37 organisasi antikorupsi di 18 provinsi di Indonesia. 

Nama Ahmad Yulden Erwin begitu familiar di lingkungan aktivis antikrupsi di Aceh. Hampir tidak ada aktivis dan pegiat antikorupsi di daerah ini yang tidak memperoleh gemblengan sang Camerad.

Selama jalan Camerad Erwin, selamat menuju kehendak keilahian! (*)