Agar Puasamu Selamat, Jangan Lakukan Hal Berikut Ini

Kata sebuah pepatah, "mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya". Pepatah tersebut kira-kira bermakna mempertahankan apa yang sudah berhasil kita raih lebih sulit ketimbang untuk meraih yang baru.
Ilustrasi Foto; pixabay.com

ACEHSATU.COM – Kata sebuah pepatah, “mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya”. Pepatah tersebut kira-kira bermakna mempertahankan apa yang sudah berhasil kita raih lebih sulit ketimbang untuk meraih yang baru.

Jika diibaratkan seorang atlet periah medali, maka mempertahan rekor atau medali tersebut lebih sulit ketimbang meraihnya.

Bila dikaitkan dengan amalan ibadah yang telah kita lakukan, baik ibadah shalat, puasa, zakat, haji, sedeqah, infak, dan amalan-amalan yang lainnya, kita mesti takut dan kuatir jangan-jangan amalan itu tidak berbekas bahkan hilang dari catatan buku amal kita disebabkan oleh kesalahan kita sendiri.

Sehingga seluruh perbuatan baik yang pernah dilakukan hanya menjadi fatamorgana saja dan tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi dirinya.

Bila kita berpuasa, maka yang tersisa dari puasa kita hanyalah lapar dan dahaga saja sedangkan pahalanya hilang begitu saja.

Itulah yang disebut oleh para ulama, dalam melakukan ibadah, seseorang harus menjaga sikap dan perilakunya agar pahala dari ibadah yang telah dikerjakannya dapat utuh tercatat dalam buku amalan di sisi Allah yang diakhirat nanti akan memberikan manfaat.

Dalam kitab-kitab tasawuf para ulama telah menuliskan dan mengajarkan bagaimana caranya agar manusia dapat menjaga amalannya dengan selamat.

Termasuk ibadah puasa yang sangat rentan hilangnya pahala puasa karena kita tidak menjaga diri dari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa.

Agar pahala puasamu selamat bukan hanya dalam satu bulan selama ramadan ini namun juga tetap utuh tercatat dalam buku amalan kebaikan di sisi Allah Swt hingga akhirat kelak, maka hal-hal yang perlu diperhatikan untuk dijaga antara lain;

Tidak makan dan minum di siang hari

Kalau masalah tidak boleh makan, minum, dan jimak (bersetubuh) disiang hari tentunya sudah lumrah diketahui oleh semua orang.

Bukan hanya pada jumlahnya, walaupun sedikit atau sebentar saja, bila hal itu dilakukan maka batal lah puasa kita, dan pahalanya pun tidak ada.

Bahkan justru sebaliknya, siapa saja yang tidak berpuasa dengan sengaja tanpa mememuhi syarat yang diperbolehkan menurut syar’i maka berdosalah ia karena telah melanggar perintah Allah Swt.

Tidak berkata bohong dan fitnah

Puasa orang-orang yang sudah bagus agamanya akan melahirkan puasa yang berkualitas pula.

Puasa orang-orang tersebut tergolong sebagai puasa orang-orang khusus.

Biasanya puasa level ini hanya mampu dilakukan oleh para ulama dan ahli ibadah.

Berkata bohong atau berdusta bukan hanya dapat membatalkan puasa dan kehilangan pahala puasa bahkan mendapat dosa berganda.

Dosa karena batal puasa dan dosa karena berdusta.

Jadi sekecil apapun kebohongan yang kita lakukan selama kita berpuasa, maka hal itu berarti puasa kita secara hakikat sudah batal.

Apalagi jika melakukan fitnah.

Tentu dosanya sangat besar.

Hari-hari ini masyarakat Indonesia disibukkan oleh situasi dan kondisi politik yang tidak sehat dan cenderung melahirkan begitu banyak kebohongan, dusta, dan fitnah yang diciptakan, dilakukan, dipertontonkan oleh orang-orang yang tidak mengindahkan puasa mereka.

Sungguh perkataan bohong, menyembunyikan kebenaran, tidak jujur, menipu orang lain merupakan perilaku-perilaku yang dapat dapat menghapus pahala puasa.

Sehingga percuma saja mereka berpuasa, menahan diri dari makan dan minum namun tidak memelihara diri dari sifat buruk tersebut.

Menjaga lisan

Memelihara lisan tergolong perbuatan yang sangat dianjurkan dalam agama agar puasamu selamat.

Selamat artinya kita memperoleh seluruh pahala dan hikmah puasa ramadan yang kita jalankan tersebut.

Kata orang, ‘lidahmu harimaumu’ adalah benar adanya.

Lidah yang dimaksud disini yaitu menjaga perkataan atau pembicaraan kita agar tidak menyakiti orang lain yang dapat menjadi malapetaka bagi diri sendiri.

Bahkan nabi mengingatkan kepada umatnya agar berhati-hati dengan bahaya lidah yang terwujud melalui perkataan-perkataan yang buruk dan menyakiti.

Menurut nabi, banyak diantara umatnya nanti dihari kiamat masuk neraka gara-gara mereka tidak menjaga lisannya saat didunia.

Menahan marah dan bersabar

Sudah lazim bila kita belum makan dan minum atau dalam keadaan perut lapar, keadaan emosi sangat sensitif.

Kadang sedikit saja ada kesalahan kita langsung bereaksi dengan sikap marah.

Dalam keadaan berpuasa sudah barang tentu kemarahan akan cepat sekali tersulut bila kita tidak mampu menahannya atau sabar atas apa yang sedang terjadi.

Misalnya sedang macet dijalan, atau antrian yang panjang dan membutuhkan penantian yang lama.

Jika tidak sabar atas kondisi itu maka puncaknya adalah marah.

Tetapi tahukah kita bahwa kemarahan itu sebenarnya datang dari syaitan yang ingin menganggu dan merusak puasa orang-orang beriman.

Marah itu seperti bola api yang dapat membakar siapa saja termasuk pahala puasa mereka.

Oleh karena itu orang yang sedang berpuasa agar hati-hati dengan apapun yang dapat membawa perasaan itu melahirkan kemarahan.

Bila hal ini terjadi maka salah satu cara yang dianjurkan adalah berwudhu.

Dengan berwudhu berarti kita berusaha memadamkan bara api yang dibawa oleh iblis dan hendak dimasukkan dalam hati kita.

Menjaga mata atau pandangan

Dalam kita Sirajuth Thalibin dikatakan bahwa memelihara diri dari memandang hal-hal yang haram merupakan cara terbaik dalam menjaga amalan.

Perilaku menjaga mata atau pandangan adalah bentuk tidak memandang segala sesuatu yang dilarang.

Misalnya memandang aurat lawan jenis

Menjaga pandangan pada zaman super modern ini memang sangatlah sulit. Tidak mudah menghindar agar kita tidak memandang aurat lawan jenis apalagi perempuan-perempuan seksi sekarang bebas berlalu-lalang didepan umum.

Oleh karena itu maka wajar bila diwajibkan bagi kaum muslimah (wanita muslim) untuk menutup aurat mereka dengan benar-benar agar kaum laki-laki dapat terhindar dari fitnah aurat perempuan.

Sedangkan bagi laki-laki diperintahkan agar menjaga pandangan mereka.

Menjaga kemaluan

Berikutnya hal yang harus diperhatikan dan dijaga oleh mereka yang ingin agar amalan puasanya selamat adalah memelihara kemaluan mereka.

Bukan hanya tidak boleh berzina, bahkan menampakkan saja kepada orang lain yang bukan mahramnya sudah dosa besar.

Berdiam diri ditempat yang terhindar dari dosa

Tidak salah jika kita selama ramadan untuk mengasingkan diri dari tempat-tempat keramaian yang dikuatirkan kita tidak mampu menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan dan menghilangkan pahala puasa.

Justru dengan berdiam diri di rumah, masjid, tempat kerja, mungkin lebih baik daripada membiarkan diri kita terjerumus pada kemaksiatan dan meninggalkan puasa.

Guna mengisi waktu di rumah atau tempat-tempat lain yang jauh dari keramaian, sangat baik bila kita melewatinya dengan sambil belajar, membaca Al-Quran, membaca buku, menulis artikel, atau berzikir, shalat sunnat, atau berdiskusi dengan teman-teman tentang hal-hal yang positif daripada keluyuran keluar rumah tanpa ada maksud dan keperluan.

Menghayal hal-hal pornografi

Ternyata pahala puasa juga dapat hilang karena seseorang terlalu membayangkan hal-hal yang bersifat pornografi yang dapat membangkitkan gairah berahi atau sering disebut menghayal.

Perbuatan menghayal apalagi sampai menimbulkan syahwat (berahi) terhadap lawan jenis bahkan ada yang sampai mengeluarkan mazi (cairan bening dari kemaluan), maka hal itu telah mengurangi pahala puasa, mungkin juga hilang pahala puasamu bila hal tersebut disengaja.

Mungkin itulah beberapa hal yang harus diperhatikan dan dijaga oleh umat muslim yang sedang berpuasa agar ibadah puasamu tidak sia-sia.

Sehingga apa yang dikuatirkan yaitu banyak orang berpuasa namun mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga tidak terjadi pada diri kita.

Menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan dan menghapus pahala puasa merupakan sebuah keniscayaan.

Bila kita menginginkan hari kemenangan yang dinanti-nanti dapat diraih dengan pahala sempurna dari ibadah puasa kita.

Tetapi bila berpuasa hanya sekedar ikut-ikutan atau karena tidak enak dilihat oleh orang lain, maka silakan saja lakukan apapun, namun ingat puasa yang demikian itu tidaklah berarti apa-apa disisi Allah Swt.

Puasa demikian itulah yang hanya memperoleh lapar dan dahaga saja, pilih mana? (*)