Budaya dan Seni

AFF 2017 Ditutup, Film Aceh Terus Bangkit

Pesan damai melalui media film merupakan satu hal pokok yang mesti dipertimbangkan oleh pemerintah.

Foto | Muhrain

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Setelah berlangsung sejak Jumat (8/12/2017) sampai dengan Minggu (10/12/2017) Aceh Film Festival (AFF) 2017 akhirnya mengumumkan hasil kompetisi di Malam Penganugerahan. Diwakili Reza Fahlevi, sambutan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menutup even bergengsi tersebut.

“Pesan damai melalui media film merupakan satu hal pokok yang mesti dipertimbangkan oleh pemerintah, karenanya Aceh dengan bangga menyambut baik kesuksesan penyelenggaraan AFF 2017,” papar Reza yang menjabat Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Aceh Film Festival (AFF) pertama kali diadakan pada tahun 2015 yang diinisiasikan oleh Aceh Documentary dan ikut serta beberapa komunitas seni juga film di Aceh sebagai bentuk apresiasi bagi para penggiat film Aceh, nasional dan Internasional.

Malam Penganugerahan turut diisi penampilan kolaborasi film, musik, dan teatrikal oleh talen senior seniman Aceh, antaranya; Moritza Taher dan kru, Tu-Ngang Iskandar (Presiden Lempap) mahasiswa pascasarjana ISI Jogyakarta,  Komunitas Kanot Bu yakni Idrus Bin Harun juga Fuadi S Keulayu serta Jamal Syarif yang juga turut menjadi tim AFF.

Pengumuman nominasi pemenang film terbaik untuk kategori Aceh Documentary Competition (ADC) dan Aceh Documentary Junior (ADJ) 2017 langsung disampaikan oleh sineas nasional Emil Heradi, Darius Siyinathrya dan Teuku Rifnu Wikana serta untuk film terbaik versi para juri AFF 2017 diumumkan pula oleh seniman Aceh, Tu-ngang Iskandar. Pemenang langsung mendapatkan plakat serta piagam penghargaan.

Menurut Sarjev,  salah satu film maker senior, sejarah kompetisi film di Aceh sudah pernah gaung saat 2004, keberadaan film Aceh sejak saat itu sudah mampu bersaing ketat dengan film-film nasional.

“Selamat untuk pemenang dan selaku anak-anak muda perfilman, teruslah belajar termasuk dari sejarah perfilman Aceh terdahulu, agenda AFF ke depan patut mengajak pula seluruh pihak untuk saling mengokohkan,” ungkap Sarjev di Gedung Tertutup TBSA, Banda Aceh.

AFF yang digagas tiga tahun terakhir telah kian menunjukkan terus bangkitnya sineas Aceh untuk urung rembuk berkarya dan disokong langsung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk menjadi satu poros kebudayaan paling penting di tingkat nasional dan internasional.

Berikut nominasi dan pemenang AFF 2017 kategori ADC dan ADJ:

Nominasi ADC; film “Sigeupai Harapan” sutradara Muhammad Azkia & Agis Marwan, film “Ujian Negara” sutradara Putra Andiswan & Galang Rambu Anarchi, film “Rumah Online” sutradara Muhammad Azkia & Agis Marwan, film “Memupuk Bencana” sutradara Hendra Yudilman dan Yusuf Mulya, film “Tawa Siapa Berani Larang” sutradara Buge Cipta Jaya dan Iqbal Rizky Maulana.

Nominasi ADJ; film “Hening dalam Riuh”  sutradara Qurrata Ayuni dan Geubri Al-Varez, film “Ali” sutradara Rukiah dan Ira Senjaya, film “Bocah Rapai Plok” sutradara Nursalliya Ansari B, film “Beut Ba’da Maghreb” sutradara Randy Khardova dan Teuku Aufa.

Pemenang ADC adalah film “Ujian Negara” sutradara Putra Andiswan & Galang Rambu Anarchi, pemenang ADJ adalah film “Ali” sutradara Rukiah dan Ira Senjaya.

Pemenang film favorit juri AFF 2017 diraih oleh film “Bocah Rapai Plok” sutradara Nursalliya Ansari B. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top