Karikatur

Adu Kuat Mengelola Uang Rakyat

Seperti kata Montesquieu, seseorang akan cenderung untuk mendominasi kekuasaan jika kekuasaan terpusat pada tangannya.

Foto | ACEHSATU.COM

“Setiap orang yang mempunyai kekuasaan cenderung menyalahgunakannya menjadi kebenaran abadi! Mereka cenderung melakukannya sampai batas yang mengizinkan” (Montesquieu)

APBA 2018 disahkan. Proses kelahirannya pun tak biasa. Tarik ulur dua lembaga negara (Eksekutif dan Legislatif) atas pengelolaan uang rakyat telah mendistorsikan kewenangan masing-masing.

Perang antara Legislatif dan Eksekutif telah berbuah kegagalan–bagaimana seharusnya sistem demokrasi itu bisa berjalan tegak lurus.

Namun ternyata hal itu berbanding terbalik.

Rakyat kita pun sudah sedemikian acuh. Hingga hipotesa yang muncul; perang ini adalah upaya melegitimasi kekuasaan dengan kedok kepentingan rakyat.

Demokrasi kita tentu memang masih berjalan gamang. Tanpa ada peran para pilar, sama halnya kita kita tidak memelihara demokrasi.

Framing yang muncul, dogma trias politika seperti yang dikemukakan John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755) seakan tak berlaku.

Padahal sistem politik demokrasi menganut pembagian kekuasaan dalam tiga bidang: legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Komitmen dalam demokrasi, seperti kata Goenawan Mohammad, adalah perjuangan tanpa merusak sistem yang sudah ada.

Tapi apa lacur, rakyat yang sudah tak sabar dan seakan membenarkan apa yang sudah terjadi.

Dan ‘adu kuat’ di antara eksekutif dan legislatif sebagai pilar demokrasi adalah tontotan yang melelahkan.

Sampai keputusan sepihak akhirnya menciptakan pembenaran absolut.

Begitulah realitas politik.

Seperti kata Montesquieu, seseorang akan cenderung untuk mendominasi kekuasaan jika kekuasaan terpusat pada tangannya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top