Breaking News

Adakan Seminar dan FGD Yayasan Beudoh Gampong Hadirkan Tokoh Adat Budaya Serta Teknokrat Asli Aceh

Even PKA VII yang turut menyertakan kegiatan tersebut menuliskan motto “ta peubeudoh gampong Aceh nyang meuadab, caroeng dan sijahtra”.

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Yayasan Beudoh Gampong bersama Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) laksanakan seminar dan FGD bertajuk Beudoh Gampong untuk menatap Aceh dimulai kembali dari regional terkecil yakni gampong sebagai identitas personal maupun global, berlangsung di kantor BPB Aceh, Simpang Lima, Sabtu (11/8/2018).

T. Dadek selaku bagian dari panitia saat dikonfirmasi ACEHSATU.COM menyebutkan informasi serta rekruitmen peserta seminar diakhiri FGD Beudoh Gampong tersebut melalui pesan Whatsapp sebagai medsos paling berguna membina sinergitas beragam pihak di seluruh wilayah Aceh yang concern atas adanya institusi terkecil yakni “gampung” sebagai satu piranti pembangunan tak dapat ditinggalkan dalam rangka pembangunan Aceh masa depan.

Peserta didominasi tokoh-tokoh publik dari berbagai latar belakang, guru, dosen, jurnalis dan para tokoh adat Aceh sejumlah seratusan lebih tampak ikut serta secara aktif selain menyimak paparan para narasumber berlatar belakang tokoh adat, tokoh akademisi bahkan teknokrat, ketiganya adalah putra kelahiran asli Aceh.

Mereka adalah Badruzzaman Ismail, beliau membahas mukim dan meunasah sebagai local wisdom yang unik demi menjamin keterbukaan akses kesejahteraan di berbagai bidang, karenanya menurutnya tidak boleh ditinggalkan “gampong” juga mukim.

Lalu tampil kocak dan sangat segar, Prof. Farid Wajdi Ibrahim, mantan rektor UIN Ar-Raniry membahas fenomena kemunduran budaya bangsa Aceh dan kenyataan pendangkalan sistematis yang dilakukan berbagai pihak di luar Aceh yang hendak memundurkan kemajuan dan menghalangi kemakmuran bangsa Indonesia khususnya Aceh.

Hadir dari tokoh teknokrat, sosok Prof. Teuku Abdullah Sanny sebagai salah satu dosen ITB Bandung, dirinya juga adalah ketua umum Yayasan Beudoh Gampong.

“Aceh punya keunggulan yang melimpah, namun masih jadi kendala bagi Aceh untuk menjadikannya sebagai potensi optimal memberdayakan dan hasilnya bagi keuntungan kesejahteraan, di saat ingin membangun, Aceh butuh gampong yang siap berubah, teknologi dan SDM ada di Aceh, tetapi segalanya harus wujud lewat potensi karakter yang harus segera diubah bersama,” paparnya.

Seminar berlanjut FGD direncanakan berlangsung sampai jelang Ashar, direncanakan akan ada next step untuk menjadi rekomendasi bersama yang dapat dijadikan komitmen penyelenggara bersama para peserta.

Even PKA VII yang turut menyertakan kegiatan tersebut menuliskan motto “ta peubeudoh gampong Aceh nyang meuadab, caroeng dan sijahtra”. Saat berita ini ditayang, situasi di lokasi sedang rehat makan siang dan salat, segera dilanjutkan setelahnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top