Ada Janji di Tengah-tengah Anjloknya Ekonomi Negara

Dr. Zainudddin, M.Si Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekah | Foto for ACEHSATU.COM

Ada Janji di Tengah-tengah Anjloknya Ekonomi Negara

Oleh : Dr. Zainuddin, SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Ekonomi Indonesia dengan pertumbuhannya minus 5,30% lebih pada tahun quartal kedua tahun 2020, dan sumbangan yang paling besar atas anjloknya ekonomi negeri ini sepertinya disumbangkan oleh dua sektor utama, yaitu sektor pariwisata dan sektor transportasi.

Kontraksi sebesar ini merupakan kontraksi terdalam sejak tahun 1999, dan hal ini membuktikan bahwa kebijkan penyelenggara negara tentang pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19 tidak menunjukkan keefektifannya atau kurang mampu menjaga agar ekonomi tidak sampai terkoreksi hingga lebih dari lima persen.

Namun, di tengah-tengah anjloknya ekonomi berbagai sektor ternyata sektor pertanian masih bisa bertahan tumbuh meski dalam keadaan yang lambat.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa PDB pertanian tumbuh 16,24 persen pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara y0y, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19 persen.

Maknanya, harapan ekonomi Indonesia masih bisa diandalakan apabila pemerintah memberi porsi lebih besar pada sektor pertanian dalam hal mengejar berbagai pembangunan di bidang pertanian dan secara khusus untuk mencetak areal persawahan baru, dan seterusnya dan seterusnya.

Bila kita sedikit berenung dengan anjloknya ekonomi sebasar itu dan bahkan bisa lebih besar di akhir tahun membuat sangat riskan terhadap keberadaan kita sebagai bangsa yang masih sangat ketergantungan dari dana negara untuk kebutuhan rakyat.

Apalagi ditengah-tengah pandemik seperti ini rakyat ekonomi lemah dan merupakan rakyat kebanyakan dari penduduk Indonesia masih harus tertolong oleh negara hanya untuk kebutuhan pokok saja belum lagi yang lainnya, seperti kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Namun, di balik itu semua tentang betapa kita harus lemas mendengar anjloknya pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, dan tiba-tiba elit negeri ini membawa kabar yang membuat senyum merekah rakyat pekerja di Indonesia, yaitu katanya akan diberi insentif kepada pekerja yang berpendapatan kurang dari lima juta rupiah perbulan.

Menteri Keuangan mengatakan pemerintah sedang mengkaji rencana pemberian insentif berupa tambahan gaji bagi karyawan berpenghasilan di bawah Rp 5 juta. Karyawan penerima insentif ini diperkirakan sekitar 13 juta.

Selain itu, pemerintah juga akan memberikan bantuan sosial produktif bagi 12 juta pelaku Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM). Masing-masing pelaku UMKM akan mendapat Rp 2,4 juta.

Untuk insentif pekerja sebanyak 13 juta orang akan menelan dana sebesar Rp 31,2 triliun, dan untuk bantuan bansos produktif bagi 12 juta UMKM dianggarkan sebanyak Rp 30 triliun.

Janji kebijakan mengenai pemberian insentif tambahan bagi pekerja yang berpendapatan kurang dari 5 juta rupiah perbulan dan bantuan produktif untuk UMKM ini sangat bagus didengar, dan apakah ini menjadi kenyataan itu soal lain.

Karena untuk merealisasi kebijkan ini sebenarnya ada yang tidak yakin dan ada pula yang sangat berharap itu harus dinyatakan bukan hanya sebatas janji saja.

Dan kita tidak perlu menampilkan apa-apa yang perkara yang hanya janji tetapi tidak bisa diwujudkan, dan sebagai rakyat rencana insentif bagi pekerja dan bantuan produktif ini walaupun dalam masa anjloknya ekonomi karena Covid-19 harus benar-benar direalisasikan.

Karena memang terlihat nyata di lapangan bahwa banyak pekerja swasta sekarang yang masih bertahan berkerja sudah terkoreksi pendapatannya hingga 50%, maknannya jika kita asumsikan sebelum covid-19 mereka memiliki pendapatan per bulan 5 juta rupiah dan sekarang hanya tersisa kuarang dari 2,5 juta rupiah per bulan, serta belum lagi banyak dari karyawan swasta yang sudah terkena PHK yang sama sekali tidak memiliki pendapatan.

Ketika diungkapka rencana ini saya menyatakan ini sesuatu yang bagus untuk dimplementasikan dtengah-tengah wabah covid-19 demi menciptakan gairah ekonomi baru, karena bila tambahan pendapatan berarti akan ikut menambah konsumsi bagi mereka yang menerima dan akhirnya juga akan mempengaruhi daya beli masyarakat itu sendiri.

Oleh sebab itu, hendaknya kebijakan ini bukan ahanya sebatas hiburan melainkan harus menajdi sebuah kenyataan. Rakyat senang insya Allah covid-19 pun masuk kandang. Aminn. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik USM Aceh)