Aceh, Warung Kopi dan Tradisi “Intelektual”

 Aceh, Warung Kopi dan Tradisi “Intelektual”
Oleh: Muhammad Meuraksa
ACEHSATU.COM | OPINI – Aceh selalu punya cerita unik dan menarik, mulai dari masa penjajahan kolonial hingga abad modern kini.

Aceh kaya dengan tradisi, budaya hingga tingkah laku masyarakat.

Jiwa superiority complex seakan-akan telah menjadi dasar ‘ideologi’ masyarakat Aceh, menempatkan dirinya sebagai manusia paling mulia di dunia ini (bansa teulebeh ateuh rueng donya).

Baca Juga: Ternyata Matikan Centang Biru di Whatsaps Masuk Dalam Kategori Perbuatan Tercela, Ini Penjelasan AA Gym

Dari beragam keunikan tersebut, Aceh juga dikenal sebagai negeri seribu warung kopi.

Ya, tidak terkecuali di wilayah kota ataupun pedalaman sekalipun, yang intinya warung kopi selalu ada untuk kita temui. Kopi menjadi minuman yang hampir semua kalangan menyukainya, dari mulai para pejabat hingga rakyat jelata.

Baca Juga: Crypto, Telegram Keluarkan Coin Gram, Gratis Withdrawal $1000, Ini Cara Mendapatkanya

Warung kopi serasa ruang literasi bagi masyarakat Aceh, di sanalah mereka bertukar pikiran, membahas permasalahan sosial dan politik atau bahkan membahas isu yang remeh temeh.

kita mundur beberapa dekade ke belakang saat media informasi masih minim di kalangan masyarakat, dan hanya tersaji di warung kopi lewat sebuah layar televisi ataupun sepucuk surat kabar.

Pada era tersebut konsep media masa belum terkenal, biasanya berita tersebar dari mulut ke mulut melalui proses dialogis.

Dari asumsi inilah membuat warung kopi tak saja dianggap sebagai wadah tempat melepas lelah, tetapi juga ruang informasi dan intelektual.

Baca Juga: Mau Tahu Lokasi Nomor HP Seseorang dengan Cepat, Begini Cara Melacaknya

Kebiasaan ini kemudian terus menyebar dan menjelma menjadi ‘local widom’ tersendiri bagi masyarakat Aceh, hingga akhirnya Aceh pantas mendapat julukan sebagai “nanggroe siribé waroeng kupi”.

Dalam literatur sejarah dunia, warung kopi juga sering diidentikkan sebagai tradisi intelektual. Sejak masuknya kopi ke daratan Eropa pada abad ke-17, lambat laun kopi menjadi minuman yang sangat populer dan menjadi minuman para tokoh-tokoh Intelektual eropa, terutama di Prancis.

Cafe d’Alexandre menjadi tempat nongkrong para Intelektual Prancis, seperti Charles Monstesquieu (Tokoh yang merumuskan Trias Politika: Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif) dan Voltaire salah satu tokoh yang melahirkan enlightenment  (Pencerahan) di Prancis.

Baca Juga: OPINI: Memaknai Energi Berkeadilan Untuk Aceh

Di warung kopi itu ide-ide muncul. Melalui diskusi-diskusi, bertukar ide, adu gagasan dengan para teman-temannya, maka lahirlah era pencerahan di Prancis. Selain Cafe d’Alexandre, warung kopi yang paling terkenal saat itu Cafe la Regence tempat para intelektual membicarakan ide dan gagasan mereka.

Walaupun zaman telah berubah, budaya minum kopi telah menjadi gaya hidup tersendiri di dalam trend masyarakat Aceh.

Baca Juga: Penjelasan Surat Al Alaq Ciri Orang Sok Tahu

Tradisi ini telah turun-temurun kepada generasi dengan nuansa yang berbeda. Di era digitalisasi, warung kopi telah ditranformasikan dengan keadaan zaman. Kini, tata ruang yang nyaman dan fasilitas internet wifi gratis umumnya menarik lebih banyak kalangan muda untuk betah berlama-lama di warung kopi.

Walaupun demikian, bagi mereka yang benar-benar penikmat kopi, warung yang sederhana namun menyajikan racikan kopi terbaik tetap menjadi tujuan nomor satu walaupun tanpa ada fasilitas wifi sekalipun.

“Haruskah aku bunuh diri, atau minum secangkir kopi?”, ujar Albert Camus, peraih nobel sastra dari Prancis.(*)

(Penulis adalah penikmat sanger di Taufik Kupi Sigli, Aceh)