Aceh Termiskin, Dosa Rakyat atau Pemerintah?

Ketidakmampuan pemerintah mengatasi kemiskinan bisa digolongkan sebagai kegagalan menjalankan amanah undang-undang.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Kaya atau miskin bukanlah sebuah kehinaan. Sebab jika kaya itu sebagai kemuliaan maka Qarun Laknatillah tergolong manusia yang paling mulia setelah Nabi Sulaiman As.

Begitupun miskin bukan pula sebuah kehinaan sebab Nabi Aiyub As tergolong Nabi yang paling miskin, pun Rasulullah Saw yang mulia juga sangat mencintai orang-orang miskin dan fakir.

Maka kaya atau miskin itu hanyalah pandangan semu mata duniawi dalam menentukan status sosial.

Dunia hanya memandang materi dan kekayaan. Sedangkan kemiskinan justru sebuah kehinaan yang memalukan.

Padahal tujuan hidup manusia yang sebenarnya adalah mencari kebahagiaan, dan memperoleh ketenangan hidup bukan mencari kekayaan.

Sehingga ada adagium sederhana bagi mereka yang percaya bahwa letak kebahagiaan itu bukan terletak pada materi atau kekayaan.

“Lebih baik miskin asal bahagia”, begitu kalimat itu berbunyi.

Pada kenyataannya memang begitu, banyak orang miskin yang kita hidup bahagia dengan keluarganya, mereka tenang dan menikmati hidup apa adanya.

Di sisi lain kita perhatikan, ada orang yang kaya raya bahkan hidup mereka hancur tidak karuan. Rumah tangga yang dijalani terasa bagaikan neraka.

Keluarga rusak karena anak-anak yang terkena Narkoba, dan tidak ada kedamaian dalam kehidupan mereka.

Profil keluarga bergelimang harta tapi tidak bisa hidup tenang dan bahagia. Hidup hanya untuk mengumpulkan harta dan kekayaan sebanyak-banyaknya.

Terkadang untuk tujuan agar menjadi kaya, mereka menghalalkan segala cara hingga melakukan kejahatan pun dilakoninya.

Berapa banyak para pejabat negara yang ditangkap karena melakukan korupsi. Hak orang miskin pun disunatnya. Semua itu dilakukan tanpa ada rasa kemanusiaan.

Mengapa dilakukannya? Tidak lain adalah karena termotivasi untuk cepat kaya dan ingin hidup mewah. Inilah gaya hidup hedonis.

Aceh yang hari ini divonis miskin bukan karena rakyatnya malas. Rakyat Aceh tipikal pekerja keras dan memiliki mentalitas pemberani.

Fakta tersebut dapat dilihat sendiri bagaimana laki-laki dan perempuan Aceh yang tangguh bekerja di sawah, kebun, melaut, dan berdagang.

Perempuan Aceh pekerja andal diberbagai sektor dan tidak gengsi melakukan pekerjaan apapun asal itu halal.

Mitos yang mengatakan orang Aceh malas hanyalah suara nyinyir yang justru tidak jelas asal usulnya yang mendiskreditkan karakter orang Aceh.

Sejatinya data BPS yang menjelaskan tentang kemiskinan di Aceh atau tingkat kemiskinan yang meningkat itu sebagai sebuah tamparan keras muka pemerintah.

Kemiskinan yang dialami Aceh tentu saja merupakan dosa besar yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya.

Rakyat tidak pernah perlu malu dengan kondisi yang ada. Justru pemerintah lah yang harus menyadari bahwa sebuah kesalahan besar telah dilakukan.

Ketidakmampuan pemerintah mengatasi kemiskinan bisa digolongkan sebagai kegagalan menjalankan amanah undang-undang.

Pemerintah bisa diturunkan atas pelanggaran tersebut sebab telah melakukan pengkhianatan terhadap konstitusi yang mewajibkan mereka untuk memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Nyatanya kegagalan pemerintah itu ingin dilempar kepada rakyat. Seolah rakyat malas bekerja dan tidak melakukan apapun.

Hello, rakyat Aceh sejak dulu selalu menerima perlakuan diskriminatif dari penguasa Jakarta.

Aceh tidak pernah dibangun secara serius dan ikhlas. Bahkan perusahaan-perusahaan besar tidak dibuka di Aceh dengan alasan tidak kondusif, termasuk infrastruktur.

Perjuangan rakyat Aceh untuk dapat hidup sejahtera seperti provinsi-provinsi lain terutama pulau Jawa harus melalui pertumpahan darah.

Hanya meminta haknya dipenuhi oleh pemerintah, rakyat Aceh harus mengorbankan ratusan ribu jiwa manusia dengan konflik militer.

Coba bayangkan bagaimana balasan pemerintah pusat terhadap kebaikan Aceh yang telah membangun Indonesia melalui kekayaan bumi Aceh yang disedot untuk infrastruktur pulau Jawa. Apakah masih kurang?

Jadi, intinya hari ini rakyat sedang menunggu permintaan maaf pemerintah atas kegagalan mensejahterakan rakyatnya.

Akui saja bahwa tanggung jawab yang diberikan oleh undang-undang tidak mampu dilakukan. Sehingga tidak perlu menyalahkan pihak lain. Sebab mengentaskan kemiskinan adalah tugas dan tanggung jawab pemerintah (negara).

Kemiskinan yang menimpa rakyat benar-benar ia sebagai dosa pemerintah. (*)