Aceh, Seuramo Mekkah, dan Rasuah

Pemimpin di Aceh untuk saat ini sungguh menyedihkan. Aceh menjadi nomor 1 kasus korupsi. Wakil ketua Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif pernah menyebutkan bahwa ada 6 provinsi dengan kasus tindak pidana korupsi tertinggi di Indonesia.
Nurul Fakri. Dokumen pribadi.

Oleh: Nurul Fajri

NANGGROE Aceh Darussalam (NAD) merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Aceh terletak diujung Utara pulau Sumatera.

Aceh terkenal sebagai Kota Serambi Makkah (Seuramo Mekkah).

Aceh mempunyai peran penting dalam penyebaran agama Islam, sehingga Aceh sangat kental dengan syariat Islam. Setiap melakukan kegiatan apapun, umat Islam di Aceh seharusnya menginggat dampak ke akhirat.

Pemimpin di Aceh untuk saat ini sungguh menyedihkan. Aceh menjadi nomor 1 kasus korupsi. Wakil ketua Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif pernah menyebutkan bahwa ada 6 provinsi dengan kasus tindak pidana korupsi tertinggi di Indonesia.

Di antaranya Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, Papua dan Papua Barat. Sampai saat ini, ada 6 kasus korupsi di Aceh yang masuk radar KPK. Dana yang dikorupsi pun tidak main-main sampai miliyaran rupiah.

Menurut Islam, korupsi merupakan tindakan amoral yang bertentangan secara diametral dengan nilai luhur seorang muslim.

Seorang muslim dituntut untuk bersifat al shadiq (jujur) dan al Amin (menjunjung amanah).

Koruptor mempunyai sifat berkebalikan yaitu al thama (serakah) dan al Kadzib (penipu).

Hal ini sejalan dengan prinsip Islam bahwa kekayaan negara harus di- tasharauff-kan dengan jujur untuk kemaslahatan umat.

Jadi, harta hasil kekayaan yang didapat dari korupsi termasuk harta yang haram. Katagori haram karena cara memperolehnya dengan jalan yang tidak benar.

Korupsi ini merupakan perbuatan memperkaya diri sendiri secara zalim yang bertentangan dengan prinsip dan tujuan ekonomi Islam, karena al-Qur’an yang merupakan sumber utama doktrin ekonomi Islam menyatakan, dalam Q.S. Al- Nisa’ (4):58, yang artinya: “Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikakn amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (memerintahkan kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia, lakukan secara adil…”.

Jika dana yang diberikan ke Aceh dialokasikan pada tempatnya tanpa adanya korupsi dari pimpinan, maka infrastruktur di Aceh akan lebih bagus, pemberdayaan ekonomi rakyat lebih baik, kemiskinan akan berkurang (Insya Allah), serta pendidikan dan kesehatan akan lebih berkelas.

Aceh dijuluki sebagai Seuramo Mekkah seharusnya malu menjadi nomor 1 terhadap perbuatan tercela tersebut (korupsi).

Akhir-akhir ini kita juga mengetahui adanya kegiatan touring motor gede (moge) yang heboh memaikai anggaran APBA sebanyak 267 juta. Seharusnya dibawah pimpinan baru yaitu Ir. Nova Iriansyah MT aceh lebih baik lagi.

Alangkah baiknya dana tersebut di alokasikan pada tempatnya, masih banyak rakyat Aceh yang membutuhkan dana tersebut untuk kondisi yang lebih baik ataupun infrastruktur yang lebih bagus.

Ekonomi Islam memandang tindakan korupsi merupakan tindakan penghianatan terhadap amanah.

Berdasarkan tafsir dan fiqih, korupsi dapat mencegah pelakunya masuk surga. Bahkan dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.

Semoga Aceh kedepannya lebih baik lagi dan para pemimpin lebih mendekat dengan agama agar niat melakukan korupsi tidak ada lagi. Amin!

Penulis adalah Mahasiswa pasca sarjana UIN Ar-Ranirry Jurusan Ekonomi Syariah.