oleh

Aceh Butuh Pemimpin yang Paham Ekonomi Bukan Seremoni Belaka

-Indeks, Opini-871 views

Oleh : Dr. Zainuddin, SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Pembangunan ekonomi sebuah kawasan sedikit banyaknya sangat ditentutukan oleh top leader (pemimpin tertinggi) dari kawasan itu sendiri.

Pentingnya pembangunan ekonomi bagi suatu kawasan atau daerah karena apapun cerita tentang hidup dan kehidupan berkaitan langsung dengan pembangunan ekonomi dan dalam banyak hal menyankut kehidupan alat ukur kesuksesannya dilihat pada segmen pembangunan ekonomi serta hampir semua permasalahan kehidupan terselesaikan dengan pembangunan ekonomi.

Menyangkut top leader Provinsi Aceh dan daerah otonom tingkat dua di seluruh Aceh untuk masa datang, angan-angan saya sebagai masyarakat harus yang memiliki idealisme yang tinggi dan memiliki konsep ekonomi yang mumpuni untuk mengejar ketertinggalan dengan kawannya di luar Aceh.

Idealisme yang maksud bagi seorang top leader adalah pribadi yang yang kuat imannya kepada Islam dan ke-Acehan, artinya mutlak bagi pemimpin Aceh harus yang Islam dan seratus persen beriman dengan sungguh-sungguh, hal ini bisa diukur dengan menguji pada perkara-perkara dasar seperti baca Alqur’an dan memahami rukun shalat serta harus diteliti tentang pelaksanaan shalat yang bersangkutan.

Idealisme seseorang akan tercermin secara mendasar pada kemauan menjalankan perintah mengerjakan shalat. Karena dengan tertibnya mengerjakan perintah shalat akan membentuk pribadi yang taat aturan dan berjiwa kesederhanaan dan juga akan menjadikan yang bersangkutan terkendali dalam perkara-perkara mungkar.

Oleh sebab itu, mulai sekarang bisa dimonitor bagi kelompok-kelompok yang berhasrat ingin mengambil peran sebagai pemimpin di Aceh untuk periode mendatang.

Pada saat sekarang ini sudah mulai ada angin bersiup-siup mencoba memunculkan tokoh-tokoh untuk ditawarkan menjadi pemimpin terutama partai politik yang ada, dan sudah diskusi-diskusi di raket-raket untuk diangkat nama-nama tertentu baik sebagai top leader Aceh maupun tingkat dua dan hal ini mencerminkan suatu fenomena yang baik di alam demokrasi.

Maknanya bila yang dimunculkan itu bisa diteliti tentang bagaimana perlakuan yang bersangkutan mengenai pekerjaan shalat dan kesehariannya terhadap implementasi nilai-nilai shalat itu sendiri.

Kenapa itu penting untuk terciptanya idealism bagi kita rakyat Aceh, karena masyarakat Aceh identik dengan Islam dan perkara Islam indikator utamanya adalah mengerjakan perintah shalat dan implementasi nilai-nilai shalat dalam kesehariannya.

Dan tidak berlebihan bila seseorang sudah benar shalatnya, maka dengan sendirinya akan benar perilakunya ditengah-tengah masyarakat dan sebaliknya apabila seseorang masih berprilaku buruk ditengah-tengah masyrakat maka dapat dipastikan shalatnya pun belum benar dan juga bila shalatnya benar sudah pasti memiliki perilaku adil.

Begitu jaga idealisme tentang keacehan, maknanya pemimpin Aceh harus memiliki pengetahuan dasar tetang Aceh, baik karakter masyarakat dan dimensi konjuntur permukaan bumi Aceh. Artinya pemimpin itu harus berasal dari rakyat Aceh itu sendiri mulai dari sabang hingga tamiang bisa menjadi bakal calon pemimpin dan bila diperlukan yang bisa berbahasa Aceh.

Tidak mungkin memiliki rasa cinta terhadap Aceh apabila tidak bisa berbahasa Aceh, dan tentang idealism ini harus diteliti juga hingga keluarganya apakah bisa berbahasa Aceh dan bila keluarganya tidak bisa berbahasa Aceh tak layak yang bersangkutan menjadi pemimpin Aceh.

Selanjutnya, seorang pemimpin di Aceh untuk masa datang mutlak diperlukan yang memiliki pengetahuan tentang konsep ekonomi.

Konsep ekonomi yang dimaksud adalah memiliki argumentasi berupa narasi ilmiah arah peta jalan (road map) pembangunan ekonomi dalam rangka mengejar ketertinggalan ekonomi dengan daerah lainya di Indonesia, artinya tidak cukup hanya mendapat dukungan dari parpol dan masyarakat karena intensnya promosi dari pendukung dan mengenai hal ini, calon pemimipin bisa diuji dengan kemapuan pengetahuannya dan dilihat empiris perilaku keseharian yang bersangkutan.

Pengetahuan tentang konsep ekonomi itu bisa dilihat bagaimana capaian tujuan itu digewajantahkan atau bagaiman langkah-langkah berupa tindakan yang akan dijalankan untuk pemecahan permasalahan yang begitu kompleks di Aceh, seperti kemiskinan, pengangguran, berkurangnya area sawah sebagai lahan produkstif, pendidikan yang tertinggal, perumahan rakyat, kehutanan yang semakin rusak, kemasyarakatan yang tidak termotivasi, keagamaan dan syiarnya dan lain sebagainya.

Dengan demikian, tidak cukup bagi pemimpin Aceh untuk masa mendatang yang hanya viral karena beberapa aktivitas sekarang dan arena ketokohan yang dipuji-puji oleh kelompok tertentu saja dan bila ini yang jadi ukuran untuk menghimpun suara agar bisa terpilih, maka kedepan tak banyak yang bisa diharapkan karena profesi pemimpin tak jauh dari mengunjungi, membuka dan meresmikan.

Bila tidak ingin Aceh semakin tertinggal hendaknya yang memiliki jalur untuk berkompetisi memperebutkan top leader, baik tingkat provinsi maupun tingkat dua harus benar-benar mencari personal yang memiliki pengetahuan konsep ekonomi yang mumpuni dan jangan sampai menampilkan tokoh-tokoh yang gagal paham.

Yang paling penting juga jangan sampai ditampilkan personal-personal yang sudah termasuk sekali kedalam kubangan persoalan hukum atau setidak-tidaknya yang bersangkutan telah menikmati nafkah hidup dari hasil kubangan yang dimaksud.

Namun, dari semua itu bisa saja persomal yang dimunculkan tidak memahami konsep ekonomi akan tetapi memiliki team work yang paham terhadap itu dan mulai belajar dari sekarang dan saya sendiri siap memberikan argumnetasi bagaiaman hendaknya konsep ekonomi Aceh kedepan.

Prioritas penting sekarang adalah hindari politik kepentingan, seperti ada beberapa wakil dari top leader yang bakal bersaing pada pemilihan pemimipin kedepan melakukan aktivitas-aktivitas menjual diri, bila ini terjadi sungguh akan melahirkan pemimpin balas budi dan akan terjadi politik suka dan tidak suka.

Mestinya undang-undang pembatasan periode pemimpin juga harus belaku menyeluruh kepada wakil top leader dalam rangka tercipta clean government.

Akhirnya, tulisan pendek ini kiranya terispirasi bagi yang memiliki hak pengajuan calon pemimpin (top leader) baik untuk tingkat provinsi maupun untuk tingkat dua di Aceh agar pembangunan ekonomi Aceh bisa mengejar ketertinggalan dan pemimpin Aceh tidak hanya sibuk dengan serimonial belaka.

Artinya tidak hanya mendatangi peusijuk dan bertugas hanya mengunjungi, membuka serta meresmikan. Rakyat Aceh sejauh pengamatan amat intens berdiskusi tentang kriteria seorang top leader yang cocok dan bisa membawa Aceh menjadi makmur, damai dan tenteram.

Menjadi Aceh yang makmur, aman dan tenteram itu kuncinya harus ada pemimpin yang idealisme dan memiliki konsep pembangunan ekonomi serta takut pada siksaan Allah apabila yang bersangkutan tidak amanah. Mohon maaf atas kekuarangan dan bila ada kesempatan dilain waktu kita sambung kembali. Wassalam. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik USM Aceh)

Indeks Berita