oleh

Aceh Berbudaya, Pelaksanaan Tradisi Tak Lepas dari Sentuhan Nilai Islam

Oleh Samsul Bahri

ACEHSATU.COM – Islam Aceh pernah Berjaya dan menjadi contoh peradaban dunia pada sekitaran abad ke- 7 kemudian menduduki klasemen ke-5 dengan menjadi salah satu Negara kerajaan islam terkuat pada masanya. Sekarang, Aceh merupakan salah satu provinsi di Nusantara yang terletak dipaling ujung utara pulau Sumatra dan menjadi bagian paling barat negeri tercinta Indonesia. Aceh adalah daerah yang terkenal dengan sejarahnya dimana Aceh merupakan titik nol peradaban Islam Nusantara. Tidak hanya itu, Aceh juga memainkan peran penting dalam proses penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Aceh memiliki aneka ragam budaya yang menarik khususnya dalam bentuk tarian, kerajinan dan perayaan atau kenduri. Provinsi Aceh Sekarang terdapat delapan sub suku yaitu Suku Aceh, Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Simeulu, Kluet, Singkil, dan Tamiang. Kedelapan sub etnis mempunyai budaya yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Suku Gayo dan Alas merupakan suku yang mendiami dataran tinggi di kawasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.

Suku bangsa yang mendiami Aceh Merupakan keturunan orang-orang Melayu dan Timur tengah, hal ini terjadi karena Islam datang ke Aceh dibawa oleh para saudagar Arab yang kemudian menikah dengan orang Aceh, inilah yang kemudian menjadikan wajah orang Aceh agak sedikit berbeda dengan wajah masyarakat lain di wilayah Nusantara ini. Sebagain besar masyarakat Aceh bermata pencaharian sebagai petani, namun tidak sedikit juga masyarakat yang bermata penchari sebagai pedagang dan lain sebagainya.

Dari zaman kerajaan hingga sekarang, Aceh juga terkenal dengan daerah yang menerapkan sistem Syariat Islam, dimana segala struktur pemerintahan dan kehidupan diatur dengan perspektif Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan Hadis, sehingga Aceh dikenal dengan sebutan “Seuramoe meukkah” (Serambi mekkah), hukum-hukum Islam ditegakkan secara kaffah tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Sistem ekonomi, pendidikan dan bahkan politik tak lepas dari nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, masyarakat Aceh hidup dengan penuh berkah dan kesejahteraan.

Masyarakat Aceh sangat bangga dengan identitas Muslim yang mereka anut, segala sesuatu yang mereka lakukan selalu tidak mengesamping ajaran Islam yang dibawa nabi Muhammad tercinta, sehingga adat-istiadat dan tradisi-tradisi budaya yang dilaksanakan di Aceh selalu dibumbui dengan nilai-nilai Islam.

Berikut penulis paparakan beberapa tradisi yang ada di Aceh, dimana dalam tatacara pelaksanaannya, Islamic Velues atau nilai-nilai Islam tercermin di dalamnya:

Peusijuek

Salah satu adat-istiadat yang sangat masyhur di Aceh sekaligus sudah menjadi bagian dari kebudayaan Aceh adalah tradisi Peusijuek atau lebih dikenal dengan tepung tawari. Peusijuek merupakan salah satu upacara tradisional yang merupakan bentuk simbolik dari permohonan keselamatan, ketentraman, kebahagiaan, perestuan dan saling memaafkan. Hampir sebahagian perhelatan yang dilaksanakan di Aceh adanya prosesi upacara peusijuek ini, seperti upacara perkawinan, sunat rasul, peusijuek meulangga (perselisihan), peusijuek pada bijeh (tanam padi),peusijuek rumah baroe (rumah baru), peusijuek peudong rumoh (membangun rumah), peusijuek keurubeuen (hari raya kurban), aqiqah anak, peusijuek kenderaan (roda dua dan empat), peusijuek jak u haji (naik haji), peusijuek puduk batee jeurat (pemasangan batu nisan bagi yang telah meninggal). Peusijuek Juga dilakukan tatkala adanya pergantian seorang pemimpin dari perangkat desa sampai Gubernur, bahkan setiap ada tamu kebesaran daerah juga adanya prosesi upacara peusijuek.

Dalam tata pelaksanaannya masyarakat Aceh memasukkan nuasa Islam kedalamnya, misalnya ketika prosesi peusijuek ini dilakukan, didalamnya dibacakan ayat-ayat Al-qur’an dan Shalawat-shalawat kepada kepada Nabi, sebenarnya peusijuek ini berasal dari kebudayaan hindu, dikarenakan sebelum Islam masuk ke Indonesia mayoritas penduduk Nusantara ini beragama Hindu dan Budha. Oleh karena diasimilasilah kebudayaan Hindu ini oleh pembuka agama Islam di Aceh, kemudian ditambahkan nilai-nilai Islam kedalamnya, yang kemudian menjadikan peusijuk tersebut menjadi salah satu adat-istiadat yang sudah membudaya di Aceh.

Foto: kesbangpol.bandaacehkota.go.id

Meulod Nabi (Peringatan Maulid Nabi Muhammad)

Tradisi berikutnya yang ada di Aceh adalah Meulod Nabi atau upacara peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Uniknya, peringatan Maulid Nabi di Aceh diperingati hampir selama tiga bulan, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang hanya memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW hanya pada tanggal 12 Rabiul Awal saja. Masyarakat Aceh memperingatinya dari bulan Rabiul Awal sampai bulan Jumadil Awal.

Dalam tata pelaksanaan Maulid ini, orang Aceh memeriahkan dengan kesenian Dike atau semacam tarian yang dilakukan dengan menggerakkan badan sesuai dengan irama Shalawat atau Zikir-zikri yang diiramakan dengan berbagai irama yang sangat menarik, tidak hanya itu ceramah-ceramah Maulid akbar juga dilaksanakan dikebanyakan desa di Aceh.

. Dalam upacara ini masyarakat juga mengadakan Khanduri Meulod atau acara kenduri, dimana setiap rumah yang ada disebuah desa di Aceh, mereka menyiapakan hidangan makanan yang nanti dibawa ke meunasah atau Surau untuk kemudian dinikmati bersama oleh masyarakat desa yang melakukan perhelatan ini, tidak hanya itu mereka juga turut mengundang para santri, anak yatim, dan anak kurang mampu dan bahkan juga warga kampung sebelah untuk menikmatikan hidangan khanduri yang telah disiapkan untuk kemudian dimakan dan dinikamti bersama-sama secara Khitmat.

Upacara Peutroen Aneuk (Turun Tanah)

Istilah Peutroen Aneuk ialah menurunkan bayi untuk pertama kali ke tanah, bayi untuk pertama kalinya di keluarkan dari rumah dan juga untuk pertama kalinya bayi menginjakkan kakinya di bumoe Allah(Bumi Allah), sebagaian orang ada juga yang membawa bayi ke luar rumahnya saja, tetapi ada juga yang membawa sibayi ke Masjid kemudian dimadikan oleh tengku atau orang ‘Alim seraya di adakan acara Barzanji yaitu dengan mendendangkan lagu-lagu islam atau nasyid dan pemabacaan Shalawat Nabi dan lantunan Zikir-zikir yang sering kita dengarkan.

Biasanya acara turun tanah ini diadakan setelah bayi berumur tujuh hari. Dalam jangka waktu yang cukup apalagi  bagi anak pertama, sering di adakan acara yang cukup besar dengan memotong kerbau atau lembu. Pada upacara ini bayi di gendong oleh seseorang yang terpandang, baik perangainya dan budi pekertinya. Umumnya, puncak acara peutron aneuk ialah mengadakan Kenduri, dengan mengundang warga desa, kemudian pada malam harinya diadakan tahlil atau samadiah  yang disertai dengan doa kepada Allah SWT supaya bayi tumbuh sehat dan mendapat ridha dari-Nya.

Upacara Adat Perkawinan Aceh

Dalam kebudayaan Masyarakat Aceh perihal adat perkawinan , ada beberapa tahapan yang harus dilewat kedua mempelai sebelum kedua mempelai dinyarakan sah sebagai sepasang Spouse atau Suami-Istri, diantaranya yaitu :

Pertama, Ba Ranup (Tahap Melamar)

Ba Ranup merupakan suatu tradisi turun temurun yang tidak asing lagi dilakukan oleh masyarakat Aceh, saat seorang pria melamar seorang perempuan. Untuk mencarikan jodoh bagi anak lelaki yang sudah dianggap dewasa, maka pihak keluarga akan mengirim seorang yang dirasa bijak dalam berbicara yang di kenal dengan isttilah Seulangke untuk mengurusi peihal perjodohan ini. Jika Seulangke telah mendapatkan gadis yang dimaksud, maka terlebih dahulu ia akan meninjau status sang gadis. Jika belum ada yang tanda atau belum ada yang punya, maka dia akan menyampaikannya maksud melamar gadis tersebut.

Pada hari yang telah disepakati datanglah rombongan orang-orang yang dituakan dari pihak pria ke rumah orangtua sigadis dengan membawa sirih sebagai penguat ikatan berikut isinya. Setelah acara lamaran selesai, pihak pria akan memohon pamit untuk pulang dan keluarga pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai diterima atau tidaknya lamaran tersebut.

 

Kedua, Jak ba Tanda (Tahap Pertungan)

Apabila lamaran diterima oleh sigadis tadi, keluarga dari pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong haba yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan, termasuk menetapkan berapa besar Jeulame (Mahar) yang harus diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang telah dilamar tadi, dan berapa banyak tamu yang akan diundang. Biasanya pada acara ini sekaligus diadakan upacara pertunangan (disebut jakba tanda).

Pada acara ini pihak pria akan mengantarkan berbagai macam makanan khas daerah Aceh,  seperti buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria. Namun, bila ikatan ini putus di tengah jalan disebabkan oleh pihak pria yang memutuskan maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang atau hangus dan menjadi milik keluarga si gadis tersebut. Tetapi apabila penyebabnya adalah dari pihak wanita, maka tanda emas tersebut harus dikembalikan sebesar dua kali lipat.

 

Ketiga, tahap pernikahan

Pada tahapan ini kegiatan pernikan dilakukan seperti biasa, dimana kedua mempelai dinikahkan oleh penghulu, dan hanya mengudang beberapa keluarga inti dan kerabat dekat dari kedua mempelai.

Keempat, Pesta Penikahan

Pesta pernikahan dilakukan setelah melangsungkan pernikahan antara pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan, hal ini suatu tradisi atau kebiasaan yang tidak pernah hilang di dalam kultur budaya  Aceh, pesta penikah ada yang dilangsungkan sekaligus dengan dengan acara penikahan, tidak sedikit juga yang melangsukan pesta pernikahan ini ditahun berikutnya setelah menikah atau dalam waktu lama setelah pernikahan sesuai dengan jadwal yang disepakati  oleh kedua keluarga mempelai.

Ada keunikan tersendiri pada perhelatan pesta pernikan di Aceh, dimana para tamu undangan nantinya akan disambut dengan tari-tarian khas Aceh, biasanya juga ada tardisi yang kini mulai pudar dalam adat Aceh pada posesi pernikahan ini, yaitu tradisi Balah Panton (saling berbalas pantun), jarang sekali di zaman sekarang ini tradisi tersebut kita temukan di pesta pernikan di Aceh, padahal dulu kegiatan balah panton tersebut sering dilakukan dan menjadi salah satu kebudayan terkenal di Aceh, kemudian yang juga menambah keunikan pada prosesi pesta pernikahan ini adalah adanya orang yang membacakan Shalawa Nabi dan Zikir-zikir selama proses pernikahan ini berlangsung, jadi para undangan akan terhibur dengan lantunan shalawat dan zikir-zikir tersebut.

Kelima, Intat Linto

Intat Linto adalah prosesi iring-iringan keluarga pihak laki-laki yang mengantar pengantin laki-laki menuju rumah mempelai perempuan. Diawali kedatangan pengantin laki-laki bersama keluarga, dilanjutkan sambutan keluarga perempuan, biasanya berupa tarian adat dan lantunan shalawat (doa-doa untuk Rasulullah Muhammad SAW) di gerbang kediaman, kemudian pengantin disandingkan di pelaminan. Setelah itu, pengantin dan keluarga dari pihak laki-laki menikmati jamuan makan di hadapan pelaminan, sementara tamu-tamu undangan dijamu terpisah, biasanya di luar rumah.

Keenam, Tueng Dara Baroe

Tueng dara baro intinya sama dengan acara Intat Linto, Tueng Dara Baroe merupakan kunjungan balasan keluarga mempelai perempuan bersama pengantin perempuan ke kediaman mempelai laki-laki. Tuan rumah tueng dara baro adalah keluarga pengantin laki-laki. Garis besarnya sama dengan prosesi intat linto, hanya berbeda tempat pelaksaannya saja.

Demikianlah pemaparan penulis tentang beberapa tradisi dalam kebudayaan Aceh yang senantiasa dilakukan sampai sekarang dan tidak terlepas dari sentuhan nilai-nilai Islam.

Sudah sepatutnya kita sebagai masyarakat Aceh, turut berpartisipasi dalam melestarikan tradisi dan kebudayaan kita, agar Aceh ini menjadi daerah yang unik dan terknal dengan kebudayaan Islaminya, tradisi dan kebudayaan kita ini harus terus kita rawat agar nantinya tidak tergantikan dengan kebudayan asing yang bertolak belakang dengan hukum Islam dan hukum adat yang ada di Aceh tercinta ini. (Penulis adalah mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, FDK UIN Ar-Raniry. Email: samsulancon219635)

Komentar

Indeks Berita