oleh

Abu Ibrahim Woyla, Sufi Aceh yang Dermawan

-Sosok-568 views

ACEHSATU.COM – Abu Ibrahim Woyla adalah ulama sufi kharismatik dari Aceh Barat, ia berasal dari Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Aceh Barat. Abu Ibrahim Woyla bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen diperkirakan lahir tahun 1919M. Dalam pengembaraan kesufiannya, ia mengawali masa belajar kepada salah seorang ulama besar di Blangpidie yang berasal dari Lhoknga yaitu Abu Syech T. Mahmud bin T. Ahmad Lhoknga atau yang dikenal dengan Abu Syech Mud Blangpidie.

Kepada Abu Syech Mud, Abu Ibrahim Woyla belajar lebih kurang dua belas tahun. Selain Abu Ibrahim Woyla, murid Abu Syech Mud lainnya seperti Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy, Abu Calang Muhammad Arsyad, Abu Adnan Mahmud Bakongan, Abuya Jailani Kota Fajar, Syekh Muhammad Bilal Yatim, Abu Jakfar Lailon, Abu Imam Syamsuddin, Abu Ghafar Lhoknga dan para ulama lainnya.

Abu Syech Mud, selain dikenal dengan kealimannya, beliau juga seorang ulama yang memaknai kehidupannya dengan pengamalan ilmu tasauf.

Setelah menyelesaikan pengajian kepada Abu Syech Mud, Abu Ibrahim Woyla juga belajar kepada beberapa ulama lainnya seperti kepada Abu Muhammad Arsyad yang dikenal dengan Abu Calang murid dari Abu Kruengkalee dan Abu Syech Mud. Sedangkan ilmu Tarekat, Abu Ibrahim Woyla memperdalam kepada Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy setelah pulang belajar dari Padang pada era tahun empat puluhan. Setelah belajar kepada beberapa ulama, Abu Ibrahim kemudian mendalami kajian tasauf secara mendalam. Setelah menjadi seorang yang alim, ia mendapat anugerah kewalian.

Tidak terhitung cerita-cerita yang beredar di masyarakat tentang kelebihan dari ulama sufi Abu Ibrahim Woyla. Bahkan al Marhum Gus Dur pernah menyebutkan bahwa Sufi seperti Abu Ibrahim Woyla hanya tinggal satu orang lagi, yaitu di Sudan.

Abu Ibrahim Woyla pernah berjumpa dengan Gusdur, sebagaimana ditulis dalam autobiografi Kiyai Abdurrahman Wahid.

Saya pernah melihat Abu Ibrahim Woyla yang membagi-bagikan uang kepada siapapun yang meminta tanpa terkecuali dan beliau tidak melihat berapa jumlah yang diberikan. Di kesempatan lain juga cerita yang telah jamak diketahui bahwa Abu Ibrahim Woyla mampu menempuh jarak ribuan kilometer dengan waktu yang cepat hanya dengan berjalan kaki.

Namun ada sebuah keistimewaan lainnya, bahwa Abu Ibrahim Woyla sering memberi isyarat terhadap peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi bukan beliau mengetahui yang ghaib, tapi itulah firasat jernih yang diberikan oleh Allah SWT kepada para hamba-hambaNya. Karena Abu Ibrahim Woyla lidah dan hatinya tidak pernah kosong dari mengingat Allah SWT. Beliau sedikit bicara, kalau pun ingin menyampaikan sesuatu hanya dengan sedikit kata-kata dan isyarat sekedar saja. Semasa hidupnya, Abu Ibrahim Woyla telah mengayomi masyarakat dengan munajat dan doanya. Setelah beliau berpulang, hampir tidak pernah terdengar sufi pengembara seperti beliau.

Ada beberapa pelajaran penting dari kehidupan Sufi Aceh tersebut, di antaranya: Abu Ibrahim Woyla mengawali derajat kesufian beliau melalui ilmu dan beliau berguru kepada para ulama. Kedua; sampainya beliau kepada derajat sedemikian rupa dengan mujahadah yang benar, dimana beliau telah menghabiskan banyak waktunya untuk mengembara seraya berzikir mengagungkan asma’ Allah SWT, ketiga; ada sisi kedermawanan pada diri Abu Ibrahim Woyla yang mau memberi kepada siapapun yang meminta. Keempat; beliau tidak lagi cinta kepada dunia.

Karena seorang yang telah sampai pada derajat kasyaf yang hakiki, maka pujian dan cacian bagi mereka sama. Antara batu dan permata bagi mereka tidak berbeda. Kelima; Abu Ibrahim Woyla memiliki kepedulian yang sangat tinggi kepada siapapun tidak melihat kepada unsur ras, golongan dan lain-lain. Bagi beliau semuanya adalah makhluk Allah SWT yang layak dan patut diberikan kasih sayang.

Banyak pelajaran berharga lainnya dari kehidupan Sufi Besar Aceh tersebut. Karena membaca perjalanan hidup Abu Ibrahim Woyla adalah membaca perjalanan sufi-sufi yang kita baca kehidupan mereka seperti dongeng, namun benar adanya. Wallahua’lam.

Abu Ibrahim Woyla wafat pada hari Sabtu, pukul 16.00 WIB, tangga 18 Juli 2009 di rumah anaknya di Pasi Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat dalam usia 90 tahun. [nurkhalis mukhtar el sakandary]

Indeks Berita