Breaking News

49 Menit Tiga Film Aceh Documentary Diputar Kembali di Museum Tsunami Aceh

Film “Bocah Rapai Plok” berhasil menjadi film rekomendasi Juri di Aceh Film Festival 2017

Foto | Istimewa

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Setelah melewati berbagai seleksi masing-masing di ajang Film Dokumenter Jakarta, Jogya maupun Aceh, tiga Film Dokumenter kembali ditayangkan untuk dinikmati publik sineas, Minggu (24/12/2017).

Waktu pemutaran selama 49 (empat puluh sembilan) menit dari ketiga film Dokumenter diputar di Gedung Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh.

Hal tersebut sebagai apresiasi atas karya anak muda Aceh usia pelajar terhadap kemampuan berkesenian bidang film yang membanggakan Aceh di ajang nasional, ungkap Jamaluddin Phonna Direktur AFF kepada ACEHSATU.COM.

Ada film yang berhasil menjadi nominasi maupun pemenang, berikut ini tiga judul film yang segera tayang Minggu malam pukul 20:00 WIB, 24 Desember 2017.

Pertama film dokumenter bertajuk “Senja Geunaseh Sayang” karya: Maulidar dan Astina Ria, durasi: 19 Menit.

Merupakan kisah para lansia yang menghabiskan masa tua di panti jompo, dan kerinduan soerang ibu yang menunggu kehadiran anak sulungya.

Prestasi film “Senja Geunaseh Sayang’ adalah masuk nominasi Film Dokumenter Terbaik di Toraja Film Festival 2017.

Film kedua yang ditayang berjudul “Selimut Panas” karya Nindi Mutiara dan Cut Ulvah, durasi 17 Menit.

Berupa kisah para pengungsi korban Tsunami di Barak Bakoy, yang tidak kunjung dapat bantuan rumah yang menjadi hak mereka.

Film ini masuk nominasi Film Dokumenter Terbaik di Anti Corruption Film Festival 2015 di Jakarta. Serta masuk nominasi Film Dokumenter Pelajar di Festival Film Dokumenter 2015 di Yogyakarta.

Sedangkan film ketiga ditayangkan berjudul “Bocah Rapai Plok” karya Nursalia Ansari B. Durasi 13 Menit.

Film ini menceritakan tentang kisah Munir bersama teman-temannya yang sangat hobi bermain rapa’i.

Akan tetapi orang-orang dewasa di kampungnya tidak mengizinkan mereka untuk bermain rapa’i karena mereka menganggap bahwa anak-anak tersebut masih terlalu kecil untuk bermain rapa’i dan takut mereka akan merusaknya.

Karena hal tersebut, mereka  membuat suatu inovasi baru dengan memanfaatkan barang bekas berupa plok cat (kaleng bekas cat tembok) sebagai alat musik pengganti rapa’i.

Film “Bocah Rapai Plok” berhasil menjadi film rekomendasi Juri di Aceh Film Festival 2017. Masuk nominasi Film Dokumenter Pelajar di Festival Film Dokumenter 2017 di Yogyakarta. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top