3 Pesan Rasulullah untuk Milenial

Kisah penuh hikmah ini diulas kembali oleh Tgk Muhammad Qusai, S.HI ketika menjadi khatib Jumat (19/2) di Masjid Babul Maghfirah Gampong Tanjung Selamat Kecamatan Darussalam Aceh Besar.
Tgk Muhammad Qusai, S. Hi | Foto ACEHSATU

ACEHSATU.COM – Tiga wasiat sederhana dari Rasulullah Shalallahu’alayhi wa salam namun bisa menjadi mutiara hikmah bagi umat Islam terutama para milenial untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang.

Tiga pesan yang mulia Baginda Rasulullah itu disampaikan kepada seorang pemuda yang datang kepadanya meminta nasehat.

Peristiwa ini terjadi di Kota Madinah ketika setelah beliau berhijrah dari Mekah bersama sahabat Abu Bakar Radhiyallahu Anhu

Riwayat tersebut dinukilkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu Anhu dalam sebuah hadits di dalam kitab Musnad Imam Ahmad rahimahullah dan Sunan Ibnu Mâjah rahimahullah.

Beliau berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: ”Nasihatilah aku dan persingkatlah!” dalam riwayat lain disebutkan: “ Ajarilah aku dan persingkatlah!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasalam bersabda:

“Jika kamu hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah seperti shalat orang yang berpamitan dan janganlah mengatakan sesuatu yang akan membuatmu beralasan darinya dan berputus asa lah terhadap apa yang ada di tangan manusia.” (Hadist riwayat Ahmad, no. 23498), Ibnu Mâjah, no. 4171. Lihat as-Shahâhah, no. 401).

Kisah penuh hikmah ini diulas kembali oleh Tgk Muhammad Qusai, S.HI ketika menjadi khatib Jumat (19/2) di Masjid Babul Maghfirah Gampong Tanjung Selamat Kecamatan Darussalam Aceh Besar.

Dalam tausiyahnya Muhammad Qusai menguraikan satu per satu wasiat Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari.

Pesan penting pertama yang harus menjadi perhatian kita adalah perkara shalat.

“Lakukanlah setiap shalat yang dikerjakan seakan itu adalah shalat kita yang terakhir”, urai Qusai.

Apabila seseorang shalat dengan mengingat shalatnya itu sebagai shalat terakhir dan merasa tidak akan pernah shalat lagi, maka dia akan bersungguh-sunguh mengerjakannya, memperbagus pelaksanaannya dan melakukan ruku, sujud atau kewajiban dan sunnah-sunnah shalat lainnya dengan seksama.

Orang tersebut akan melakukan shalat secara sempurna dan menghadirkan kekhusyukan dalam gerak-geriknya. Ia akan ikhlas beribadah semata mengharapkan ridha Allah SWT.

Dengan melakukan shalat secara sempurna maka ibadah nya akan diterima oleh Allah dan akan mencegah pula ia dari perbuatan keji dan mungkar.

Pesan penting kedua yaitu berkata-katalah yang membuatmu tidak perlu meminta maaf dikemudian hari.

Ini maksudnya adalah agar setiap orang wajib menjaga lisannya dari menyakiti orang lain.

Bahkan jika tidak mampu berkata yang baik maka lebih baik diam.

Perlu diketahui ketahui bahwa efek negatif dari bahaya lisan sangat berdampak luas. Apalagi jika efeknya kepada banyak orang.

Jika sudah demikian kemana dan kepada siapa harus meminta maaf atas dosa lisan yang telah diperbuat.

Konon hari ini, dengan kemajuan teknologi, komunikasi lisan berpindah pada komunikasi jari.

Hari ini setiap bisa mengetik, menuliskan, di gawai, laptop dan men-share apa saja dengan mudah melalui media sosial.

Bayangkan jika tulisannya, ketikannya, dan yang di forward itu menyinggung perasaan orang lain yang membacanya yang ia tidak tahu. Maka bagaimanakah ia harus meminta maaf.

Oleh sebab itu Tgk Muhammad Qusai mengingatkan agar kita tidak terlalu mudah menuliskan, mengetik, dan mem-forward sesuatu sebelum berpikir lebih dahulu apa akibat yang akan timbul.

Pesan ketiga adalah janganlah menggantungkan harapan kepada manusia.

Menggantungkan harapan kepada manusia selain akan akan membuat yang berharap mengalami kekecewaan juga sifat itu tergolong syirik karena bergantung kepada selain Allah SWT.

Teguhkan hatimu, berazam dan bertekad untuk tidak berharap dari semua milik orang lain. Sehingga tidak berharap sesuatu dengan bersandar kepada mereka, namun berharaplah hanya pada Allâh Azza wa Jalla semata. (*)