20 Tahun Menghilang, Isak Tangis Sambut Kepulangan Mantan Kombatan GAM

ACEHSATU.COMIsak tangis keluarga menambah suasana haru menyambut kepulangan Anwar yang akrab disapa Wan Jawie (38), mantan kombatan GAM setelah hilang sejak 20 tahun lalu. 

Begitu tiba di Desa Paya Dua, Kecamatan Peudawa, Aceh Timur, Kamis malam, Wan Jawie bersama istri dan anaknya langsung dipeluk sanak saudara. 

Suasana haru bahagian terlihat saat mereka melihat Wan Jawie masih hidup. Padahal, terakhir kali mereka menerima informasi Wan Jawie ditangkap aparat keamanan dua dekade silam.

Anggota DPRA Iskandar Usman Al-Farlaky yang mengantar kepulangan sosok yang hilang 20 tahun lalu itu mengatakan Wan Jawie merupakan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Sagoe Sweden Wilayah Pereulak, Aceh Timur.

Iskandar Usman mengatakan Wan Jawie ketika itu ditangkap sekelompok aparat keamanan yang disebut dari satuan marinir, mengepung kamp gerilyawan GAM di Teupin Kruet, Desa Beusa Baroh, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur, pada 2001.

Setelah pengepungan kamp GAM tersebut, Wan Jawie dinyatakan hilang tanpa jejak. Pihak keluarga ketika itu berharap Wan Jawie masih hidup, namun para gerilyawan GAM yang selamat ketika itu menganggap Wan Jawie mustahil selamat karena ketika itu dia ditembak dari depan dan sempat terjatuh ke sungai.

Ternyata, saat itu Wan Jawie selamat dan tidak satu pun peluru mengenai tubuhnya. Setelah terjatuh ke sungai, Wan Jawie ditangkap dan ditahan di sebuah posko aparat keamanan di Kota Langsa. 

Kemudian, Wan Jawie dibawa ke Pulau Jawa dan menjalani masa penahanan. Awalnya ditahan dalam sel, kemudian dikeluarkan dari sel, tapi tetap seperti tahanan.

Wan Jawie akhirnya dibebaskan setelah penandatanganan damai MoU antara GAM dan Pemerintah RI di Helsinki, 15 Agustus 2005. Setelah menghirup udara bebas, Wan Jawie tetap bertahan di Pulau Jawa.

Wan Jawie akhirnya menikah dengan seorang gadis dari ibu kantin di dalam kompleks aparat keamanan pada 2007 dan dianugerahi tiga orang anak.

Wan Jawie mengaku dirinya tidak bisa membaca dan menulis. Namun istrinya bisa menulis dan membaca. Akhirnya melalui sepucuk surat yang dikirim ke desa di Aceh Timur.

Namun, Iskandar Usman Alfarlaky mengatakan surat pertama dan kedua yang dikirim tersebut tidak pernah sampai. Barulah surat ketiga sampai dan dibaca keluarga.

“Dua kali dikirimkan surat tidak pernah sampai. Tapi ketiga kalinya baru surat itu diterima pihak keluarga akhirnya keberadaan Wan Jawie diketahui. Surat itu dikirimkan melalui sopir truk dan dititipkan di SPBU Peudawa,”kata Iskandar Usman Alfarlaky.

Kabar itu membuat mantan kombatan GAM di Wilayah Peureulak, tersentak. Bahkan pihak keluarga juga terkejut mendapatkan kabar Wan Jawie masih hidup di Pulau Jawa.

“Setelah mendapat kabar ini, kami memfasilitasi pemulangan mantan GAM ini dari Pulau Jawa ke Aceh Timur,” kata Iskandar Usman Alfarlaky.

Setelah menempuh perjalanan darat dari Medan ke Aceh Timur selama enam jam, lalu iring-iringan mobil itu masuk menelusuri jalan desa menuju ke rumah orang tua Wan Jawie di Desa Paya Dua, Kecamatan Peudawa.

Setelah 20 tahun menghilang, Wan Jawie kembali berkumpul bersama orang tua dan nenek serta teman-teman seperjuangan. (*)