Budaya dan Seni

191 Siswa Modal Bangsa Arun Deklarasikan Gerakan Pelajar Peduli Sejarah Aceh

PELISA dibutuhkan. Mereka menjadi ujung tombak dalam tugas menjaga kelestarian warisan budaya, dan karenanya mereka perlu diperlengkapi dengan berbagai bekal dalam membangkitkan “Kepedulian pemuda dalam menjaga warisan budaya

ACEHSATU.COM | LHOKSEUMAWE – Sebanyak 191 Siswa Sekolah Modal Bangsa Aron Kota Lhokseumawe mendeklarasikan gerakan Pelajar Peduli Sejarah Aceh (PELISA) di Kota Lhokseumawe, Sabtu (4/11/2018).

Zulfikar, salah satu dewan guru dan juga Pembina PELISA SMA Modal Bangsa Arun mengatakan, PELISA hadir sebagai wujud kepedulian generasi muda Aceh untuk mencintai dan peduli sejarah Aceh.

BACA JUGA: SMAN 5 Lhokseumawe Pelopor Sejarah di Aceh

PELISA hadir juga sebagai pelopor sejarah bagi generasi muda Aceh, PELISA juga merupakan generasi penerus bagi generasi muda Aceh untuk terus memperhatikan sejarah dan mencintai sejarah Aceh.

PELISA hadir sebagai penyambung tangan dari kegiatan LSM MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan CISAH (Center for Information of Samudra Pasai Heritage)

Zulfikar menambahkan, MAPESA dan CISAH merupakan organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat yang di dalamnya terdiri dari berbagai kelompok masyarakat yang peduli Sejarah Aceh bergabung dalam satu wadah organisasi CISAH dan MAPESA.

Sedangkan PELISA juga merupakan sama dengan MAPESA dan CISAH, namun ruang lingkup PELISA ialah untuk kalangan pelajar untuk mendidik generasi muda Aceh untuk terus mencintai sejarah Aceh melalui gerakan PELISA (Gerakan Pelajar Peduli Sejarah Aceh).

Sementara itu, Almuzalir pendiri gerakan PELISA di Aceh menambahkan, Dalam arus budaya global yang semakin deras menerpa berbagai aspek kehidupan masyarakat Aceh, tergurusnya warisan budaya serta nilai-nilainya bukan lagi bayang-bayang tapi telah menjadi kenyataan yang tidak mungkin ditampik.

Akibat yang paling celaka kemudian adalah pudarnya kepribadian dan jati diri sebuah bangsa. Padahal, Aceh merupakan salah satu daerah yang memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia telah melalui masa sejarahnya yang panjang, dan identitasnya telah terbentuk sejak ratusan tahun yang silam. Identitas itu pun telah melahirkan khazanah kebudayaan yang kaya, yang tidak mungkin dibiarkan tergusur bersama arus budaya global.

Menjaga warisan budaya baik yang bendawi (tangible) maupun non bendawi (intangible) sejatinya adalah untuk mempertahankan kepribadian dan jati diri tersebut. Namun persoalan tidak akan semudah memperkatakannya. Ini dikarenakan budaya global memiliki segala sarana dan perangkat  dalam penyebarannya serta seluruh kemampuan untuk meyakinkan bahwa dialah yang paling relevan untuk masa kini dan masa depan.

Disinilah PELISA dibutuhkan. Mereka menjadi ujung tombak dalam tugas menjaga kelestarian warisan budaya, dan karenanya mereka perlu diperlengkapi dengan berbagai bekal dalam membangkitkan “Kepedulian pemuda dalam menjaga warisan budaya.

Almuzalir berharap, PELISA dapat berkembang di seluruh Aceh, serta untuk setiap kepala dinas, kepala sekolah dapat membentuk organisasi gerakan peduli sejarah Aceh (PELISA).

Besar harapan kita untuk seluruh sekolah di Aceh bisa mencontohkan niat mulia yang telah dilakukan oleh SMA Negeri 5 Lhokseumawe.

Untuk diketahui, PELISA dibentuk pertama sekalinya di SMA Negeri 5 Lhokseumawe dengan sebagai cikal bakal pelopor sejarah Aceh yang telah diakui oleh MAPESA dan CISAH.

PELISA didirikan di SMA 5 Lhokseumawe pada tanggal 21 Desember 2014. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top